Depan Masjid Agung Mulai Disekat

Depan Masjid Agung Mulai Disekat

277
SUDAH DIBERI SEKAT--Sejumlah warga menikmati jajanan tradisional yang dijual pedagang yang menempati pendopo yang terdapat di lahan parkir Pasar Klewer di depan Masjid Agung Surakarta, Kamis (22/8). Pendopo tersebut kini telah diberi sekat. Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo
SUDAH DIBERI SEKAT–Sejumlah warga menikmati jajanan tradisional yang dijual pedagang yang menempati pendopo yang terdapat di lahan parkir Pasar Klewer di depan Masjid Agung Surakarta, Kamis (22/8). Pendopo tersebut kini telah diberi sekat. Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo

PASAR KLIWON Pendapa lahan parkir depan Masjid Agung Surakarta mulai disekat.  Sejumlah pedagang yang selama ini berjualan di pinggir jalan pun mulai pindah di lokasi baru tersebut.

Ketua Eksekutif Lembaga Hukum Keraton Kasunanan Surakarta, KP Eddy Wirabhumi mengatakan penyekatan sudha dimulai Rabu (21/8). “Tapi baru pakai pagar dari bambu. Itu hanya sementara dan bisa dibongkar pasang. Ke depan akan pakai dari tembaga,” ujar Eddy saat ditemui di pendapa lahan parkir Pasar Klewer, Kamis (22/8).

Menurutnya, keberadaan pedagang sudah lama di tempat itu dan sangat menimbulkan kesemrawutan. Dengan adanya penyekatan, diharapkan kawasan menjadi lebih teratur dan tidak menimbulkan kemacetan di jalan depan Pasar Klewer.

Ia mencontohkan, adanya pedagang tengkleng yang berjualan di dekat gapura Pasar Klewer telah menimbulkan kemacetan. Hal itu karena pembeli banyak memarkir kendaraannya di sana. “Sekarang mereka kami pindah ke sini dan mereka pun cukup senang. pengunjung pun bisa duduk santai menikmati hidangannya, jadi terlihat rapi dan tidak semrawut. Gapura depan Pasar Klewer jadi bersih dan tidak macet lagi,” papar dia.

Baca Juga :  Proyek Kabel Bawah Tanah PLN Area Solo Ditarget Kelar Tahun Ini

Ia memaparkan, kondisi pendapa depan Masjid Agung yang sekitarnya digunakan sebagai lokasi parkir itu, semula cukup parah. Lalu pihak keraton melakukan perawatan dan menertibkan pedagang. “Jadi kurangnya kami di mana? Silakan jika ada pihak yang tidak sepakat dan tidak setuju. Namun yang jelas kami menurut kaidah-kaidah yang dipertimbangkan ya jalan terus,” tegas Eddy.

Di sisi lain, ia meluruskan pernyataan Walikota Surakarta, FX Hadi Rudyatmo mengenai pembentukan Badan Pengelola Keraton. Menurutnya, yang benar ialah Badan Pengelola Kawasan. Di mana unsur badan tersebut dari keraton, Pemkot maupun perwakilan pedagang  kawasan Pasar Cinderamata.

Baca Juga :  Perbaikan Loji Gandrung, Rumdin Walikota Solo, Telan Rp 2,3 Miliar

Tapi selama ini badan tersebut tidak dibentuk karena menurutnya Pemkot tidak mau. “Ini harusnya badan pengelola kawasan itu ada tapi kenyataannya malah tidak mau. Jadi itu tidak hanya di Cindermata saja tapi juga kios keris di sebelah timur alun-alun,” imbuh dia.

Jika ini toleransinya habis, keraton tak segan-segan akan menertibkan seluruhnya. Tapi dengan pendekatan kemanusiaan dan tidak ngawur, baik dari sisi arkeologisnya dan sosial kemasyarakatannya. “Keraton akan tunjukan jika bisa melakukan dengan baik. Secepatnya akan kami tertibkan keseluruhannya,” kata dia.

Salah satu pedagang, Sugiarti (44) mengaku senang dengan adanya penyekatan kawasan itu. Sehingga ia tidak lagi berjualan di pinggir jalan. “Untuk bayarnya belum tahu, kalau dulu itu hanya bayar parkir mobil saja Rp 30.000 per hari,” ungkapnya. Ari Welianto

BAGIKAN