Eng Ing Eng, Parodi Kenangan di Kampus Kentingan

Eng Ing Eng, Parodi Kenangan di Kampus Kentingan

332

eng ing engTak jarang alasan seseorang membuat novel, karena ingin mengenang kembali cerita kehidupan yang pernah dialami. Begitu pula dengan Daniel SW, dengan mengambil cerita seputar kehidupanya duduk di bangku perkuliahaan. Ia mengeluarkan novel fiksi parodi, yang berjudul Eng Ing Eng.

Novel perdananya yang memiliki tebal 289 halaman ini menceritakan cupilkan cerita terindah masa waktu perkuliahaanya di kampus ISI Solo di wilayah Kentingan. Cerita menuturkan kisah tentang tiga orang sahabat, yakni Jaduk, Martinus, dan Sibin saat merajut kisah di bangku kuliah.

“Novel ini saya ambil dari tiga tempat yang selalu menjadi persinggahan saya selama kuliah, yakni Wisma Seni, TBJT Solo, dan Teater Jejak. Inspirasi saya menulis pertama kali keluar saat Teater Jejak menampilkan cerita Panglima Perang karya Joko Bibit Santoso,” ujarnya di kawasan Wisma Seni, Rabu (31/7) sore.

Cerita fiksi mengalir dengan gaya-gaya bahasa yang sederhana. Begitu pula tentang kisahnya yang juga sering dialami oleh banyak kalangan. Seperti halnya salah satu cerita yang menjadi bagian kesenangannya, yakni saat ketiga sahabat ini menyukai teman wanita yang sama.

Sayangnya ketiga sahabat ini saling menyembunyikan perasaan. Hingga suatu ketika, secara diam-diam satu persatu ketiga sahabat ini mengunjungi rumah wanita tersebut. Ternyata di saat bersamaan ketiga sahabat itu saling bertemu dan saling malu ketika bertatapan.

Novel yang dilaunching pada Rabu (31/7) kemarin ini, sejatinya bukan keinginan Daniel untuk fokus dalam menulis. Mengingat hobi yang dimiliki adalah fotografi. Tak ayal ia merampungkan bukunya ini selama lima tahun. “Buku ini saya susun hanya saat saya waktu luang saja,” imbuhnya.

Dalam peluncuran novel perdananya ini, dirinya mengaku mencetak sebanyak 250 eksemplar buku. Lebih mengagumkan lagi, sebelum buku ini di launching, separo dari buku ini sudah laku terjual. “Rencana ke depan saya akan membuat sekuel novel, Horotoyo dan Blai. Namun mengenai kapan selesainya belum bisa dipastikan,” tuturnya.  Raditya Erwiyanto

BAGIKAN