JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Korupsi Bansos, Alim Suratno Divonis 2,5 Tahun

Korupsi Bansos, Alim Suratno Divonis 2,5 Tahun

434
BAGIKAN

Putusan Alim lebih rendah dari tuntutan jaksa yang sebelumnya menuntut hukuman penjara empat tahun dan denda Rp 200 juta subsider enam bulan.

Alim Suratno
Alim Suratno

SRAGEN—Mantan Wakil Ketua DPRD Sragen periode 2009-2014, Alim Suratno yang menjadi terdakwa kasus korupsi dana bantuan sosial (Bansos) pondok pesantren (Ponpes) dari APBD Provinsi Jateng 2008, akhirnya dijatuhi hukuman 2,5 tahun penjara. Selain itu, mantan politisi PKB itu juga dijatuhi denda Rp 50 juta dan diwajibkan membayar uang pengganti kerugian negara yang dikorupsi sebesar Rp 82 juta.

Putusan itu mengemuka dalam sidang yang digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tikpikor) Semarang, Senin (12/8). Dalam sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim, John Butar Butar itu, majelis menyatakan terdakwa terbukti bersalah melanggar dakwaan subsider yakni pasal 3 juncto pasal 18 UU Tipikor No 31/1999 juncto UU No 20/2001 dan pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Mantan politisi yang dua kali menjabat sebagai legislator Sragen itu dinyatakan telah menyalahgunakan kedudukan, kewenangan, dan jabatannya untuk menyunat dana Bansos yang dialokasikan untuk belasan Ponpes di Sragen. Atas perbuatannya itu, majelis memvonis terdakwa dengan pidana 2,5 tahun, mengembalikan uang kerugian negara sebesar Rp 82 juta, dan denda Rp 50 juta. Jika denda tidak dibayar maka akan ditambah hukuman pidana selama tiga bulan.

Putusan itu lebih rendah dari tuntutan jaksa yang sebelumnya menuntut hukuman empat tahun dan denda Rp 200 juta subsider enam bulan. Menurut jaksa penuntut umum (JPU) yang menangani perkara itu, Triyono, putusan majelis hakim kontras dengan tuntutan karena menganggap yang terbukti adalah dakwaan subsider. “Karena yang disunat itu sebagian ternyata sudah dikembalikan ke Ponpes,” ujarnya kepada Joglosemar, Selasa (12/8).

Triyono mengungkapkan, selain Alim saat ini satu terdakwa lain yakni Tukino, kiai asal Jambanan, Sidoharjo, Sragen juga sedang menjalani persidangan pada tahap pemeriksaan saksi-saksi.

Sementara, menanggapi putusan itu, terdakwa menyatakan masih pikir-pikir. Penasihat hukumnya, YB Irfan, menilai meski jauh di bawah tuntutan, kliennya menganggap putusan itu terlalu berat karena yang dilanggar hanya pasal subsider. Terlebih, uang kerugian negara sebesar Rp 82 juga sudah dikembalikan di akhir pemeriksaan oleh pihak jaksa.

Akan tetapi, mengenai peluang melakukan upaya hukum, pihaknya akan menunggu keputusan dari kliennya, apakah akan menerima atau melakukan upaya banding. “Kan masih ada waktu tujuh hari untuk mengambil keputusan. Makanya kami akan koordinasi dulu apakah klien saya menerima atau banding. Kami juga akan melihat kemungkinan lain karena jaksa juga belum menerima putusan hakim,” pungkasnya. Wardoyo