JOGLOSEMAR.CO Lifestyle Kesehatan Hati-Hati Memakai Krim Pemutih

Hati-Hati Memakai Krim Pemutih

581
BAGIKAN

krimpemutihwajah-comSudah menjadi  pemikiran umum masyarakat di Indonesia, bahwa cantik identik dengan kulit putih dan bersih.  Sehingga untuk bisa tampil cantik, berbagai cara dilakukan wanita demi mendapatkan kulit putih. Mulai dari perawatan rutin ke salon, hingga penggunaan berbagai macam krim pemutih. Tak jarang pula yang tergiur berbagai iming-iming jualan krim yang banyak beredar secara bebas di masyarakat.

Namun, alih-alih mendapatkan wajah yang putih, banyak di antara mereka justru mengalami kerusakan kulit wajah karena penggunaan krim pemutih yang ternyata abal-abal. Dokter umum yang mendalami anti aging, Klinik Benning, Dr. Kristian Sanjaya, M. Biomed (AAM) menjelaskan, saat ini  di masyarakat banyak beredar berbagai macam krim pemutih. Sayangnya, banyak di antara krim tersebut yang disalahgunakan. “Banyaknya krim pemutih abal-abal di masyarakat perlu diwaspadai,” katanya.

Dia menjelaskan, sebenarnya krim pemutih ada tiga macam. Yakni krim pemutih yang berupa obat, cosmeceutical dan krim pemutih yang berupa kosmetik. Krim pemutih yang berupa obat hanya diberikan kepada mereka yang memiliki kelainan kulit, sehingga membutuhkan obat untuk mengatasi kelainan tersebut. Misalnya seseorang yang mengalami malema atau munculnya flek pada wajah, yang biasanya dianggap sebagai penyakit. “Pemutih yang berupa obat ini hanya diberikan oleh dokter dan dengan dosis tertentu. Penggunaan obat pemutih ini harus dengan pengawasan dokter,” terang dia.

Krim pemutih obat ini  biasanya mengandung hydroquinone dengan kadar tertentu yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien. Oleh karena itu, pemberian obat ini harus dilakukan oleh dokter dan diawasi oleh dokter dalam penggunaannya. “karena ini berupa obat tentunya harus di bawah pengawasan oleh dokter, “ ungkapnya.

Krim pemutih berikutnya adalah jenis cosmeceutical. Bahan-bahan yang digunakan untuk  Cosmeceutical adalah bahan-bahan obat yang dicampur sedemikian rupa dan kemudian digunakan sebagai kosmetik. Bahan yang biasanya digunakan antara lain hidroquinon dan kaujic acid, dengan dosis yang tidak sebesar pada krim pemutih jenis obat.  Penggunaan cosmeceutical ini juga harus di bawah pengawasan dokter dan dokter yang menentukan kadarnya. “Cosmeceutical digunakan oleh mereka yang tidak memiliki kelainan pada kulitnya namun ingin memperbaiki penampilannya,” katanya.

Sedangkan krim pemutih jenis kosmetik, inilah yang banyak beredar di pasaran dan dijual secara bebas tanpa pengawasan dari dokter. Bahan-bahan yang digunakan pada krim pemutih jenis kosmetik ini relatif aman diaplikasikan pada kulit. Kosmetik ini digunakan untuk meningkatkan kualitas penampilan kulit. Bahan-bahan yang digunakan dalam krim pemutih kosmetik ini adalah bahan-bahan kosmetik. “Ini yang banyak dijual di mall dan toko-toko kosmetik,” terang dia.

Dia mengungkapkan, dari ketiga jenis krim pemutih tersebut, yang paling sering disalahgunakan adalah jenis krim pemutih cosmeceutical. Bentuk-bentuk penyalahgunaan  cosmeceutical ini antara lain penggunaan yang tidak dengan pengawasan dokter. Krim-krim jenis ini justru banyak beredar bebas di pasaran, salon-salon dan toko-toko online . “salah satu kesalahan yang dilakukan adalah pada kesalahan peredaran,” terang dia.

Penyalahgunaan bentuk lainnya yakni berupa kesalahan dalam dosis. Pada cosmeceutical sering kali ada bahan-bahan obat dengan dosis tinggi bahkan melebihi dosis pada krim obat. Bahkan ada krim-krim yang mengandung hydroquinone lebih dari 5 persen, padahal pada obat maksimal yang boleh digunakan adalah lima persen. “Tentunya ini akan  memberikan dampak tidak baik pada kesehatan kulit penggunanya,” terang dia.

Selain itu Cosmeceutical sering  salah konten dan ingredient-nya. Pada kemasan sosmeceutical  ini seringkali tidak disebutkan bahan-bahan apa saja yang ada di dalamnya dan kadarnya juga tidak disebutkan. Ada pula yang ternyata di dalamnya mengandung bahan berbahaya seperti mercuri. Penggunaan bahan ini akan memberikan hasil bagus di awal, tetapi akan memiliki dampak buruk di kemudian hari. “Mercuri ini pemakaian jangka panjang akan mengendapkan warna di kulit lapisan dalam,” terang dia.

Akibat penyalahgunaan bahan-bahan tersebut, menurut Kristian Sanjaya, pada pemakaian jangka panjang akan memberikan banyak masalah seperti timbulnya Ochronosis. Ochronosis adalah dermatitis yang biasanya disebabkan bahan hydroquinone atau phenol dan akumulasi homogenistik acid pada jaringan ikat kulit. Kondisi ini berupa pengendapan warna yang lebih menetap pada kulit. “Pada jangka panjang ini akan menyebabkan Ochronosis, tentunya ini akan memperburuk penampilan,” terang dia. Tri Sulistiyani