JOGLOSEMAR.CO Daerah Sukoharjo Harga Kedelai Naik, Keuntungan Perajin Mepet

Harga Kedelai Naik, Keuntungan Perajin Mepet

403
NAIK-  Salah seorang pengrajin tahu di Dusun Purwogondo Kelurahan Kartasura sedang memotong tahu, beberapa waktu lalu. Joglosemar|Murniati
NAIK- Salah seorang pengrajin tahu di Dusun Purwogondo Kelurahan Kartasura sedang memotong tahu, beberapa waktu lalu. Joglosemar|Murniati

SUKOHARJO– Mahalnya harga kedelai impor dari Rp7.500 per kilogram menjadi Rp 8.700 per kilogram langsung berimbas pada keuntungan para perajin tahu tempe dan penjualnya. Dampaknya perajin tahu mengurangi produksi tahu untuk menghindari kerugian besar.

Perajin tahu di wilayah Kartasura, Joko Jumari mengaku pihaknya harus benar-benar memutar otak agar omsetnya tidak menurun drastis. Taktik yang dipakai adalah mengurangi produksi tahu sistem harian. Awalnya, Joko bisa memproduksi dua kuintal kedelai, namun karena melambungnya harga salah satu komiditi itu, dirinya menguranginya sebanyak setengah kuintal.

“Saat ini kami hanya memproduksi 1,5 kuintal kedelai saja,” ujar Joko, Senin (26/8).

Dikatakan Joko, fenomena naiknya harga kedelai sudah setiap tahun terjadi. Pengrajin tambah merana saat tidak ada kucuran dana yang bisa membantu para peraji untuk mengatasi masalah ini. Dengan demikian, opsi pengurangan produksi menjadi jalan terbaik bagi perajin tahu. Karena jika harus menaikan harga sudah ditakutkan membuat pembeli kecewa.

Sementara itu, Pedagang Pasar Telukan Grogol, Pariyem (48) yang kulakan tempe tahu di Pasar Legi Solo mengaku tidak bisa berbuat apa-apa karena adanya kenaikan harga. Pasalnya, kenaikan harga bisa dikatakan cukup signifikan. Di sana, harganya naik dari Rp 3.5000 per bungkus menjadi Rp 4.000 per bungkus. Artinya, ada kenaikan hingga Rp500 per bungkusnya.

“Keuntungan saya pun makin berkurang karena harganya sudah naik jor-joran seperti itu. Tapi saya tetap membeli seperti semula,” katanya lagi.

Di tempat yang sama, pedagang tahu lainnya yang biasa berjualan di Pasar Telukan Grogol, Tukiyem mengaku harus menaikkan harga sebesar Rp 500 per bungkus. Hal itu menyesuaikan dengan naiknya harga dari produsen tahu. Jika tidak menaikkannya, dirinya akan menderita kerugian.

“Saya naikkan Rp 500 per bungkus. Pembeli pun mengeluh karena ukurannya justru diperkecil oleh produsen,” katanya. Murniati

BAGIKAN