JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Dewan Adat Dinilai Hanya Ormas, Raja Akui Dobrak Pintu

Dewan Adat Dinilai Hanya Ormas, Raja Akui Dobrak Pintu

359
BAGIKAN
MENJEBOL PINTU--Sebuah mobil jip digunakan untuk menjebol pintu Sasono Putro saat berlangsung keributan di Keraton Kasunanan Surakarta, Senin (26/8) malam. Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo
MENJEBOL PINTU–Sebuah mobil jip digunakan untuk menjebol pintu Sasono Putro saat berlangsung keributan di Keraton Kasunanan Surakarta, Senin (26/8) malam. Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo

SOLO- Raja Keraton Surakarta, Sinuhun Paku Buwono (PB) XIII Hangabehi mengakui dirinyalah yang memerintahkan warga untuk mendobrak pintu Sasanoputro dengan mobil, Senin (26/8) malam. Ia beralasan, kemarin dirinya dalam kondisi tertekan, mengalami gangguan kesehatan, serta tidak ada suplai makanan lantaran semua akses tertutup rapat.

“Saya yang memerintahkan. Tidak bisa ngomong, tidak bisa maem, mawut,” terang Sinuhun dalam jumpa pres di depan Sasonoputro, Selasa (27/8). Jumpa pers itu digelar sekaligus untuk menunjukkan kepada publik bahwa kondisi Sinuhun baik-baik saja sehingga tidak ada alasan bagi Dewan Adat untuk mengambil alih kewenangannya.

Lebih lanjut Sinuhun mengatakan, saat terjadi peristiwa kemarin dirinya merasa terancam. Selain terkurung selama 12 jam di kediamannya di Sasonoputro, selama itu pula ia tak mendapatkan suplai makanan.

Mengenai acara halal bihalal yang akan digelarnya, dirinya ingin agar adik-adiknya dan anggota keluarga semuanya berkumpul dan saling memaafkan. Pertimbangannya, untuk mulai mewujudkan keraton yang lebih baik, maka harus diawali dengan cara yang baik pula.

Sinuhun memilik Sasonomulyo sebagai tempat untuk acara halal bihalal, lantaran dulu PB XII juga pernah melakukan hal yang sama di tempat itu. Namun ternyata acara itu hanya tinggal rencana karena ada penolakan dari kubu GKR Koes Moertiyah sehingga acara dipindahkan. Meski begitu, ternyata sebelum acara dimulai, telah berkumpul massa dalam jumlah yang besar. “Di mana ada yang bawa pedang. Orang saya, pembantu saya dan semua di-antemi, ditendang, ditabrak. Bahkan ada juga yang leher abdi dalem yang dikalungi pedang,” urai sosok berkacamata ini.

Meski begitu, ia mempersilakan jika adik-adiknya ingin bertemu. Tapi syaratnya, harus  dengan cara yang baik tidak seperti kemarin yang berteriak-teriak kasar. “Saget kok mau ketemu saya,” imbuhnya.

Di tempat yang sama, Juru Bicara KGPH Tedjowulan, KRH Bambang Pradotonagoro menambahkan, Sinuhun sendiri telah meminta agar pintu Sasonoputro dibuka, namun tetap saja tidak diizinkan. “Beliau sendiri sudah meminta secara maksimal agar pintu itu dibuka dengan baik-baik tapi tetap tidak mau. Akhirnya berinisiatif untuk mendobraknya,” ungkapnya.

Dari pantauan Joglosemar, mobil jeep yang digunakan untuk menabrak pintu Sasonoputro masih tetap melenggang di kawasan keraton.

Bambang menandaskan, kondisi Sinuhun saat ini baik-baik saja sehingga kewenangan dan tanggung jawabnya tidak perlu diambil alih oleh Dewan Adat. “Beliau kan masih sehat. Lembaga adat itu apa, itu kan Ormas yang hanya terdaftar dalam Kesbangpol karena dari PB II sampai PB XII tidak pernah ada. Bahkan Sinuhun pun tidak mengakui itu, jadi tidak sah,” tegasnya.

Terpisah, Ketua Eksekutif Lembaga Hukum Keraton Kasunanan Surakarta, KP Eddy Wirabhumi  menyatakan tidak ada penyanderaan Sinuhun. “Tidak ada penyanderaan Sinuhun. Malahan pintunya itu dikunci dari dalam bukan dari luar, kami malah ingin ketemu Sinuhun pun tidak bisa,” tandas suami GKR Koes Moertiyah ini.

Polisi Masih Berjaga

Sementara sehari pascabentrokan, keraton dalam kembali kondusif. Hanya saja, masih terlihat beberapa aparat kepolisian yang memakai seragam dinas maupun tidak masih berjaga-jaga di depan Kori Kamandungan, bahkan empat truk keamanan terparkir. Sejumlah personel TNI juga terlihat berjaga.

Aktivitas masyarakat pun kembali normal, bahkan akses menuju Baluwarti pun lancar. Kondisi ini berbeda jika dibandingkan, Senin (26/8) kemarin, dimana suasananya cukup mencekam dan membuat warga khawatir. Beberapa pedagang yang sebelumnya sengaja libur, kemarin kembali berjualan.

Kondisi pintu Sasonoputro yang rusak dan jebol lantaran ditabrak mobil, untuk sementara waktu ditutup menggunakan terpal berwarna hijau tua. Juru bicara KGPH Tedjowulan, KRH Bambang Pradotonagoro mengatakan pihaknya akan cooling down dahulu agar suasana lebih cair.

“Yang jelas dengan situasi yang kemarin tentu akan berdampak pada spisikis maupun yang lainnya. Maka kita memilih untuk cooling down dulu hingga batas waktu yang tidak ditentukan,” terangnya.

Penyelesaian keraton akan dilakukan secara bertahap. Hal ini mengingat kedua belah pihak masih dalam kondisi emosi, sehingga jika ada pembicaraan justru akan terbawa emosi.

KGPH Tedjowulan menambahkan, dirinya diberi kewenangan dari Sinuhun untuk mengembalikan yang terbaik. “Kalau mau baik semua itu harus tunduk dan patuh kepada Beliau (Sinuhun-red), raja itu berdiri secara vertikal dan keraton itu hanya punya satu pemimpin yaitu Sinuhun. Cooling down itu hasil evaluasi kami setelah kejadian kemarin, wes saiki meneng sik,” imbuh dia.

Secara terpisah, salah satu menantu PB XII, KRMH Satriyo Hadinagara memandang perlu adanya campur tangan pemerintah guna menyelesaikan prahara di keraton. ”Dulu itu pemerintah hanya berbicara secara sepihak dan itu jangan terjadi lagi tapi harus semuanya. Karena itu seakan-akan kami harus mengamini, padahal yang diselesaikan itu tidak jelas,” tutur dia.

Dikatakan, semua itu harus kembali ke khitahnya dan kembali pada aturan adat keraton yang ada. Pelanggaran adat itu tidak bisa diputuskan oleh Sinuhun, bahkan Sinuhun sendiri itu harus tunduk dengan aturan adat. Ari Welianto