Harga Emas Bisa Tertahan Aksi Jual

Harga Emas Bisa Tertahan Aksi Jual

321
ilustrasi
ilustrasi

SOLO- PT Pegadaian memperkirakan, lonjakan harga emas bakal tertahan dengan semakin banyaknya aksi jual emas yang dilakukan masyarakat, selama nilai tukar rupiah melemah sejak sepekan terakhir.

Kepala Cabang Kantor Pegadaian cabang Cokronegaran, Nur Wakhid mengatakan, sampai pekan lalu harga emas perhiasan yang ada di Pegadaian terus beranjak naik. Terakhir, angka kenaikannya melesat tinggi sampai menyentuh Rp 17.000 sejak dua pekan lalu.

“Dan sekarang, harga emas perhiasan di sini telah mencapai Rp 530.000 per gram dari kondisi dua pekan lalu masih sekitar Rp 515.000 per gram,” ujar Wakhid, kepada Joglosemar, Selasa (27/8).

Wakhid lantas memproyeksikan, bahwa naiknya harga emas tidak akan melebihi angka Rp 600.000 per gram pada akhir tahun mendatang. Pasalnya, berdasarkan pengalaman di sektor bisnis jual beli emas harga komoditas tersebut bisa setiap saat tertahan jika aktivitas penjualan emas oleh masyarakat mengalami lonjakan tajam.

Sehingga, Wakhid menilai, ke depan lonjakan harga emas diproyeksikan di luar prediksi pasar dimana semula memperkirakan harga emas bisa meroket sampai lebih dari Rp 600.000 per gram. “Jadi, ketika akhir tahun lonjakan harga emas perhiasan tak lebih dari angka Rp 550.000 per gram,” ujar Wakhid.

Disinggung mengenai indikasi perubahan perilaku masyarakat selama perlemahan Rupiah, Wakhid mengimbau, supaya masyarakat sebaiknya mengalihkan investasinya di sektor jual beli emas perhiasan. Sebab, dia merasa emas saat ini sudah menjadi komoditas primer dimana pergerakan angkanya selalu fluktuatif.

Selain itu, dengan berinvestasi emas memiliki jangka waktu yang cukup panjang. “Jadi emas tidak bisa dijadikan sebagai barang trading atau saham,” ucap Wakhid.

Kali terakhir, harga emas mengalami penurunan pada level terendah yakni kisaran tahun 1980. Namun ada yang membedakan dengan kondisi sekarang. Pada bulan ini, kenaikan harga emas cukup terbantu dengan keterpurukan nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar.  Fariz Fardianto

BAGIKAN