Kairo Bak Kota Mati

Kairo Bak Kota Mati

288

Dewan Keamanan PBB harus segera berkumpul untuk membahas situasi di Mesir.

PROTESTS-EGYPT
Protes Mesir

KAIRO–Ibukota Mesir, Kairo, kini seperti kota mati sejak pemberlakuan jam malam. Suasana kota sepi dan hanya terlihat sejumlah kendaraan di jalanan.

BBC melaporkan, jalanan kini hanya milik aparat keamanan. Jam malam diberlakukan mulai pukul 19.00 hingga 06.00, menyusul diberlakukannya kondisi darurat. Di siang hari, masyarakat juga tidak banyak melakukan kesibukan.

Dalam aksi pembubaran massa, Rabu (14/8), sebanyak 525 orang tewas. Namun jumlah itu dibantah Ikhwanul Muslimin, organisasi massa pendukung presiden terguling Mohamed Mursi. Menurut versi pengunjuk rasa ini, korban tewas mencapai lebih dari 2.000 orang.

Pembantaian ini mengundang kecaman dari dunia internasional. Amerika Serikat, Uni Eropa, dan PBB langsung mengutuk aksi brutal tersebut. Tak terkecuali Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono yang meminta pihak-pihak terkait di Mesir yakni pemerintah, militer, dan Ikhwanul Muslimin, untuk menahan diri.

Presiden mengatakan, Indonesia prihatin dengan kondisi yang terjadi di Mesir saat ini. “Saya kira perasaan kita sama, perasaan rakyat Indonesia sangat prihatin apa yang terjadi di Mesir. Korban berjatuhan baik yang meninggal maupun yang luka-luka, dan belum ada tanda-tanda bahwa konflik dan kekerasan yang terjadi itu akan segera berakhir,” ujar SBY di Istana Negara, Jakarta, Kamis (15/8).

SBY menilai, memang situasinya sangat sulit dan kompleks. Situasi ini, dinilai susah untuk mencari titik temu antara pihak-pihak yang bertikai. Namun, SBY meminta pihak-pihak tersebut menahan diri dan mencari solusi terbaik.

“Sepertinya opsi tidak terlalu banyak yang bisa diambil untuk menghentikan pertumpahan darah kemudian mencegah lebih memburuknya situasi di Mesir tersebut. Namun bagaimanapun sebagai sahabat, Indonesia masih berharap dan menyeru kepada para pemimpin dan elite politik apakah di pihak pemerintah sendiri, kaum militer, maupun Ikhwanul Muslimin, sebisa-bisanya mencegah situasi tidak lebih memburuk dan mencegah agar korban tidak lebih banyak lagi,” tandas SBY, seperti dikutip Inilah.

Walau tidak mudah, namun SBY yakin akan ada jalan keluar. “Saya tahu ini sesuatu yang tidak mudah, tetapi kalau para pemimpin dan elite politik mau misalnya, menghentikan dulu dan berusaha mencari suatu formula yang saya sebut dengan win-win solution, kompromi. Barangkali masih terbuka peluang itu, meskipun barangkali sempit yang disebut dengan window oportunity,” terangnya.

Sementara itu, Perdana Menteri (PM) Turki, Recep Tayyip Erdogan, menyerukan digelarnya segera sidang Dewan Keamanan PBB guna membahas pertumpahan darah yang terjadi di Mesir. “Dewan Keamanan PBB harus segera berkumpul untuk membahas situasi di Mesir,” kata Erdogan kepada para wartawan di Ankara, Turki seperti dilansir AFP.

“Ini pembantaian yang sangat serius… terhadap rakyat Mesir yang hanya berdemo secara damai,” imbuhnya seraya mengkritik sikap diam komunitas global dalam menghadapi pembantaian tersebut.

Reaksi keras muncul dari Copenhagen. Pemerintah Denmark langsung memutuskan untuk membekukan bantuan pembangunan untuk Mesir. Langkah ini sebagai respons atas operasi mematikan yang dilancarkan aparat kepolisian Mesir terhadap para demonstran pendukung presiden terguling Mohamed Mursi.

“Denmark punya dua proyek kerja sama langsung dengan pemerintah Mesir dan institusi-insitusi publik, dan proyek-proyek itu kini akan dihentikan,” kata Christian Friis Bach, Menteri Dana Pembangunan Jerman kepada surat kabar setempat, Berlingske.

“Ini sebagai respons atas peristiwa berdarah dan penyimpangan perkembangan demokrasi yang sangat disesalkan di Mesir,” imbuh Bach. Bantuan Denmark dalam dua proyek pembangunan tersebut mencapai sekitar 30 juta kroner atau 5,3 juta dolar AS.

Bach juga mendesak Uni Eropa untuk meninjau ulang bantuannya untuk pemerintah Mesir. Bahkan dikatakannya, pemerintah Denmark berencana untuk menghentikan kontribusinya pada pendanaan Uni Eropa di Mesir.  Detik | Tri Hatmodjo

 

BAGIKAN