73 Telaga dan Waduk Mulai Mengering

73 Telaga dan Waduk Mulai Mengering

557

Krisis Air Bersih di Tiga Daerah

Kondisi di salah satu telaga di Desa Tlogosari, Kecamatan Giritontro pada kemarau lalu (foto yang satunya). Joglosemar | Eko Sudarsono
Kondisi di
salah satu telaga di Desa Tlogosari, Kecamatan Giritontro pada kemarau
lalu (foto yang satunya). Joglosemar | Eko Sudarsono

WONOGIRI-Sebanyak 73 dari total 97 telaga dan waduk yang ada di Wonogiri mulai mengering. Meski masih ada air dalam jumlah sedikit, sudah tidak layak konsumsi lantaran kondisi telaga mulai berlumut. Sementara itu, di wilayah Sukoharjo terdapat empat dukuh di Kecamatan Weru rawan kekeringan.

Kepala Dinas Pengairan Energi dan Sumber Daya Mineral, Arso Utoro melalui Kabid Pengairan Djuwarso mengatakan kondisi tersebut sesuai dengan data per 27 Agustus 2013 dari sejumlah kecamatan yang memiliki waduk dan telaga di Wonogiri.

“Total ada 20 waduk dan 77 telaga di Wonogiri. Dari 20 waduk, sebanyak 13 sudah kering dan hanya tujuh yang masih ada airnya. Untuk telaga dari total 77 telaga, sebanyak 60 telaga telah mulai mengering dan yang masih ada airnya tinggal 17 telaga,” ujar, Djuwarso Rabu (28/8).

Tujuh waduk yang masih ada airnya,  empat berada di Kecamatan Eromoko, serta masing-masing satu di Kecamatan Batuwarno, Giriwoyo, dan Selogiri. Untuk telaga yang masih ada airnya empat di Kecamatan Paranggupito, tiga di Giritontro, delapan di Pracimantoro, serta masing-masing satu di Batuwarno dan Baturetno.

“Meski begitu, diperkirakan dalam dua Minggu lagi air yang sekarang masih ada di sejumlah waduk dan telaga itu juga sudah akan mulai mengering. Kondisi air saat ini warnanya hijau karena banyak tumbuh ganggang dan lumut. Kebanyakan memang hanya untuk MCK dan minum ternak,” jelasnya.

Baca Juga :  Dalam Sepuluh Tahun, 47 Persen Mata Air di Eks Karesidenan Surakarta Hilang

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK), Widodo mengatakan secara umum air dari telaga masih bisa diminum asalkan dimasak terlebih dulu. Dan warna hijau di air bukan pada air langsung, tapi karena lumut yang tumbuh di sekitar telaga.

“Kalau air bening, yang nampak keruh dan hijau lumut di  bawah. Masak hingga mendidih dan aman untuk diminum, asalkan memang tidak ada sumber polusi di telaga itu,” jelas dia.

Salah satu warga Desa Tlogosari, Kecamatan Giritontro, Seman mengatakan air telaga di wilayahnya sudah ada yang mengering namun juga masih ada yang berair.

Sementara itu, di wilayah Sukoharjo sedikitnya terdapat lima desa di Kecamatan Weru yakni Desa Karangmojo, Alas Ombo, Tawang, Jatingarang dan Ngreco yang masuk kategori rawan kekeringan. Khusus Desa Karangmojo, ada lima dukuh yang sudah mulai kesulitan mendapatkan air bersih.

Lima dukuh di Desa Karangmojo Kecamatan Weru itu tersebar di Gunung Butak, Ngadisari, Putuk, Semak, dan Kalisonggo. Data pihak desa menyebutkan ada 400 kepala keluarga (KK) yang kemungkinan mengalami kekeringan yang sudah mulai dirasakan semenjak lebaran.

“Dari lima dukuh yang rawan kekeringan Dukuh Kalisonggo sudah di-droping air bersih dari PDAM Tirta Makmur Sukoharjo mulai hari ini (kemarin),” kata Sekretaris Desa Karangmojo, Sudarsono, Rabu (28/8).

Ia menjelaskan, lima dukuh itu sudah menjadi langganan kekeringan. Namun, ancaman ini semakin mendekati seiring ada sejumlah warga yang punya hajat. Guna mendapatkan air bersih, warga berduyun-duyun mengambil air di Sendang Duren Desa Alas Ombo Kecamatan Weru. “Jaraknya cukup jauh sekitar tiga kilometer dari dukuh mereka,” teragnya.

Baca Juga :  Koramil Pracimantoro Bangun Kamar Mandi untuk Warga Kurang Mampu

Di Solo, krisis air bersih mengancam warga Kecamatan Jebres Solo akibat musim kemarau. Daerah krisis air tersebut masuk masuk zona merah rawan krisis air bersih, yakni Kelurahan Jebres, Mojosongo, dan Pucangsawit.

Camat Jebres Sri Wirasti mengatakan, pihaknya mengintensifkan upaya inventarisasi titik-titik rawan kekeringan dari tiga wilayah kelurahan. Sementara tahun lalu, pihaknya menyetujui pemberian bantuan air bersih di Mojosongo.

Hingga kemarin, ia mengatakan belum menerima adanya permintaan bantuan air bersih dari warga.

“Kalau keluhan terkait buruknya kualitas air sudah sering diungkapkan ke pihak kelurahan. Soal permintaan dropping air belum ada. Kalau ada kewenangan dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) dan PDAM,” jelasnya.

Menurut Sri, saat ini tim kecamatan diterjunkan untuk mendata titik seret air di wilayah 11 kelurahan di Kecamatan Jebres, termasuk tiga kelurahan zona merah krisis air. Dengan total jumlah penduduk di kecamatan ini mencapai 146.000 jiwa, kekeringan kemungkinan berdampak bagi sebagian kecil penduduk.

“Tiga kelurahan yang sering kekeringan memiliki jumlah penduduk tidak sampai separuh total penduduk di Jebres. Jika muncul kekeringan, biasanya di wilayah bantaran seperti Pucangsawit dan Mojosongo,” terangnya. Eko Sudarsono|Murniati| Farrah Ikha Riptayani

BAGIKAN