JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Bupati Sragen: Dokter Galak Diancam Dipindah ke Ruang Jenazah

Bupati Sragen: Dokter Galak Diancam Dipindah ke Ruang Jenazah

537
Agus Fatchur Rahman Bupati Sragen
Agus Fatchur Rahman
Bupati Sragen

SRAGEN—Bupati Sragen, Agus Fatchur Rahman kembali mengingatkan petugas medis mulai dari dokter, perawat, dan bidan untuk selalu mengedepankan pelayanan yang ramah dan mengesankan kepada pasien. Tidak hanya itu, mereka juga diminta untuk meninggalkan perangai galak atau kasar saat melayani pasien, utamanya pasien dari kalangan miskin.

Hal itu disampaikan Bupati saat memberikan pengarahan kepada ratusan pendidik di wilayah Kecamatan Sambirejo dalam acara halalbihalal di halaman SMPN 1 Sambirejo, kemarin. Menurut Bupati, ketika bidan, perawat, dan dokter sudah menjadi pilihan profesi, mestinya hal itu juga dihayati dan dijalani dengan niat tulus melayani pasien sebaik-baiknya.

Orang nomor satu di jajaran Pemkab Sragen ini mengaku prihatin jika masih ada dokter, perawat, atau bidan yang melayani pasien dengan galak, kasar, dan mahal senyum. Padahal, menurutnya, keramahan dan pelayanan baik akan memberi dampak psikologis yang diyakini bisa mempercepat kesembuhan pasien. Oleh karenanya, pihaknya sudah meminta manajemen RSUD di Sragen untuk memberikan sanksi jika masih ada petugas medis yang galak.

“Makanya setiap saya ke RSUD, saya selalu pesan sama Pak Farid (Direktur RSUD) kalau masih ada dokter atau perawat yang galak, sebaiknya dipindahkan saja jadi penjaga ruang jenazah agar tidak berhadapan dengan pasien sakit. Orang itu ketika sakit mesti penginnya ditangani dengan ramah dan senyum,” ujar Bupati.

Wakil Direktur Bidang Mutu RSUD dr Soehadi Prijonagoro Sragen, Pursito, tidak menampik jika ada satu dua dokter yang memang terkadang masih berperangai galak saat menghadapi pasien. Biasanya sifat galak dokter seperti itu lebih karena faktor karakter atau pembawaan yang butuh proses untuk membenahinya. Namun demikian, menurutnya, tidak jarang pula perangai kasar dokter itu muncul untuk tujuan menertibkan pasien agar lebih disiplin.

“Kami nggak memungkiri hal itu dan malah senang ketika ada kritik agar semua juga berbenah. Makanya kami juga selalu tekankan semua dokter dan perawat untuk selalu koreksi diri dan mengedepankan senyum dan ramah kepada pasien. Kalau pasiennya terutama yang menengah ke bawah, sebenarnya nggak banyak menuntut, tapi kadang malah pihak ketiga yang entah ada kepentingan apa lalu memancing situasi, sehingga membuat dokter atau perawat terpaksa bersikap tegas,” tandasnya. Wardoyo

BAGIKAN