JOGLOSEMAR.CO Daerah Boyolali Antisipasi Kekeringan, 44 Sumur Resapan Dibangun

Antisipasi Kekeringan, 44 Sumur Resapan Dibangun

293

Upaya ini diharapkan juga dapat mengantisipasi kekeringan di musim kemarau, khususnya di daerah yang rawan terjadi bencana kekeringan.

ilustrasi
ilustrasi

BOYOLALI- Mengantisipasi bencana kekeringan, Pemkab Boyolali melalui Badan Lingkungan Hidup (BLH) Boyolali tahun ini sudah membangun sedikitnya 44 buah sumur resapan di sejumlah wilayah rawan kekeringan.
Demikian diungkapkan Qowim Suroso, Kabid Pengendalian, Pencemaran, dan Perusakan Lingkungan BLH Boyolali, Jumat (30/8). Menurut Qowim, sebanyak 44 sumur resapan tersebut dibangun tersebar di sejumlah kecamatan, di antaranya yakni Kecamatan Cepogo, Musuk, dan Selo. “Sebanyak 44 sumur resapan yang kami bangun untuk kelestarian sumber daya air sekaligus untuk antisipasi kekeringan di musim kemarau,” terang Qowim.
Diharapkan dengan dibangunnya sumur resapan tersebut, dapat menahan air hujan agar tidak langsung hilang ke selokan atau sungai. Sehingga kandungan air dalam tanah juga dapat selalu terjaga karena air dapat terserap ke dalam tanah dan tidak hilang begitu saja .Upaya ini diharapkan juga dapat mengantisipasi kekeringan di musim kemarau, khususnya di daerah yang rawan terjadi bencana kekeringan.
Ke depan, BLH akan meneruskan program pembuatan sumur resapan ini. Sehingga di kemudian hari jumlah sumur resapan akan semakin banyak dan kelestarian air dalam tanah dapat terjaga. Pembuatan sumur resapan itu sendiri sudah mulai dilakukan BLH sejak tahun 2012 kemarin. Saat itu BLH juga membangun sebanyak 44 sumur resapan. Dijelaskannya, pembuatan sumur resapan tersebut terutama dilakukan di wilayah lereng Gunung Merapi dan Merbabu. “Harapan kami agar nantinya lambat laun daerah yang rawan kekeringan terutama di daerah lereng Merapi Merbabu dapat diantisipasi,” jelas dia.
Selain pembuatan sumur resapan yang diprakarsai oleh Pemkab melalui BLH, sejumlah kelompok masyarakat yang memiliki kepedulian juga berbuat sama, salah satunya yakni masyarakat Musuk dan Cepogo. Mereka  juga  sudah membuat sumur resapan secara swadaya.
Atas inisiatif warga ini, Qowim menyatakan sangat mengapresiasi lantaran hal itu menunjukkan kesadaran masyarakat akan tanggung jawab menjaga kelestarian sumber daya air sudah cukup tinggi. Meski demikian, Qowim juga menghimbu agar masyarakat meminimalkan tertutupnya akses air hujan ke dalam tanah. Qowim mencontohkan, setidaknya hal itu dapat dilakukan dengan tidak memplester halaman rumah seluruhnya dengan semen. “Lebih baik dengan pavingisasi karena air hujan tetap dapat meresap ke dalam tanah,” papar dia.
Selain upaya pembuatan sumur resapan, tidak kalah pentingnya menurut Qowim yakni upaya penghijauan dengan penanaman pohon. Langkah penghijauan di antaranya yakni dengan menanam pohon beringin, manggis, maupun pohon preh di kawasan lereng Merapi. Tanaman tersebut diyakini dapat menyimpan air ke dalam tanah. Terpisah, menyikapi bencana kekeringan yang mulai dialami warga Boyolali, Nuryadi, Kasubag Sosial dan  Keagamaan Bagian Kesra Setda Boyolali mengatakan hingga saat ini belum ada permintaan dropping air bersih ke Pemkab. “Kami siap droping, tetapi hingga kini belum ada permohonan dari masyarakat,” imbuh dia. Ario Bhawono

BAGIKAN