JOGLOSEMAR.CO Daerah Jogja Kesehatan Bayi Berkepala 2 Memburuk

Kesehatan Bayi Berkepala 2 Memburuk

370
BAGIKAN

Jantung bayi tersebut bisa dikatakan berjumlah dua, namun kondisinya menyatu.

Bayi berkepala dua
Bayi berkepala dua

JOGJA– Kondisi bayi dengan dua kepala, dan satu badan asal Cilacap, Jawa Tengah, yang saat ini tengah dirawat di RSUP Dr Sardjito, kian hari kian memburuk. Kondisi tersebut dipicu akibat jantung sang bayi yang menempel dan abnormal.

Ketua Tim Dokter, dr Ekawati Lutfiah H MPH SpA(K) menjelasakan sejak dirujuk ke RSUP Dr Sardjito, pada Kamis (28/7) lalu, kondisi bayi memang lemah. Menangis, merintih, dan memiliki tanda-tanda infeksi umum.

“Karenanya, penanganan awal kami ialah memberi alat bantu pernapasan, berupa nasal kanul, dan pipa nutrisi dari mulut sampai lambung. Sejak saat itu, kondisi bayi kian melemah. Sehingga, mereka mengganti alat pernapasan dengan nasal sipef yang kemudian harus diganti lagi dengan nasal IMV, “ jelasnya.

Lebih lanjut, dia menuturkan, hingga saat ini bayi pasangan Usman dan Munjiah tersebut, telah menjalani pemeriksaan laboratorium, foto rontgen, dan echocardiography.  Diakuinya, pemeriksaan lebih lanjut belum dapat dilakukan. Karena, bayi berjenis kelamin laki-laki tersebut, dalam kondisi tidak tranportable, sehingga belum dapat dipindahkan dari ruang perawatan intensif khusus bayi.

Anggota Tim Dokter, dr Sasmito Nugroho SpA(K) yakni ahli kardiologi anak menuturkan, setelah dilakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kondisi jantung sang bayi melalui metode USG, diketahui kondisi jantung memang abnormal. Jantung bayi tersebut bisa dikatakan berjumlah dua, namun kondisinya menyatu.

“Secara detail, jantung bayi hanya memiliki satu serambi jantung dengan ukuran yang cukup besar. Sedangkan untuk bilik jantung, bayi ini memang memiliki empat ruang bilik. Namun, sayangnya bilik kiri kepala bayi kanan dan bilik kanan kepala bayi kiri berukuran kecil dan saling tersambung. Kami menemukan adanya lubang penyambung pada kedua bilik,” jelasnya.

Tak hanya dua bilik, ketersambungan organ pada jantung bayi tersebut diakui Sasmito juga terjadi pada pembuluh vena balik atas dan bawah jantung. Begitu pula dengan pembuluh aortanya, namun hingga kini pihaknya belum menemukan titik penghubung untuk pembuluh darah bersih ini. Kondisi tersebut jelas menjadi kondisi pemberat bagi kesehatan sang bayi berusia enam hari tersebut.

“Yang menjadi masalah, ialah pembuluh darah yang menghubungkan jantung dengan paru-paru ukurannya sangat besar. Sedangkan pembuluh darah dari jantung ke seluruh tubuh sangat kecil,” terangnya.

Dengan kondisi bilik jantung yang juga kecil, ada kemungkinan tidak mampu memompa darah ke seluruh tubuh dengan cepat. Hal ini bisa mengakibatkan darah mengumpul di paru-paru, belum lagi kondisi serambi yang hanya satu. Sehingga, darah kotor dan bersih bercampur. Okezone