JOGLOSEMAR.CO Foto Kios Buku Darurat Diserahkan

Kios Buku Darurat Diserahkan

343
BAGIKAN

Pedagang Masih Nombok untuk Finishing

SEGERA DITEMPATI--Pekerja menyelesaikan proses pembuatan kios darurat yang akan digunakan oleh pedagang buku murah yang kiosnya terbakar di kawasan belakang Sriweadari, Solo, Rabu (14/8). Kios-kios darurat tersebut dalam waktu dekat akan segera digunakan untuk berjualan. Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo
SEGERA DITEMPATI–Pekerja menyelesaikan proses pembuatan kios darurat yang akan digunakan oleh pedagang buku murah yang kiosnya terbakar di kawasan belakang Sriweadari, Solo, Rabu (14/8). Kios-kios darurat tersebut dalam waktu dekat akan segera digunakan untuk berjualan.
Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo

LAWEYAN – Pascakebakaran, pedagang di kios buku Sriwedari nombok. Pasalnya, setelah kios darurat selesai dibuat oleh pemerintah, mereka masih harus mengeluarkan dana mulai ratusan ribu hingga jutaan guna penyempurnaan kios yang terbuat dari tripleks dan kayu itu.

Salah satu pedagang buku, Agus Mulyanto (48) mengaku, pihaknya harus merogoh kantong kurang lebih Rp 3 juta lagi guna menyempurnakan kios darurat itu.

“Dulu kios saya ada tiga. Sekarang akan menggunakan dua kios darurat nomor satu dan dua. Untuk rehap kios Rp 3 jutaan. Untuk mengecor lantai karena hanya tanah biasa,” kata Agus saat ditemui Joglosemar, Rabu (14/8).

Selain itu, menurutnya,  dinding yang terbuat dari tripleks harus dilapisi seng. Ini dilakukan guna pengamanan dari hujan. Selain itu juga untuk keamanan barang dari pencurian. Dia berharap agar segera siap dan berjualan.

“Untuk isi kios kami masih bisa atasi. Ini karena kami penerbit dan distributor. Karena terbakar kami harus merintis dari awal lagi,” aku Agus.

Sementara itu ditemui terpisah, Romadi (43) yang juga pedagang di kios buku Sriwedari mengatakan, dia membutuhkan biaya Rp 500.000 untuk merehab kios darurat yang sudah ada.

“Soalnya lantainya masih bolong, sehingga harus dicor agar tidak kemasukan air,” akunya.

Ia mengaku setelah merehab kios, dia akan segera menata buku dagangannya. Namun demikian ia mengaku belum tahu akan mulai buka kapan.

“Meski kios belum jadi, saya tetap jualan meski hanya via sms atau telepon ke pelanggan. Barang saya ada yang terbakar, ada juga yang basah. Harganya jadi turun dan sulit di jual,” terang dia.

Dia juga mengaku khawatir akan keamanan barang dagangannya. “Bisa kios ditiduri atau akan seperti apa nanti akan kami rundingkan bersama yang lain,” kata warga Sriwedari, Laweyan itu. Farrah Ikha Riptayani