Kekeringan Mulai Melanda Boyolali

Kekeringan Mulai Melanda Boyolali

541
KEKERINGAN- Sejumlah daerah di Boyolali mulai kekeringan memasuki musim kemarau ini sehingga terpaksa membeli air bersih dari agen, Kamis (29/8). Joglosemar|Ario Bhawono
KEKERINGAN- Sejumlah daerah di Boyolali mulai kekeringan memasuki musim kemarau ini sehingga terpaksa membeli air bersih dari agen, Kamis (29/8). Joglosemar|Ario Bhawono

BOYOLALI – Bencana kekeringan mulai dirasakan warga Boyolali, terutama di daerah yang minus sumber air. Bahkan saat ini warga harus membeli air bersih dengan harga hingga Rp 200 .000 per tangki kapasitas 5000 liter.

Kekeringan di antaranya dirasakan warga Desa Jemowo, Kecamatan Musuk. Kades Jemowo, Untung Widada mengatakan sebenarnya warga sudah lama mengalami kekeringan, hingga harus membeli air bersih. Hanya saja saat ini harga air semakin mahal sehingga memberatkan warga. “Harga air bersih naik jadi Rp 200.000 per tangki, mau bagaimana lagi kalau tidak beli ya tidak mendapat air karena minimnya mata air yang ada,” ungkap dia, Kamis (29/8).

Selain itu kondisi cuaca yang semakin kering menurut Untung membuat kebutuhan air semakin tinggi. Imbasnya intensitas pembelian air pun meningkat signifikan. Di Jemowo sendiri lanjut dia, terdapat sebanyak 1.576 kepala keluarga atau sekitar 6.000 jiwa yang membutuhkan air bersih.

Baca Juga :  Begini Jadinya Jika Walikota dan Rio Haryanto Ikut Kelas Inspirasi Solo Mengajar

Kebutuhan air semakin tinggi terutama bagi warga yang memiliki ternak. Setidaknya bagi yang tidak memiliki ternak, satu tangki air dapat bertahan hingga dua minggu. Namun bagi yang memiliki ternak, air satu tangki tersebut dapat habis hanya dalam seminggu, apalagi jika jumlah ternaknya cukup banyak. “Kalau ternaknya banyak, 5-7 hari sudah harus beli air lagi,” imbuh dia.

Kondisi tersebut, selain dirasakan warga Desa Jemowo yang berada di lereng Gunung Merapi itu, juga dirasakan sejumlah desa tetangga seperti Desa Sruni, Sangup, Dragan, Lampar, Sumur, Mriyan, dan Lanjaran. Kondisi sedikit berbeda terjadi di Musuk, seperti Desa Karanganyar, Karangkendal, dan Ringinlarik. Di daerah-daerah tersebut warga masih dapat mengandalkan sumber air yang ada untuk kebutuhan air bersih. Warga Desa Sruni, Darmaji (36) mengatakan, saat ini warga harus beli air bersih dari agen. Hanya saja lantaran letak desa yang agak bawah, sehingga harga air tidak semahal seperti di desa-desa atas. “Kalau di sini paling sekitaran Rp 90.000 per tangki,” kata dia.

Baca Juga :  Sudirman Said Mulai Dekati Masyarakat Solo, Ada Apa Ya ?

Terpisah, Nuryadi, Kasubbag Sosial dan Keagamaan Bagian Kesra Setda Boyolali, mengatakan Pemkab sudah menganggarkan dana senilai Rp 105 juta untuk bantuan air bersih. Hanya saja, hingga akhir Agustus ini menurut dia belum ada permintaan dropping air sehingga dana masih utuh. “Belum ada yang minta dropping air, dropping dilakukan selama ada yang mengajukan permohonan ke Bupati,” imbuh Nuryadi. Ario Bhawono

BAGIKAN