JOGLOSEMAR.CO Foto Kondisi Rupbasan Kelas II Memprihatinkan

Kondisi Rupbasan Kelas II Memprihatinkan

466
BAGIKAN
GELONDONG-Sejumlah kayu gelondong yang dititipkan di Rupbasan Kelas II Wonogiri. Kayu-kayu ini tetap harus dirawat lantaran statusnya barang sitaan, jika terlalu lama akan dilelang, Jumat (23/8). Joglosemar | Eko Sudarsono
GELONDONG-Sejumlah kayu gelondong yang dititipkan di Rupbasan Kelas II Wonogiri. Kayu-kayu ini tetap harus dirawat lantaran statusnya barang sitaan, jika terlalu lama akan dilelang, Jumat (23/8). Joglosemar | Eko Sudarsono

WONOGIRI-Kondisi Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara (Rupbasan) di Wonogiri sangat memprihatinkan kondisinya.  Minimnya anggaran jadi kendala utama pihak pengelola Rupbasan untuk melakukan perbaikan.

Kepala Rupbasan Kelas II Wonogiri, Sri Haryanto mengatakan barang sitaan yang masuk ke Rupbasan baik dari Kejaksaan dan Polres kebanyakan kayu gelondong dan truk, bahkan hingga barang kelontong dan kosmetik. Sesuai perundangan memang instansi terkait harusnya menitipkan semua barang sitaan, hanya karena tidak diatur tegas dan tidak ada sangsi, maka di lapangan praktik masih jauh dari kenyataan.

“Ada dua truk yang dititipkan di Rupbasan. Semua terlibat kasus pembalakan dan pengangkutan kayu liar,” ujar Haryanto, Jumat (23/8).

Dikatakan Haryanto, benda sitaan ini terdiri dari berbagai jenis kayu dan barang kelonjongan serta kosmetik. Untuk kayu paling lama sudah ada di sini sejak tahun 2006 dan 2007 lalu. Kayu tersebut berjenis pinus dan kayu cendana. Kayu cendana beratnya sekitar 8.720 kilogram, terdiri dari potongan-potongan kecil, ranting, serta cabang kering. Karena sudah lama, kemungkinan akan sulit dilelangkan. Sedangkan untuk kayu pinus sekitar sepuluh batang. Ada lagi kayu pinus sebanyak 16 potong yang baru saja masuk tahun 2013 dan tahun 2011 lalu ada 13 batang kayu pinus.

Sementara itu untuk kayu jenis lain, kayu jati, akasia, serta sonokeling total ada 180 batang. Paling banyak kayu sonokeling. Untuk berbagai jenis barang kelontong ada 54 item. Sebagian produk makanan kemungkinan sudah kadaluwarsa.

“Kayu cendana diangkut dari Pacitan secara ilegal dan ditangkap di Wonogiri. Untuk barang kelontong tadi kasus pinjaman koperasi yang tidak beres akhirnya barang milik warga Ngadirojo itu disita. Mungkin sudah ada yang kadaluwarsa, tapi tetap kita jaga dan rawat,” jelasnya.

Selain kondisi kayu sitaan yang memprihatinkan, Haryanto menjelaskan kondisi truk hasil sitaan juga sangat memprihatinkan. Untuk melakukan perbaikan kami tidak cukup melakukannya karena pusat hanya memberikandana Rp 10 juta. Padahal untuk truk juga tetap harus dihidupkan dan dikeluarkan dari gedung. Jika tidak, ban dan mesin bisa rusak dan bisaya perawatan akan jadi membengkak.

“Dari jumlah tenaga kami juga mengalami kekurangan. Idealnya ada 40 staf tetapi kini hanya memiliki 11 staf. Sehingga untuk memenuhi semua kerjaan di Rupbasan tidak cukup,” katanya.

Haryanto menambahkan, tempat menyimpan barang sitaan dengan lahan seluas 263 meter persegi di dekat Rutan Kelas IIB saat ini baru jadi pagarnya saja. Untuk bangunan, masih menunggu dana dari pusat.

” Untuk biaya perawatan kami usulkan ditambah pusat, kalau lama tidak cair bisa saja hutang dulu. Tapi untuk saat ini belum sampai sejauh itu,” pungkasnya. Eko Sudarsono