JOGLOSEMAR.CO Lifestyle Kesehatan Jangan Sampai Jamur Menempel di Kulit

Jangan Sampai Jamur Menempel di Kulit

1316

jamur pada kulitGangguan jamur pada kulit seringkali diabaikan. Akibatnya gangguan kesehatan yang terjadi pada kulit seringkali tidak mengganggu aktivitas kita. Meskipun secara penampilan keberadaan jamur ini tidak mengganggu. Kebanyakan orang baru akan berupaya melakukan pengobatan, ketika gangguan pada kulit dirasakan sudah mengganggu aktivitas. Padahal, jika hal ini sudah terjadi, bisa dikatakan gangguan  yang terjadi pada kulit sudah dalam tingkatan parah.

Dokter Umum Rumah Sakit Islam Yarsis Surakarta, Dr Wulandari Berliani Putri menjelaskan, infeksi jamur pada kulit memang kurang diperhatikan. Apalagi bagi yang tidak begitu mementingkan penampilan. Tetapi, bagi mereka yang selalu memperhatikan penampilan, tentunya kondisi ini akan sangat mengganggu. “Pada umumnya mereka baru akan melakukan pengobatan jika infeksi jamur sudah mengganggu,” katanya. Padahal, jika sudah sampai pada taraf mengganggu, berarti infeksi jamur ini sudah sangat parah.

Dikatakannya, sebenarnya ada beberapa jenis jamur yang kerap kali menginfeksi kulit manusia. Di Indonesia dengan iklim tropis jenis jamur yang sering menginfeksi kulit manusia antara lain dermatophyta. Jamur ini adalah  biang penyakit dermatopytosis atau biasa disebut sebagai penyakit kurap. “Jamur yang sering menginfeksi di Indonesia adalah dermatophyta, jamur ini yang menyebabkan penyakit kurap,” katanya.

Menurutnya penyakit infeksi jamur di kulit mempunyai prevalensi tinggi di Indonesia, hal ini  di karena negara ini memilik iklim tropis dan kelembabannya tinggi. Dermatofitosis dapat menginfeksi pada kulit, rambut dan kuku. Manifestasi klinis bervariasi dapat menyerupai penyakit kulit lain sehingga selalu menimbulkan diagnosis yang keliru dan kegagalan dalam penatalaksanaannya. Diagnosis dapat ditegakkan secara klinis dan identifikasi laboratorik.

Pengobatan penyakit ini dapat dilakukan secara topikal dan sistemik. Pada masa kini banyak pilihan obat untuk mengatasi dermatofitosis, baik dari golongan antifungal konvensional atau antifungal terbaru. Pengobatan yang efektif ada kaitannya dengan daya tahan seseorang, faktor lingkungan dan agen penyebab. “Tetapi kebanyakan dengan mengobati sendiri ini kurang tepat sasaran, sebab bisa jadi penderita menjadi alergi terhadap obat tersebut, hingga memperparah keadaan,” terang dia.

Dermatofitosis adalah penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk (keratin). Dermatofitosis ini menyerang pada kulit pada daerah kepala berambut kondisi ini disebut dengan Tinea Kapitis. Sedangkan apabila menyerang pada kulit di sekitar muka, badan, lengan dan glutea ini disebut dengan Tinea Korporis. “Ini bisa menyerang bagian kulit kepala, kulit badan, kulit muka dan lengan juga bisa,” katanya.

Dermatofitosis ini juga bisa terjadi pada Tinea Kruris, yakni apabila dermatofitosis menyerang di daerah lipat paha, genitalia, dan sekitar anus, yang dapat meluas ke bokong dan perut bagian bawah. Bisa juga dermatofitosis ini menyerang kulit telapak tangan dan kaki, punggung tangan dan kaki, jari-jari tangan dan kaki, serta daerah interdigital.

Dia menjelaskan, banyak yang mengira kurap ini sebagai panu. Tetapi sebenarnya berbeda. Kurap memiliki garis tepi yang menonjol dan biasanya kemerahan, dan bagian tengah seperti sudah sembuh. Sedangkan panu, hanya warna kulit yang biasanya berbeda dengan kulit sekitarnya, biasanya warnanya putih atau kecokelatan. Namun demikian, penyebabnya sama yakni jamur dermatopyta “Kalau panu, mungkin penanganannya lebih mudah, bisa dengan obat kocok yang dijual bebas di pasaran,” terang dia.

Cara penyebaran jamur ini bisa dengan berbagai macam cara. Antara lain dengan kontak langsung dengan penderita. Penyebaran juga bisa secara tidak langsung. Misalnya, sprei atau handuk yang sebelumnya digunakan penderita dan dipakai oleh orang lain, maka orang itu bisa tertular. “Penyebaran bisa langsung dan tidak langsung,” paparnya.

Ditambahkannya, penyebaran jamur pada kulit seseorang ini tergantung juga dari daya tahan tubuh. Jika daya tahan tubuh sedang rendah, maka penyebaran jamur akan cepat. Sedangkan apabila daya tahan tubuh bagus, maka jamur tetap menyebar meski lamban. “Faktor intrinsik tubuh juga berpengaruh. Jamur akan lebih cepat menyebar seperti pada mereka yang menderita diabetes mellitus, HIV/AIDS dan faktor yang menyebabkan terganggunya imun tubuh,” paparnya. Tri Sulistiyani

BAGIKAN