JOGLOSEMAR.CO Lifestyle Kesehatan Kebiasaan Buruk Orang Tua, Picu Masalah Gigi Anak

Kebiasaan Buruk Orang Tua, Picu Masalah Gigi Anak

447
BAGIKAN
source: www.vitaminuntukanak.com
source: www.vitaminuntukanak.com

Seringkali kita mendapati anak-anak dengan gigi yang sudah rusak. Lantas orang bilang, kerusakan gigi pada anak karena dia banyak makan permen atau cokelat atau lainnya. Adapula anak yang sangat sulit sekali untuk diajarkan kebiasaan menggosok gigi. Tak jarang pula orang tua yang mendapati anaknya menangis karena sakit giginya.

Tentunya, sebagai orangtua kita tidak menginginkan kondisi  itu.  Jangankan anak-anak, orang dewasa saja merasakan sangat tersiksa jika mengalami sakit gigi. Untuk menghindarkan si kecil dari masalah pada gigi sebetulnya gampang-gampang susah. Tentu kita tak bisa menyerahkannya pada si kecil. Karena semua itu masih menjadi tanggung jawab orang tua.

Dokter Gigi Klinik Cahaya Mitra, Drg. Jenny Megawati, SpKGA mengungkapkan sebenarnya perawatan dan pemeliharaan gigi anak itu bisa dimulai sejak dalam kandungan. Sebab sejak usia kandungan empat hingga enam bulan, proses pembentukan gigi sudah dimulai. Dalam kandungan inilah, asupan makanan bergizi mulai diperlukan untuk kesehatan bayi termasuk kesehatan giginya. “Sebenarnya sejak dalam kandungan sudah harus dimulai. Termasuk sebelum kehamilan, seharusnya ibu memperhatikan kesehatan gigi anaknya,” terang dia.

Dikatakannya, setelah lahir pertumbuhan gigi dimulai sejak usia enam sampai delapan bulan dan diawali dengan pembentukan bagian email yang berwarna putih, lalu diikuti oleh dentin yang berwarna agak kekuningan. Selanjutnya adalah bagian pulpa yang berisi jaringan saraf dan pembuluh darah. Kemudian gigi erupsi dengan sempurna, diikuti dengan penyempurnaan bentuk akar gigi. “Pada fase awal inilah seharusnya orang tua sudah harus peduli dengan kesehatan gigi anaknya,” terang dia.

Dijelaskannya, kesehatan gigi sangat dipengaruhi juga oleh asupan makanan anak. Dengan konsumsi makanan yang cukup dan bergizi akan mendukung kesehatan gigi.  Seringkali orang tua hanya memperhatikan kecukupan makan, asalkan anak mau makan satu jenis makanan, maka makanan itu saja yang diberikan. Padahal belum tentu gizinya cukup. “Kecukupan makan dan gizi akan membantu kesehatan gigi anak,” jelasnya.

Pertumbuhan gigi juga sangat dipengaruhi oleh jenis makanan yang dikonsumsi. Sejak anak mulai mengenal makanan pendamping ASI secara bertahap seharusnya anak diperkenalkan dengan berbagai macam tekstur makanan, mulai dari yang lembut hingga yang kasar secara bertahap. Pada usia mulai enam bulan hingga sembilan bulan, memang makanan lembut yang diberikan. Kemudian pada usia sembilan hingga 12 bulan mulai diperkenalkan dengan makanan yang lunak dan empuk dan tidak lagi makanan lembut. Setelah usia satu tahun, anak-anak sebenarnya sudah siap untuk makan makanan seperti orang dewasa, tetapi masih dalan tahap belajar. “Tekstur makanan akan sangat berpengaruh pada pertumbuhan giginya,” terang dia.

Begitupula pola pengasuhan anak juga akan berpengaruh terhadap kesehatan gigi. Misalnya kebiasaan makan yang lama dan suka diemut bisa menyebabkan gigi mudah keropos. Selain itu, orang tua yang membiasakan anak memakai dot juga akan menyebabkan bentuk gigi tidak rapi, seperti gigi tonggos. Kebiasaan bertopang dagu juga bisa menyebabkan kelainan pada tulang rahang. Kebiasaan anak menggigit jari juga bisa menyebabkan pola gigi maju mundur. Selain itu, menu makan yang lembek terus juga akan mengganggu pertumbuhan gigi, rahang menjadi kurang berkembang dan rangsang kunyah menjadi berkurang. “Kebiasaan buruk ini bisa mengganggu pertumbuhan gigi,” terang dia.

Dijelaskannya, seharusnya sejak anak mulai makan biasakan menggunakan gelas untuk minum. Sehingga kebiasaan menggunakan dot tidak akan terbawa sampai besar. Selain itu, sejak anak memiliki gigi seharusnya sudah dibiasakan untuk membersihkan gigi setelah makan. Minimal dengan menggunakan kasa dan air putih. Baru setelah gerak motorik berkembang bagus, ajarkan anak untuk menggosok gigi dengan sikat gigi. “Kebiasaan ini seharusnya diajarkan sejak bayi, ini penting,” jelasnya.

Tidak kalah penting adalah pemeriksaan gigi yang dilakukan sendiri oleh orang tua terhadap gigi anaknya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan orang tua ketika memeriksa gigi anak antara lain, ada atau tidaknya garis kehitaman pada gigi anak. Orang tua juga perlu melakukan pemeriksaan kebesihan mulut anak. Selain itu, periksa juga bercak putih di permukaan gigi, jika ada ini merupakan tanda awal munculnya karies gigi. Orang tua juga harus memperhatikan bentuk dan posisi gigi anak, apakah simetris atau tidak. Jika menemukan kelainan, misalnya jika ada garis kehitaman, ada warna putih di permukaan gigi, atau bentuk yang tidak simetris sebaiknya segera dibawa ke dokter gigi. “Pemeriksaan sendiri oleh orang tua minimal dilakukan sekali dalam sebulan,” jelasnya. Tri Sulistiyani