JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Internasional Korban Gas Saraf Suriah Diklaim Mencapai 1.300

Korban Gas Saraf Suriah Diklaim Mencapai 1.300

295
BAGIKAN

Kubu Barat Siap Merespons

SYRIA-CRISIS/Paris—Kubu barat mulai menampakkan reaksi keras atas tregedi penggunaan senjata kimia di Suriah.Pihak oposisi mengklaim bahwa korban atas penggunaan gas saraf yang diduga gas sarin itu mencapai jumlah 1.300 orang pada Kamis (22/8).

Perancis mengatakan pada bahwa komunitas internasional akan membutuhkan respons dengan “kekuatan” jika tuduhan bahwa pemerintah Suriah bertanggung jawab pada serangan kimia terhadap warga sipil ternyata benar. “Ada hal yang harus menjadi reaksi dengan ‘kekuatan’ di Suriah dari komunitas internasional, namun tidak ada pertanyaan tentang pengiriman pasukan di lapangan,” kata Menteri Luar Negeri Perancis Laurent Fabius kepada jaringan televisi Perancis BFM.

Dia mengatakan jika Dewan Keamanan PBB tidak dapat membuat keputusan, maka (komunitas internasional) harus mengambil cara lain.

Aktivis oposisi menuduh pasukan Presiden Suriah Bashar Al-Assad menyerang dengan gas beracun, termasuk perempuan dan anak-anak dalam serangan pada Sabtu (17/8) lalu. Serangan senjata kimia sangat mematikan yang disebut terparah di dunia sejak 1980-an itu kemudian disikapi dengan pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB di New York.

Dewan tidak secara eksplisit menuntut penyelidikan PBB dalam insiden, meskipun dikatakan kejelasan yang dibutuhkan dan menyambut seruan Sekjen PBB Ban Ki-moon untuk cepat menginvestigasi oleh tim PBB yang sudah berada di Suriah.

Diplomat mengatakan pernyataan dewan untuk mengakomodasi keberatan Rusia dan China. Moskow dan Beijing telah memveto upaya Barat untuk memaksa PBB memberi hukuman kepada Al-Assad.

Sementara itu, oposisi Suriah menuduh rezim Bashar al Assad menggunakan senjata kimia untuk menyerang warganya sendiri. Pihak oposisi menyebutkan, setidaknya 1.300 warga tewas dalam serangan senjata kimia di pinggiran Kota Damaskus. “Serangan senjata kimia ini menutup solusi damai di Suriah,” ujar pemimpin koalisi oposisi Suriah, George Sabra, seperti dikutip The News.

Namun, sebagian pengamat menyangsikan tuduhan pihak oposisi. Mereka tidak melihat tanda-tanda serangan senjata kimia dari rekaman yang tersebar di dunia maya. “Saya tidak mendengar ada petugas kesehatan yang ikut menjadi korban. Saya pikir zat kimia yang digunakan memiliki kadar yang rendah,” ujar ahli senjata Gwyn Winfield.

Pemerintah Suriah juga mengeluarkan bantahan melalui kantor berita miliknya. Mereka menyebut tuduhan itu bertujuan untuk merusak citra Assad di dunia internasional.  Antara | Okezone