JOGLOSEMAR.CO Daerah Karanganyar BOCAH PENDERITA KELAINAN GINJAL: Tak Mampu Berjalan, Sekolah Pun Hanya Tinggal Impian

BOCAH PENDERITA KELAINAN GINJAL: Tak Mampu Berjalan, Sekolah Pun Hanya Tinggal Impian

285
BAGIKAN

Sepintas, sosok Catur Setiawan (10), bocah asal Dusun Tapan RT 2 RW IX, Desa Sepanjang, Kecamatan Tawangmangu terlihat normal. Ia seperti tidak memiliki kelainan saat duduk bermain bersama teman-teman sebayanya. Tapi ternyata, ia tidak mampu berjalan karena menderita kelainan ginjal.

DIPANGKU IBU—Catur Setiawan (10) dipangku ibunya, Narni karena tidak bisa berjalan akibat menderita kelainan ginjal. Muhammad Ikhsan
DIPANGKU IBU—Catur Setiawan (10) dipangku ibunya, Narni karena tidak bisa berjalan akibat menderita kelainan ginjal. Muhammad Ikhsan

Dengan duduk dipangku ibunya, Catur hanya bisa memandangi teman-teman sebayanya yang bermain dengan berlarian. Sesekali ia berusaha belajar berjalan dengan dibantu ibunya, tapi selalu tidak bisa. Catur tidak bisa berjalan normal sejak berusia empat tahun. Anak keempat dari pasangan Maridi (55) dan Narni (45) ini sebelumnya lahir dalam kondisi normal. Tanda-tanda ketidaknormalan Catur baru dirasakan oleh kedua orangtuanya saat baru berusia 40 hari.

“Jadi saat Catur berusia 40 hari, tiba-tiba saja pipis terus. Jika sudah selesai pipis, tetesannya masih terus keluar,” ungkap Narni saat ditemui di kediamannya.

Tapi kala itu keluarga belum mengambil tindakan apapun. Catur yang diketahui lahir 16 Juli 2003, baru bisa berjalan ketika menginjak usia 17 bulan. Tapi di usia dua tahun, kemampuan berjalannya malah menurun. Bentuk kakinya juga mulai berubah yakni sedikit melengkung ke dalam. “Dan pas berumur empat tahun Catur tidak bisa berjalan sama sekali hingga sekarang,” ungkap Narni.

Seketika itu Catur kemudian dibawa oleh kedua orangtuanya ke RS Dr Moewardi Solo untuk mendapatkan pengobatan. Dari diagnosa dokter diketahui jika Catur menderita kelainan ginjal yang berakibat pada penyakit komplikasi hingga menyebabkan kakinya lumpuh. “Saat dibawa ke Moewardi, dirawat inap selama satu bulan kemudian dilanjutkan rawat jalan hingga sembilan bulan. Kalau saat ini untuk berjalan masih berat kakinya, kalau bisa pun merambat,” jelas Narni.

Ayah Catur, Maridi menambahkan dirinya bersama keluarga kesulitan dalam hal pembiayaan pengobatan. Meskipun Catur telah terdaftar sebagai peserta Jamkesmas, namun biaya yang ditanggung Jamkesmas hanya selama pemeriksaan dan penanganan oleh dokter. “Untuk obat kami beli sendiri di apotek. Kami biasanya urunan dengan anggota keluarga lainnya,” ungkap Maridi yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh tani.

Akibat kondisi fisik Catur, berimbas pada pendidikan formal yang seharusnya didapat oleh anak tersebut. Hingga berusia 10 tahun ini, bocah malang tersebut tidak juga mengenyam bangku sekolah formal. “Dulu saat TK, Catur selalu digendong untuk dapat sekolah. Namun karena tak kunjung sembuh, sekolahnya pun tidak dilanjutkan,” ungkap Maridi.

Keinginan agar anaknya sembuh selalu muncul dari lubuk hati yang paling dalam kedua orangtua Catur. Sang ayah, Maridi pun berharap agar anaknya dapat segera sembuh sehingga dapat berjalan dan bermain eperti anak-anak pada umumnya. “Saya ingin melihat Catur bisa berjalan, bisa berlari seperti teman-temannya. Kami juga pengin dia sekolah lagi,” pungkasnya. Muhammad Ikhsan