JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Dicekoki Obat Penenang, Siswi SMA Diperkosa

Dicekoki Obat Penenang, Siswi SMA Diperkosa

1958
BAGIKAN
ilustrasi
ilustrasi

SRAGEN—Nasib malang menimpa SHT (16), warga Dukuh Temuireng RT 1, Desa Plumbon, Sambungmacan, Sragen. Siswi sebuah SMA di Sragen itu harus menanggung aib setelah digagahi seorang pemuda yang tak lain adalah teman dekatnya, Paidi alias Jefri (32) warga Selorejo Kulon RT 26, Desa Mojokerto, Kedawung, Sragen.

Tragisnya, sebelum disetubuhi korban terlebih dahulu diberi obat penenang. Dalam kondisi setengah sadar, pelaku kemudian menggarapnya di rumahnya Mojokerto, Kedawung.

Aksi biadab pelaku itu terbongkar ketika orangtua korban, Sakimin (62) melapor ke Polres Sragen, Rabu (14/8). Saat melaporkan kejadian itu ke Mapolres, ia datang beserta putrinya.

Dalam laporannya, orangtua korban mengaku tidak terima dengan perbuatan pelaku yang telah menyetubuhi putrinya. Menurut penuturan korban, kejadian perkosaan itu berlangsung pada Kamis (1/8) lalu sekitar pukul 13.00 WIB.

Ceritanya, siang itu pelaku mengirimkan pesan singkat yang intinya mengajak ketemu korban. Korban yang sudah lama mengenal pelaku, tanpa curiga mengiyakan ajakan itu. Pemuda pengangguran itu kemudian menjemput korban di dekat Tugu Mahbang, Plumbon, Sambungmacan.

Dengan sepeda motor, pelaku kemudian mengajak korban keliling Sragen dan singgah di kawasan Sragen Technopark. Di lokasi ini, korban sempat diberi minuman yang diduga sudah dicampur obat perangsang. Setelah itu, pelaku membawa korban ke rumahnya di Selorejo, Kedawung yang siang itu kebetulan tengah kosong.

Di rumah itulah, pelaku menggagahi korban hingga berkali-kali. Korban yang di bawah pengaruh obat penenang hanya bisa pasrah. Setelah puas, pelaku kemudian mengantar korban pulang ke rumahnya. Sesampai di rumah, orangtua korban curiga dengan kondisi putrinya yang lusuh dan murung. Setelah didesak, ia baru mengaku jika telah diperdaya oleh pelaku.

Kapolres Sragen AKBP Dhani Hernando melalui Kasubag Humas AKP Sri Wahyuni mengatakan saat ini kasus tersebut masih dalam penyidikan dan pelaku sudah diamankan di Mapolres. “Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, pelaku bakal dijerat pasal 82 UU RI No 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman penjara paling lama 15 tahun,” ujarnya. Wardoyo