JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Kades Hadiluwih Dimosi Tidak Percaya

Kades Hadiluwih Dimosi Tidak Percaya

628
BAGIKAN

kades hadiluwihSRAGEN—Sejumlah warga yang mengatasnamakan perwakilan dari beberapa RT di Desa Hadiluwih, Kecamatan Sumberlawang melayangkan surat mosi tidak percaya terhadap kepemimpinan Kades Wiranto, Rabu (31/7). Surat yang dilayangkan ke Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Bupati, Ketua DPRD, Inspektorat, dan Camat itu isinya warga menuntut agar Kades diberhentikan karena dinilai telah melanggar moralitas.

Surat mosi tidak percaya itu disampaikan ke sejumlah instansi tersebut dengan diantar oleh tiga perwakilan tokoh masyarakat masing-masing RT, yakni Sardi, Purwadi, dan Giyono. Dalam surat itu, warga meminta agar Kades diberhentikan karena dianggap telah melanggar etika sebagai pimpinan dengan menikahi siri seorang janda yang tidak sesuai dengan aturan. Tidak hanya melanggar aturan masa iddah, sang Kades juga dinilai telah melanggar kesepakatan dengan warga soal akan menikahi Sarmi secara resmi di hadapan warga pada Senin (8/7) lalu.

“Perbuatan Kades telah melanggar Perda No 6/2006 pasal 31 huruf k dan pasal 33. Pertimbangannya, fakta di lapangan bahwa nikah sirinya itu memang dilakukan tidak sesuai Surat Al Baqarah ayat 234. Makanya, dengan bukti-bukti pelanggaran yang semua kami lampirkan di surat itu, warga mengusulkan ke BPD dan Bupati agar Kades diberi sanksi diberhentikan dari jabatannya,” ujar Yono, salah satu tokoh masyarakat setempat.

Ketua BPD Hadiluwih, Sulistyo Wardoyo membenarkan jika kemarin ada surat dari warga mengatasnamakan beberapa RT yang intinya meminta BPD memberhentikan Kades. Mengenai langkah yang diambil, pihaknya akan merapatkan dulu surat tersebut dengan anggota BPD lainnya.

Kepala Inspektorat Sragen, Suharto melalui Sekretaris Inspektorat, Hanung Priyono mengaku belum menerima surat dari warga Hadiluwih. Terpisah, Kades Hadiluwih, Wiranto menegaskan jika pernikahan siri adalah masalah keyakinan, meski kemudian ia mengakui ada kekhilafan terkait nikah siri yang ternyata belum habis masa iddah-nya. Namun, menurutnya sejauh ini kondisi istri pertama dan istri sirinya tidak bermasalah dan warga juga kondusif. “Itu kan soal keyakinan. Rasul itu dulu menikahi Aisyah ketika masih berumur sembilan tahun nggak apa-apa, karena tidak digauli dulu,” ujarnya.

Ia balik menuding jika beberapa tokoh yang menyoalnya itu jelas punya misi lain terkait kekalahan di Pilkades dengan memanfaatkan momen ini. Bahkan ia menyebut ada salah satu tokoh penggerak berinisial G yang menurutnya justru meresahkan warga dan pernah tidak beres mengurus uang tarikan ke warga senilai Rp 7 juta. Wardoyo

  • satrio pinandhito

    Setuju…

  • pemuda_nasionalis

    pandangan sy sbg pem-nas, indonesia adlh negara berasaskn pancasila & bersumber pd UUD45 yg mana sbg seorang Wni yg skaligus seorang kepala daerah/desa yg tlh melanggar kode etik seorang kepala desa serta hukum konstitusi yg tlh diatur dlm UU lainya, maka tidaklah pantas menjadi contoh warga yg dipimpinnya. mengingat indonesia adlh negara republik, bukan negara islam. memang mayoritas beragama islam, tp bukan negara islam.

  • pemuda nasionalis

    pandangan sy sbg pem-nas, indonesia adlh negara berasaskn pancasila & bersumber pd UUD45 yg mana sbg seorang Wni yg skaligus seorang kepala daerah/desa yg tlh melanggar kode etik seorang kepala desa serta hukum konstitusi yg tlh diatur dlm UU lainya, maka tidaklah pantas menjadi contoh warga yg dipimpinnya. mengingat indonesia adlh negara republik, bukan negara islam. memang mayoritas beragama islam, tp bukan negara islam.