JOGLOSEMAR.CO Daerah Sukoharjo Jamur Obat Ling Zhe Mulai Dibudidaya Warga

Jamur Obat Ling Zhe Mulai Dibudidaya Warga

348

Gelar Potensi Daerah 2013

JAMUR- Jamur yang dibudidayakan di Polokarto dipamerkan di Gelar Potensi Sukoharjo 2013 di gedung Budi Sasono, Sabtu (24/8). Joglosemar|Murniati.
JAMUR- Jamur yang dibudidayakan di Polokarto dipamerkan di Gelar Potensi Sukoharjo 2013 di gedung Budi Sasono, Sabtu (24/8). Joglosemar|Murniati.

SUKOHARJO- Menjadi seorang wirausaha merupakan kebanggaan tersendiri bagi kebanyakan pihak. Tak terkecuali bagi para warga Polokarto yang saat ini cukup lega dengan hasil kerja keras mereka dalam menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Salah satunya adalah Darmo, warga Polokarto yang sudah beberapa tahun belakangan menggeluti usaha budidaya jamur.

Berawal dari tergiurnya potensi pendapatan yang dihasilkan oleh jamur, dirinya pun mengikuti sebuah pelatihan tentang bagaimana menanam dan membudidayakan tanaman yang mengandung banyak protein itu. Hanya saja, apa yang diperolehnya di Karanganyar itu tidak bisa diterapkan di daerah yang beriklim panas seperti di Polokarto. Hal itu terjadi saat Darmo mencoba membudidayakan jamur ling zhe yang terkenal mahal. Mahalnya harga jamur jenis itu juga disesuaikan dengan ketahanan terhadap panas. Ling Zhe hanya bisa bertahan di suhu 18 hingga 20 derajat celcius. Jika di atas itu, jamur harus sesering mungkin disiram.

“Jamur tidsak bisa bertahan di suhu panas. Jamur itu paling cocok ditanam di daerah dingin sepeti di Tawangmangu Karanganyar. Kalau di Polokarto tidak bisa tumbuh maksimal karena bersuhu panas,” kata Darmo saat memaperkan budidaya  jamur di Gelar Potensi Sukoharjo, Sabtu (24/8).

Ia menjelaskan, jamur yang digunakan sebagai obat itu saat ini masih dipertahankan. Apalagi, nilai jualnya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan jamur kuping atau tiram. Harga satu kilogram jamur ling zhe kering dipatok dengan harga Rp 200.000. Tidak hanya itu, tangkainya pun juga bisa menghasilkan rupiah yakni Rp 60.000 per  kilogram. “Jamur itu hanya bisa dipanen sekali saja,” katanya.

Hal itu berbeda dengan jamur tiram dan kuping. Selain harganya rendah yakni Rp 70.000 per kilogram jamur kering dan Rp 11.000 per kilogram basah. “Selain murah, jamur tersebut hanya membutuhkan waktu bisa dipanen tujuh bulan sekali,” ujar dia.

Saat masa panen, dalam seminggu petani bisa menghasilkan dua kuintal jamur dengan harga sekitar Rp 2 juta. Angka yang memang tidak sedikit sehingga dirinya bersama sejumlah warga konsisten membudidayakan jamur. Murniati

BAGIKAN