JOGLOSEMAR.CO Daerah Boyolali Harga Kedelai Meroket, Operasi Pasar Belum Diperlukan

Harga Kedelai Meroket, Operasi Pasar Belum Diperlukan

343

ilustrasi

BOYOLALI –Harga kedelai terus meroket sepekan terakhir, bahkan saat ini dari pantauan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Boyolali di sejumlah pasar tradisional, harga kedelai sudah menyentuh angka Rp 9.000 per kilogram.

Namun meski harga sudah sangat tinggi Haryono, Kepala Disperindag mengatakan pihaknya belum perlu melakukan operasi pasar. Menurutnya operasi pasar baru akan dilakukan bila selama dua bulan berturut-turut harga komoditas tersebut terus naik tidak terkendali.  “Jadi untuk sementara belum ada rencana untuk operasi pasar,” ungkap Haryono, Rabu (28/8).

Meski demikian, menyikapi kenaikan harga kedelai di pasaran yang terus meningkat, pihaknya akan terus melakukan pantauan harga terutama di pasar-pasar tradisional. Ternyata, selain harga kedelai, harga Kebutuhan Pokok Masyarakat (Kepokmas) lainnya juga terjadi kenaikan harga. Dengan adanya kenaikan harga beberapa bahan pokok ini, pihak Disperindag akan melakukan pemantauan di sejumlah pasar tradisional seperti Pasar Sunggingan, Pasar Kota Boyolali, maupun Pengging dua kali dalam seminggu.

Melalui pemantauan tersebut pihaknya baru akan memutuskan perlu tidaknya melakukan operasi pasar.  Haryono mengatakan sejauh ini dari hasil pantauan,  menunjukkan harga kedelai sudah tembus Rp 9.000 per kilogram. Harga ini terpaut jauh dengan harga semula sebelum kenaikan, yang hanya berkisar Rp 7.500 per kilogram.
Terpisah, Bambang Purwadi, Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan (Dispertanbunhut) Boyolali mengungkapkan, kenaikan harga kedelai salah satunya dikarenakan tingginya impor kedelai. Kondisi ini dipicu rendahnya tingkat produksi kedelai lokal, termasuk di Boyolali.
Dijelaskannya, sampai saat ini hasil panen kedelai lokal di wilayah Boyolali belum bisa mencukupi kebutuhan untuk industri kecil tahu dan tempe di Boyolali. Sehingga mayoritas pengrajin tahu tempe, sangat bergantung pada kedelai impor. Sehingga saat dolar naik, otomatis membuat biaya impor meningkat dan berimbas pada mahalnya kedelai.
“Produksi kedelai Boyolali sendiri relatif kecil, tahun 2011 Boyolali hanya mampu panen 2.460 ton, kemudian tahun 2012 meningkat menjadi 4.286 ton, tapi jumlah itu belum cukup,” jelas dia.
Rendahnya tingkat produksi kedelai ini menurut dia, salah satunya akibat minimnya minat petani menanam kedelai. Pasalnya, biaya tanam kedelai dengan harga jual panen ternyata tidak sebanding.
Selain itu proses panen kedelai menurut dia juga membutuhkan waktu dan tahapan yang lama. Ario Bhawono

BAGIKAN