BAKDA KUPAT : Pedagang Selongsong Ketupat Kebanjiran Order

BAKDA KUPAT : Pedagang Selongsong Ketupat Kebanjiran Order

319
DAPAT BERKAH - Pedagang selongsong ketupat tengah menata dagangannya di Pasar Klaten Kota, Selasa (13/8). Tradisi bakda kupat mendatangkan berkah bagi pedagang lantaran banyaknya order. Joglosemar/Angga Purnama
DAPAT BERKAH – Pedagang selongsong ketupat tengah menata dagangannya di Pasar Klaten Kota, Selasa (13/8). Tradisi bakda kupat mendatangkan berkah bagi pedagang lantaran banyaknya order. Joglosemar/Angga Purnama

Hari raya Idul Fitri atau Lebaran identik dengan ketupat atau kupat. Momen tersebut membawa berkah tersendiri bagi pedagang selongsong ketupat.  Tradisi kupatan atau bakda kupat sering digelar masyarakat pada saat Lebaran hingga tujuh hari setelah Lebaran. Biasanya tradisi tersebut seringkali bersamaan dengan tradisi syawalan.

Bagi sebagian masyarakat  merayakan Lebaran dengan menggelar kendurian ketupat.  Maka tak heran jika banyak masyarakat yang mencari dan membeli selongsong ketupat. Terlebih sehari menjelang puncak bakda kupat, Selasa (13/4) pedagang ketupat di berbagai pasar tradisional di Klaten diserbu warga yang ingin membuat sayur opor dengan ketupat. “Biasanya sehari sebelum bakda kupat banyak warga yang membeli. Bahkan sehari bisa laku hingga 200 sampai 500 biji,” ujar salah satu pedagang ketupat di Pasar Klaten Kota itu, Jini (58), Selasa (13/4).
Untuk setiap satu selongsong ketupat dijual Rp 500 dan biasanya pembeli membeli selongsong ketupat antara lima hingga 10 ketupat. ”Sejak kemarin saya sudah berjualan disini dan lumaya ramai,” jelasnya.
Bahkan pedagang seringkali kewalahan melayani pesanan dari pembeli. Terkadang banyak selongsong ketupat yang baru selesai dibuat langsung diborong pembeli. “Ada juga pembeli yang memesannya sehari sebelum Lebaran dan diambil pada H+6. Pesanan bisa mencapai 1000-an biji,” kata warga Karangnongko itu.
Jini mengatakan untuk mendapatkan bahan baku ketupat ini cukup mudah karena di kampungnya masih banyak terdapat pelepah kelapa muda. “Satu pelepah saya beli Rp 4.000 hingga Rp 10.000, namun harus memanjat pohon kelapa sendiri,” tutur Jini.  Untuk satu pelepah daun muda jika beruntung bisa untuk membuat 100-an ketupat. “Ya kalau daun kelapanya bagus kita untung, namun kalau ada yang rusak atau dimakan serangga kita rugi,” kata Jini.
Hal yang sama juga disampaikan Tentrem, pedagang selongsong ketupat di Pasar Delanggu mengatakan, dirinya berdagang selongsong ketupat hanya setiap akan berlangsung Lebaran. Ia mengaku memanfaatkan momen Lebaran untuk mendapatkan hasil tambah dengan berjualan selongsong ketupat. “Setiap Lebaran biasanya ramai orang cari ketupat. Hasilnya lumayan karena bawa banyak selalu habis,” ungkapnya.
Menurut Tentrem Lebaran kali ini sama ramainya dengan Lebaran tahun kemarin. Bahkan  tahun ini dia meminta bantuan anaknya untuk membuat selongsong ketupat karena banyaknya pesanan. “Sehari saya bisa menjual 200-an ketupat,” tambah dia.  Angga Purnama

Baca Juga :  SRITEX TUMBUH MENDUNIA : Satu Panggung untuk Keragaman Bangsa
BAGIKAN