JOGLOSEMAR.CO Foto Gelar Aksi Cinta Rupiah hingga Prihatin Harga Tempe Mahal

Gelar Aksi Cinta Rupiah hingga Prihatin Harga Tempe Mahal

714

Melemahnya Rupiah Terhadap Dolar

 CINTA RUPIAH- Muresko menggelar aksi keprihatinan di simpang lima Sukoharjo, Jumat (30/8). Joglosemar|Murniati
CINTA RUPIAH- Muresko menggelar aksi keprihatinan di simpang lima Sukoharjo, Jumat (30/8). Joglosemar|Murniati

Melemahnya uang tukar nilai rupiah terhadap dolar Amerika menimbulkan keprihatinan bagi masyarakat Sukoharjo. Pasalnya, dari nilai tukar awalnya hanya Rp 9.000 per dolar Amerika, kini meroket menjadi Rp 11.300. Kontan saja, masyarakat syok dan mencoba memanfaatkan momentum langka ini.

Krisis moneter 1998 lalu sempat membuat Indonesia terpuruk. Harapannya, tak akan terulang di kemudian hari. Namun, apa mau apa dayanya, kondisi yang serupa justru terjadi di pertengahan 2013 ini.

Hal yang paling membuat masyarakat kaget adalah melambungnya harga kedelai impor. Saat masih normal, bahan baku utama tempe dan tahu itu dipatok dengan harga Rp 7.600 per kilogram. Namun seiring dengan melemahnya nilai tukar rupiah, harganya pun laksana emas, yakni mencapai Rp 8.900 per kilogram. Padahal, untuk memproduksi tempe dan tahu tidak hanya cukup satu atau dua kilogram saja. Para pengusaha tempe tahu memerlukan bahan baku ratusan kilogram. Imbasnya, harga tempe dan tahu di pasaran makin mahal.

Dengan menenteng beberapa lembar kertas bertulis himbauan cinta rupiah, Museum Rekor Sukoharjo bersama sejumlah warga berorasi di bundaran simpang lima Sukoharjo, Jumat (30/8).

“Pemerintah harus bertanggung jawab atas lemahnya nilai tukar rupiah. Kami sebagai rakyat kecil paling merasakan dampaknya. Lihat saja, harga kedelai jadi mahal sehingga tempe dan tahu ikut naik. Perlu diketahui tempe dan tahu merupakan makanan rakyat,” kata warga Sukoharjo, Budi saat menggelar aksi di simpang lima Sukoharjo.

Baginya, tempe dan tahu adalah makanan wajib saban hari. Lantaran harganya naik, dirinya harus sedikit berpuasa untuk menikmatinya. “Sekarang tempe dan tahu menjadi makanan mewah. Kami harap harganya bisa secepatnya turun sehingga masyarakat bisa menikmatinya kembali. Itu yang bisa kami makan karena harga makanan sumber protein lainnya jauh lebih mahal,” katanya.

Sementara itu, koordinator aksi, Antonius Bimo Wijanarko menghimbau kepada masyarakat untuk bersabar melepas dolar yang dimilikinya. Meski nilai tukar dolar Amerika sangatlah tinggi, mempertahankan mata uang sendiri dinilai sebagai langkah ksatria dan bijaksana. “Jangan menjual rupiah hanya untuk uang Rp 11.300. Kita harus mencintai rupiah,” katanya. Murniati

BAGIKAN