Ketipu Azan dari Ponsel

Ketipu Azan dari Ponsel

777

KETIPU ADZAN DARI HPBulan Ramadan tahun ini cukup banyak kenangan bagi Dul Kenthut. Baik yang mengharukan, menyenangkan, maupun menggelikan. Ternyata bulan suci banyak mendatangkan hikmah bagi dirinya dan keluarganya.

Dul Kenthut memang tipe gampang lapar, masih belum terbiasa dengan kondisi ngampet makan. Tidak heran kalau ia masih sering kelimpungan, seperti tidak sabar menunggu buka puasa.

“Oalah… Pak… wong yang lain tenang-tenang saja, kamu kok mbanyaki gitu, ta,” tegur Yu Cebret, istrinya.

“Namanya juga baru adaptasi, Bu. Beberapa hari lagi juga sudah biasa saja,” sahut Dul Kenthut dengan wajah memelas.

“Adaptasi… adaptasi… Makanya, biasakan puasa. Senin Kemis keknDaud kek…,” sungut Yu Cebret sambil sibuk mempersiapkan hidangan buka puasa. Dul Kenthut hanya diam plenthas-plenthus sambil sesekali melirik jam dinding. Saat itu bagi Dul Kenthut, jam dinding jadi nganyelke banget. Jarumnya jalan seperti aleman, ndak nyampai-nyampai.

Karena lapar dan ngantuk, ia sedikit liyer-liyer sambil menonton televisi. Sekali-kali ia terbangun, kemudian nggliyer ngantuk lagi. Sekali-kali ia mengelus-elus perutnya yang terasa lapar. Ia sudah tidak fokus lagi dengan acara televisi, karena rasa kantuknya. Beberapa saat kemudian, di tengah tidur ayamnya, ia mendengar suara azan sayup-sayup dari kamar. Mak jenggirat ia langsung bangun dan bergegas menuju dapur. Yu Cebret masih sibuk memarut kelapa.

“Udah waktunya buka, Bu…,” gumam Dul Kenthut dengan wajah ceria.

Piye ta, Pak? Wong masih pukul lima sore, kok,” tukas Yu Cebret heran.

Lha tadi aku dengar suara azan,” gumam Dul Kenthut bingung.

“Itu kerjaan anakmu. Dari tadi nyetel azan di handphone,” terang Yu Cebret sambil mecucu mangkel pada suaminya. Dul Kenthut kembali plenthas-plenthus sambil meninggalkan dapur.

BAGIKAN