JOGLOSEMAR.CO Pendidikan Akademia Kontes Duta Wisata, Kontes Cerdas

Kontes Duta Wisata, Kontes Cerdas

907
BAGIKAN

“Mahasiswa yang mengikuti ajang seperti ini bagus karena bisa mendongkrak rasa percaya diri dan bisa membangun masa depan mereka.”

Soleh Amini Yahman MSi, Psi

Dosen Psikologi UMS

PUTRA PUTRI SOLO--Peserta ajang Putra-Putri Solo (PPS) 2011 berkunjung ke daerah padat penduduk di Danukusuman, Solo. Mengikuti ajang seperti ini tak cukup tampan atau cantik tapi juga harus cerdas.
PUTRA PUTRI SOLO–Peserta ajang Putra-Putri Solo (PPS) 2011 berkunjung ke daerah padat penduduk di Danukusuman, Solo. Mengikuti ajang seperti ini tak cukup tampan atau cantik tapi juga harus cerdas.

Salah satu penyumbang devisa negara yang besar adalah di bidang pariwisata. Oleh karenanya, setiap wilayah di Indonesia berusaha memajukan pariwisata salah satunya dengan kegiatan pemilihan Duta Wisata. Tidak semua putra-putri daerah tertarik mengikuti kontes ini. Banyak yang merasa tidak percaya diri meskipun tahu bahwa banyak hal yang akan didapatkan ketika mengikuti kontes ini.

Kebanyakan peserta kontes duta wisata didominasi oleh mahasiswa. Sudah semestinya mahasiswa melirik kontes ini karena mereka adalah kaum cendikia yang harusnya memiliki kesadaran memajukan daerah. Psikolog Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Drs Soleh Amini Yahman MSi, Psi mengatakan banyak motif bagi mahasiswa untuk mengikuti kontes ini, misalnya motif prestasi, afiliasi atau sosialisasi, hingga motif ekonomi. “Ada juga yang ingin mengikuti kontes ini dengan motif ekonomi agar memperoleh akses yang mudah dalam berbisnis,” ungkap Pembantu Dekan III di Fakultas Psikologi UMS ini.

Sony sapaan akrab Soleh Amini memandang kontes pencarian duta wisata selain menonjolkan kecantikan dan ketampanan juga sangat diperlukan kecerdasan. Seorang duta wisata tentulah harus cerdas dan tahu banyak mengenai budaya daerah.  Menurutnya, kontes semacam ini positif selama masih memegang kultur budaya yang ada di daerah dan tidak dicampuri dengan kultur kontes yang hanya bersifat kecantikan fisik saja.  “Mahasiswa yang mengikuti ajang seperti ini bagus karena bisa mendongkrak rasa percaya diri dan bisa membangun masa depan mereka. Namun perlu digaris bawahi bahwa kontes duta wiasta bukan kontes kecantikan saja tapi juga harus cerdas,” ungkap lelaki yang pernah menjadi juri pada Pemilihan Putra dan Putri Solo (PPS) tahun 2008 hingga 2009 ini.

 

Pengetahuan Bertambah

Menjadi duta wisata tentulah akan disibukkan dengan berbagai aktivitas di luar jam kuliah. Di sinilah kemampuan membagi waktu mahasiswa dituntut agar kedua aktivitasnya bisa berjalan dengan lancar. “Mereka yang mau maju ke kontes sebelumnya harus sadar bahwa itu ada risiko yang harus merka terima. Mereka harus bisa membagi waktu,” lanjutnya.

Sementara itu, mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Rachel Georgia Sentani mengaku banyak pengalaman yang dia dapat dengan mengikuti kontes Duta Wisata. Wanita yang menjadi Juara I Putri Solo 2010, Juara I Mbak Jateng 2010 ini bercerita bahwa utamanya dalam pertemanan dia mendapatkan banyak teman cerdas yang menginspirasinya.  Selain itu, pengetahuan baik dari budaya daerah maupun pengetahuan umumnya bertambah. “Banyak hal yang belum saya tahu menganai Solo setelah mengikuti PPS banyak sekali pembekalan yang saya dapatkan,” ungkap wanita yang juga mendapatkan juara Favorit Kepulauan Putri Indonesia ini.

Mahasiswi yang masuk semester V ini mengaku, keikutsertaannya dalam kontes duta wisata maupun kontes Putri Indonesia tidak mempengaruhi nilai akademiknya. Meskipun banyak aktivitas, nilai Indeks Prestasinya semester IV ini 3,92. “Mengikuti ajang seperti ini kita harus pandai dalam mengatur waktu. Sehingga kita kita tahu mana yang harus diprioritaskan agar keduanya berjalan beriringan,” jelasnya.

Rachel pun berbagai tips bahwa untuk bisa mengikuti kontes duta wisata, yang harus dilakukan adalah percaya dengan kemampuan diri sendiri. Ketika masuk dalam kontes pasti akan bertemu dengan orang-orang hebat tapi dengan mempercayai kemampuan diri sendiri, percaya diri pun akan muncul dan berpikir bahwa diri pribadi juga bisa seperti orang yang dianggap hebat itu. “Jika orang lain bisa kita pasti bisa. Itu yang harus kita pegang. Selain itu, kita juga harus terus mengevaluasi diri.” Rahayu Astrini