Dino Patti, Tokoh Pertama yang Diuji Demokrat

Dino Patti, Tokoh Pertama yang Diuji Demokrat

178

bendera demokratJAKARTA—Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat, mulai menggelar uji kelayakan bagi kandidat terpilih. Kandidat pertama yang menjalani wawancara adalah Dino Patti Djalal, duta besar Indonesia untuk Amerika Serikat.

Dino diwawancara Komite Konvensi di Wisma Kodel, Kuningan, Jakarta, Sabtu (24/8). Dia datang bersama istrinya, Rosa Raj Djalal. “Saya merasa terhormat karena menjadi orang pertama yang diwawancarai Komite Konvensi Capres PD,” kata Dino.

Kepada anggota Komite Konvensi Dino menyatakan dia tidak memiliki modal. “Saya adalah kandidat paling tidak bermodal. Akan tetapi, mungkin itulah indahnya Indonesia,” katanya. Ia mengatakan bahwa seorang tentara dari Pacitan (Susilo Bambang Yudhoyono) yang tidak bermodal saja bisa menjadi presiden. “Contoh lainnya, seorang insinyur yang lama di Jerman bisa jadi presiden. Semoga hal tersebut bisa terulang,” kata dia.

Menurut Dino, hasil akhir Pemilu 2014 tidak ditentukan dari seorang yang memiliki uang paling banyak. “Terpenting ialah dia bisa menginsipirasi masyarakat, dapat menangkap aspirasi dan menjelmakannya menjadi kebijakan yang baik,” ujarnya.

Pada bagian lain, Dino menjelaskan alasan ikut dalam Konvensi Capres PD. “Jawaban yang paling utama adalah saya melihat ini sebagai membayar utang kepada generasi saya dan generasi anak saya. Ada Panggilan nurani dan sejarah,” kata Dino.

Baca Juga :  Museum Keris Terlengkap se-Indonesia, Magnet Baru Wisata Kota Solo

Dia mengaku dilahirkan dari keluarga yang nasionalis. Ayahnya adalah diplomat yang seumur hidup memperjuangkan Wawasan Nusantara.  “Saya merasa 2014 ini adalah Pemilu yang historis dan penting bagi perjalanan republik, karena kita akan menjawab pertanyaan apakah 2014 ini setelah melampaui dekade yang sangat penting dalam perjalanan republik ini, apakah kita bisa melakukan regenerasi poilitik dan regenasi kepemimpinan.”

Regenerasi kepemimpinan, menurut Dino, memerlukan pemimpin yang muda. Namun dia harus berpikiran muda, karena pemimpin Indonesia ke depan menghadapi tantangan dunia baru dan karenanya harus mampu memberikan ide baru yang muda dan segar bagi negara.

“Jadi tantangan kita sebagai bangsa dan tantangan para pemimpin apakah bisa setelah 2014 ini menjadi patokan regenerasi politik Indonesia dari segi ide-ide yang akan dihasilkan oleh bangsa,” katanya.

Dino lantas menegaskan dirinya tak mengejar kekuasaan. Dia mengisahkan pengalamannya enam tahun bersama Presiden SBY di kantor presiden. “Saya tahu sekali kerja Presiden dari awal sampai akhir, dari pagi sampai malam. Protokolnya, fasilitasnya, gajinya dan kesibukannya. Jadi saya tahu apa itu power dan kekuasaan dan saya tidak silau akan kekuasaan. Saya tidak berambisi gelap mata harus jadi presiden. Itu nomor dua,” tegas Dino.

Baca Juga :  Proyek Drainase Kawasan Semanggi Digarap Tahun Depan, Begini Perencanaannya

Terpisah, langkah Menteri Perdagangan Gita Wirjawan ke Konvensi Capres PD berjalan mulus. Gita sudah mendapat tiket ikut Konvensi Capres PD. “Saya ditugaskan memberikan undangan ke Pak Gita Wirjawan dan Sinyo Harry Sarundajang, Gubernur Sulawesi Utara,” kata anggota komite konvensi, Vera Febyanty, Sabtu (24/8).

Vera enggan memberitahu di mana tempat pertemuan terebut. Vera ingin memberikan ruang leluasa bagi tamu undangan untuk memberikan jawaban. “Kami ditugaskan untuk menyampaikan undangan dan menanyakan kesediannya,” katanya.

Komite Konvensi Capres PD sudah memberikan undangan ke Marzuki Alie, Irman Gusman, Endriartono Sutarto, Dino Patti Djalal.  “Ini undangan resmi yang disampaikan oleh Komite Konvensi PD kepada saya. Selama ini saya baru secara informal, tapi dengan undangan ini, jadi sudah resmi,” kata Irman Gusman, Ketua DPD RI.

Dua orang anggota Komite Konvensi PD Didi Irawadi dan Putu Suasta secara langsung menyerahkan surat undangan sebagai peserta konvensi. Irman mengaku merasa mendapatkan kehormatan atas kehadiran anggota Komite Konvensi PD.  Antara | Detik

BAGIKAN