Harga Kedelai di Wonogiri Tembus Rp 9.000

Harga Kedelai di Wonogiri Tembus Rp 9.000

320

Pengrajin Terancam Rugi Besar

Akibat kenaikan kedelai ini, ada yang sudah mengantisipasinya dengan menaikan harga tempe Rp 100 dengan menambah ukuran tempe, Pedagang  kedelai di pasar kota Wonogiri Siti Fatimah.

Harga Kedelai di Wonogiri Tembus Rp 9.000
Harga Kedelai di Wonogiri Tembus Rp 9.000

WONOGIRI-Naiknya harga kedelai impor akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar membuat buat pengaruh besar di Wonogiri. Harga kedelai melambung tinggi dari sebelumnya hanya Rp 8.900 per kilogram, saat ini sudah naik menjadi Rp 9.000 per kilogram .

Dari pantauan Joglosemar dipasar Wonogiri, selama dua tahun terakhir, harga kedelai mengalami kenaikan harga hingga Rp 3.000 per kilogram. Tahun 2011 lalu harga Rp 6.000 hingga Rp 7.000 sudah paling mahal, lalu di 2012 maksimal Rp 8.000, dan tahun ini harga mencapai Rp 9.000 hingga, Minggu (25/8). Harga kedelai dipastikan masih terus berubah seiring masih melemahnya rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

“Dari kalangan produsen kedelai harga kedelai akan terus mengalami kenaikan. Jumat pagi (23/8), harga jual masih Rp 8.800 per kilogram, sore hari sudah Rp 9.000. Saya baru menjual Rp 9.000 per hari Minggu (25/8),” kata Siti Fatimah, salah satu pedagang kedelai di Pasar Kota Wonogiri.

Baca Juga :  Duh, Pemborong Tersengat Listrik, Terpental dan Tewas

Akibat kenaikan ini, dirinya mau tidak mau harus menyesuaikan dengan harga kedelai yang baru . Jika tidak sebagai penjual kedelai akan mengalami kerugian yang cukup besar. Sehingga sangat terpaksa kami ikut menaikan harga jual kedelai. Bahkan, akibat kenaikan kedelai ini, ada yang sudah mengantisipasinya dengan menaikan harga tempe Rp 100 dengan menambah ukuran tempe.

Menurut Siti, semua kedelai di Wonogiri merupakan impor karena kedelaianya berkualitas bagus. Berbeda dengan kedelai lokal kalau dimasak tidak bisa mengembang besar. Atas pertimbangan tersebut sebagai penjual kedelai kami mengikuti permintaan pembeli. Terlebih, kalau jual kedelai lokal sedikit yang mau beli.

Hal sedana diungkapkan pedagang lainnya, Yatmin (36) warga Tukluk, Desa Kerjolor, Kecamatan Ngadirojo. Menurut dia, jika pembeli kedelai dengan ukuran besar, maka harga kedelai per kilogram masih tetap Rp 8.800 dengan berat 50 kilogram masih dijual Rp 8.800 per kilogram, tapi kalau ecer dihargai Rp 9.000 per kilogramnya.

Baca Juga :  Ratusan Mantan Pejuang Peringati Hari Veteran di Istana Parnaraya

Terpisah, Perajin tahu, Yatmin (36) warga Tukluk, Desa Kerjolor, Kecamatan Ngadirojo mengatakan untuk menyiasati kerugian yang cukup besar, kami melakukan strategi dengan cara mengurangi ukuran tahu. Hal ini paling efektif dilakukan dari pada ikut menaikan harga jual tahu per bijinya.

“Mengurangi ukuran sudah banyak dilakukan produsen tahu agar tidak merugi. Pembeli biasanya sudah maklum. Kalau bisa murah lagi, jelas membuat berat untuk perajin rumahan seperti kami. Sejak reformasi membuat tahu, baru dua tahun belakangan ini harga kedelai naiknya cepat,” keluh Yatmi.

Yatmi menambahkan, selain dibebani kenaikan kedelai, kami juga terbebani dengan kenaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) awal Juni lalu. Oleh karena itu, kami berharap ada solusi segera dari pemerintah pusat dan daerah untuk mengembalikan harga kedelai seperti semula. Karena jika tidak ditakutkan produsen tahu dan kedelai banyak berhenti memproduksi dan bahkan bisa mengalami gulung tikar. Eko Sudarsono

BAGIKAN