Dosen UNS Ciptakan Alat Penjernih Air

Dosen UNS Ciptakan Alat Penjernih Air

1463

PRANS WATER FILTERPranoto, dosen di Fakultas Matematika dan Ilmu pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta baru saja menyelesaikan program Doktor di almamaternya. Pria kelahiran Banjarmasin 30 Oktober 1954 ini lulus dengan disertasi yang berjudul Pemanfaatan Adsorben Alofan Vulkanik Jawa Teraktivasi Sebagai Penjerap Logam Berat untuk Meningkatkan Kualitas Air Minum di Perkotaan. Tujuan penelitiannya ini adalah untuk mengidentifikasi dan mengkarakterisasi alofan alam pada gunung vulkanik Jawa terutama Wilis, Arjuna, dan Papandayan. Tujuan lain adalah untuk mengetahui kondisi optimum adsorpsi, dan isoterm adsorpsi yang terjadi.

Salah satu jenis polutan yang banyak mendapat perhatian dalam pengelolaan lingkungan adalah logam berat. Pembuangan logam terkontaminasi oleh logam berat ke dalam sumber air bersih menjadi masalah karena ada ion logam berat Cr, Fe, Cd, Cu, Pb dan Mn. Pranoto pun meneliti tentang pemanfaatan alofan (lempung) untuk penjernihan air sungai menjadi air minum. Hasilnya, alofan alam yang telah diaktivasi dapat digunakan sebagai sorben dalam penjerapan ion logam berat berat dari pencemar pada pengolahan air sungai sehingga layak menjadi air minum.

“Awalnya saya ingin meneliti alofan di tujuh gunung di Jawa, tapi akhirnya saya putuskan tiga gunung, yakni Wilis, Papandayan, dan Arjuna. Tiga gunung ini memliki alofan lebih tinggi karena lama sudah tidak beraktivitas atau meletus,” ungakapnya.

Berdasarkan penelitian ini, dia pun mengembangkan model alat penjernihan air secara home industry dengan nama Prans Water Filter (PWF). Alat ini terdiri dari magnet, alofan, karbon aktif, dan exchange resin. Magnet berfungsi menjadikan air bersih tanpa serbuk besi, merkuri, tembaga, zink, dan sebagainya. Alofan berfungsi untuk menjerap ion logam berat. Karbon aktif berfungsi untuk menghilangkan bau dan juga penyerap logam. Sedangkan exchange resin untuk menghilangkan zat besi, mangan dan bahan kimia lain yang mencemari air. “Alat ini bisa digunakan per hari 20 liter dan pernah dicobakan di Sorong Papua dan Pandeglang Banten. Air yang dikeluarkan ini layak untuk diminun,” terangnya.

 

Paten

Sementara itu, dia juga menemukan alat yang bisa digunakan oleh PDAM untuk membuat air sungai menjadi air yang layak konsumsi. Selama ini, PDAM masih menggunakan alat yang konvensional untuk penjernihan masih menggunakan tawas dan kaporit. Alat yang digunakan untuk PDAM terntunya harus berukuran bak besar. Berbeda dengan alat PWF yang menggunakan magnet, untuk alat PDAM diganti dengan penggunakan ijuk.

“Yang penyaringan untuk PDAM ini harus disetel 1 liter per menitnya. Namun, hasilnya belum layak minum masih harus direbus,” lanjutnya. Pranoto, sudah meneliti mengenai alofan ini sejak tahun 2004. Dia semakin serius meneliti sejak studi S3 mulai tahun 2009 hingga 20013. Saat ini, PWF sedang dalam proses pematenan ke Dikti. Rahayu Astrini

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR