JOGLOSEMAR.CO Daerah Karanganyar Cuaca Tak Jelas, Dinkes Waspadai DBD dan Chikungunya

Cuaca Tak Jelas, Dinkes Waspadai DBD dan Chikungunya

240
ilustrasi
ilustrasi

KARANGANYAR—Perubahan cuaca yang tidak pasti diprediksi bisa berdampak pada mudahnya penyebaran penyakit. Selain infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), Dinas Kesehatan (Dinkes) Karanganyar mengimbau agar masyarakat mewaspadai merebaknya penyakit demam berdarah dengue (DBD) dan chikungunya. Di Karanganyar sendiri terdapat lima kecamatan yang masuk sebagai daerah endemik DBD.

“Cuaca seperti saat ini yang rawan menyerang adalah penyakit ISPA dan infeksi pencernaan (diare). Tetapi ancaman DBD dan chikungunya juga dimungkinkan semakin meluas,” kata Kepala Dinkes Karanganyar, Cucuk Heru Kusumo, Rabu (14/8).

Dijelaskannya, perubahan musim yang tidak menentu ini diyakini bisa berdampak pada semakin cepatnya perkembangan jentik nyamuk. Lebih parahnya, dalam perkembangannya jentik-jentik nyamuk mampu bertahan meski sudah dilakukan pemberantasan.

Dari data yang dimiliki Dinkes, jumlah penderita DBD untuk tahun ini mengalami peningkatan signifikan, yakni mencapai lebih dari 200 persen. “Untuk tahun ini jumlahnya sekitar 300-an penderita, sedangkan untuk tahun lalu tidak lebih dari 100 orang. Tetapi dari jumlah tersebut tidak ada yang meninggal,” ungkapnya.

Cucuk menambahkan, di Kabupaten Karanganyar terdapat lima kecamatan yang masuk sebagai daerah endemik DBD antara lain Karanganyar Kota, Jaten, Tasikmadu, Colomadu, dan Gondangrejo. Terus bertambahnya daerah endemik ini, menurut Cucuk, karena mudahnya nyamuk-nyamuk tersebut berkembang biak. “Penyebaran nyamuknya sangat cepat,” paparnya.

Untuk saat ini Dinkes sudah berupaya meminimalisasi penyebaran jentik nyamuk, mulai dari pengasapan, pemberian bubuk Abate, hingga sosialisasi pemberantasan sarang nyamuk.

Meski begitu, menurut Cucuk, masih terdapat sejumlah kendala seperti adanya bak penampungan air yang tidak terurus. “Repotnya itu kalau ada rumah yang ditinggalkan penghuninya, tapi di dalamnya ada bak penampungan air. Kita mau mengobati bagaimana, wong kita tidak bisa masuk,” ujarnya. Ari Purnomo

BAGIKAN