JOGLOSEMAR.CO Pendidikan Akademia Bersiap Masuk Perguruan Tinggi

Bersiap Masuk Perguruan Tinggi

310
BAGIKAN

“Pelan-pelan saya akan belajar hidup mandiri, rasa cemas ada tapi selalu berusaha berpikir positif.”
Prihatin Poncowati
Calon Mahasiswa UNS

ilustrsi
ilustrsi

Bergulirnya waktu, membuat manusia semakin bertambah usia dan tua. Manusia pun terus memasuki fase kehidupan, termasuk dalam jenjang pendidikan. Tidak ada rasa puas dalam mencari ilmu akademi, hal inilah yang selalu ditanamkan oleh orangtua modern saat ini. ‎​Usai menjalani Sekolah Menengah Atas (SMA) sebisa mungkin melanjutkan ke Perguruan Tinggi (PT). Pola pembelajaran, pergaulan, dan pola pikir antara SMA dengan PT tentunya sudah berbeda.

Prihatin Poncowati, salah satu lulusan SMA Negeri 1 Nguter ini akan masuk melanjutkan masa studi di PT Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Dia tampak senang karena dia akan segera melepas baju putih abu-abunya. “Belum tahu kuliah itu bagaimana sepertinya saya harus banyak beradaptasi dengan lingkungan baru,” ungkapnya kepada Joglosemar, Kamis (1/8).

Selain persiapan untuk berkuliah, dia pun tak lupa menyiapkan mentalnya. Selama ini, dia selalu berdoa dan berusaha untuk menjaga sikap. Persiapan lain yang dia hadapi yakni tempat tinggal yang biasanya dengan orangtua, kini dia harus belajar mandiri dengan indekos. “Pelan-pelan saya akan belajar hidup mandiri, rasa cemas ada tapi selalu berusaha berpikir positif,” lanjut wanita yang akan masuk pada jurusan D3 Penyiaran UNS ini.

Sementara itu, Psikolog Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Drs Soleh Amini Yahman MSi, Psi mengungkapkan masuk dunia baru di PT akan ada dua kemungkinan secara psikologi, yakni senang dan cemas. Senang karena memasuki dunia baru dan cemas yang bisa diakibatkan oleh faktor tidak percaya diri (PD). Tidak PD bisa muncul karena merasa dirinya pas-pasan dan berhadapan dengan orang baru yang dianggap lebih dalam segala hal. Mahasiswa baru yang tidak PD inilah yang seharusnya dibantu.

“Mereka mahasiswa baru ini harus dibantu karena jika terus tidak PD mereka akan gagal. Modal mahasiswa baru tidak hanya berani saja tapi perlu PD. PD berbeda dengan berani. Kalau PD itu berani yang disertai dengan perhitungan,” jelasnya.

Bantuan kepada mahasiswa baru ini bisa dilakukan saat Masa Orientasi Mahasiswa (MOS). MOS bukanlah ajang untuk menggojlok mental tapi justru ajang untuk menumbuhkan rasa PD. Sony sapaan akrab Soleh Amini Yahman menjelaskan bahwa adanya MOS harus dimanfaatkan betul oleh mahasiswa agar tidak salah dalam bergaul. Menurutnya ada tiga kategori mahasiswa, yakni mahasiswa akademik yang hanya kutu buku dan hanya mementingkan kuliah, mahasiswa sosial yakni yang bisa memadukan akademik dan sosialnya, mahasiswa oportunis yang datang ke kampus hanya sekadar datang daripada tidak. “Lewat MOS mahasiswa baru harus bisa membidik dengan siapa dia akan bergaul,” lanjut pria yang juga menjabat sebagai Pembantu Dekan III di Jurusan Psikologi UMS ini.

 

Rumah Kedua

Berbeda dengan dunia sekolah yang memiliki jam pelajaran runtut, dunia kampus jam kuliah tidak runtut dan bahkan bisa sore atau malam masih ada jam kuliah. Mahasiswa baru harus bisa menyesuaikan hal ini, mereka harus menjadikan kampus sebagai rumah kedua. Mereka harus tetap pergi ke kampus meskipun tidak ada jam kuliah. Waktu inilah yang bisa mereka manfaatkan untuk ke perpustakaan atau untuk berorganisasi.

Perlu adaptasi atau penyesuaian selama tiga bulan awal bagi mahasiswa baru. Tiga bulan pertama menurut Sony adalah masa yang berat bagi mahasiswa baru apalagi mereka harus berpisah dengan orang tuanya dan hidup untuk mencukupi diri mereka sendiri. “Oleh karenanya komunikasi harus tetap ada dengan orangtua. Baik lewat telepon atau SMS,” katanya.  Rahayu Astrini