JOGLOSEMAR.CO Daerah Klaten Candi Plaosan Pikat Perhatian UNESCO

Candi Plaosan Pikat Perhatian UNESCO

580
BAGIKAN

KENALKAN CAGAR BUDAYA INDONESIA

KUNJUNGI SITUS - Aktivis UNESCO mengunjungi situs Candi Plaosan di Desa Bugisan Kecamatan Prambanan, Senin (26/8). Mereka tertarik terhadap pelestarian situs cagar budaya. Joglosemar|Angga Purnama
KUNJUNGI SITUS – Aktivis UNESCO mengunjungi situs Candi Plaosan di Desa Bugisan Kecamatan Prambanan, Senin (26/8). Mereka tertarik terhadap pelestarian situs cagar budaya. Joglosemar|Angga Purnama

Senin (26/8) pagi, kompleks Candi Plaosan yang berada di Dukuh Plaosan Desa Bugisan Kecamatan Klaten nampak ramai dengan keberadaan belasan orang aktivis. Mereka nampak sibuk mengamati bentuk dan relief pada dinding candi.

Sesekali, mereka nampak serius mendengarkan penjelasan dari petugas pengawas situs Candi Plaosan. Sebagian begitu antusias melakukan observasi candi peninggalan kerajaan Budha itu. Mereka adalah aktivis world heritage dari United Nation Education Scientific And Cultural Organization (UNESCO).

Ivan salah satunya. Pemuda asal Spanyol itu mengatakan dirinya begitu tertarik pada arsitektur bangunan candi. Meski ini merupakan kali pertama kunjungannya ke Indonesia dan pertama kalinya ia melihat candi dari Indonesia, ia merasa Candi Plaosan begitu istimewa.

Menurutnya, arsitektur Candi Plaosan merupakan gabungan antara kebudayaan Hindu dan Budha. Keistimewaan tersebut tidak dimiliki candi-candi Budha lainnya. “Berbeda dengan candi dan kuil yang ada di Thailand yang nampak khas agama Budha-nya, Plaosan memiliki keistimewaan berupa akulturasi budaya antara Hindu dan Budha,” ungkapnya kepada Joglosemar.

Menurutnya, keistimewaan yang dimiliki Candi Plaosan sudah sepantasnya dirawat dan dipublikasikan kepada internasional. “Jika dikemas secara baik, situs ini sangat istimewa dan menarik minat wisatawan,” papar Ivan. Ia berharap pemerintah Indonesia mampu melestarikan peninggalan budaya yang besar tersebut.

Kunjungan 17 aktivis dari delapan negara, di antaranya Spanyol, Italia, Korea, Jepang, Indonesia, Taiwan, Cina, Perancis, merupakan rangkaian tour yang diadakan oleh De Javato Foundation, sebuah organisasi folentir UNESCO di Indonesia. Menurut Leader De Javato Foundation, Bayu Ajie Oktavianto, tujuan tour tersebut adalah mempresentasikan cagar budaya yang dimiliki Indonesia yang belum terpublikasikan di kanca international dan bekerja sama dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Propinsi Jawa Tengah. “Candi Plaosan sengaja kami pilih karena sebagai candi yang memiliki keunikan belum terkemas secara baik di kanca internasional,” jelasnya.

Selain mengamati sejarah dan arsitektur candi, para aktivis akan bergabung dalam penyusunan ulang bangunan candi. Ia menjelaskan, melalui kegiatan ini pihaknya berharap publikasi terhadap situs ini akan terkemas baik. “Sehingga ke depannya, situs Candi Plaosan akan semakin dikenal dunia. Karena selama ini yang dikenal hanya Candi Prambanan dan Borobudur saja,” jelasnya.

Sementara itu, Staf Publikasi BPCB Jateng, Putu Danang Jaya, mengatakan pihaknya menyambut baik upaya tersebut. Menurutnya, kegiatan tersebut sangat membantu publikasi Candi Plaosan yang selama ini tidak sepopuler Candi Prambanan dan Candi Borobudur. “Pada prinsipnya kami sangat mendukung. Karena meski memiliki keistimewaan namun masih belum sepopuler Candi Prambanan dan Borobudur,” tandasnya. Angga Purnama