Kurang Terbiasa Antre

Kurang Terbiasa Antre

730

KURANG TERBIASA ANTREBeberapa waktu yang lalu, Dul Kenthut mengalami kejadian yang cukup memalukan dan bikin mangkel. Gara-garanya juga salah dia sendiri, grusa-grusu dan tidak begitu peduli sekitarnya.

Ceritanya, saat itu Dul Kenthut hendak memangkaskan rambutnya. Sudah beberapa bulan ia tidak sempat potong rambut. Selama ini ia sudah punya langganan tempat pangkas rambut yang menurutnya selalu bisa pas memangkas rambutnya. Tapi sudah dua bulan ini tempat pangkas rambut itu tutup. Dul Kenthut pun kebingungan mencari tempat pangkas rambut yang baru.

Mbok pangkas rambut di salon A saja, Dul. Di sana cukup bagus, lho,” saran Jim Belong.

“Waduh. Ndak mau. Dulu aku pernah potong rambut di sana. Bukannya tambah ngganteng malah ndak karuan. Aku trauma, Jim,” sahut Dul Kenthut. Jim Belong akhirnya menunjukkan tempat potong rambut yang cukup kondang. Selain semua tenaga kerjanya cukup terampil, namanya juga cukup terpercaya. Cabangnya tersebar di mana-mana. Bahkan saking larisnya, tempat pangkas rambut itu memberlakukan nomor antrean untuk pelanggan.

Tapi rupanya hal itu yang tidak dipahami Dul Kenthut. Begitu masuk ke dalam ruangan pangkas rambut, Dul Kenthut melihat tiga orang sedang duduk menunggu giliran. Dul Kenthut juga tidak begitu memperhatikan kalau ada tumpukan nomor yang harusnya ia ambil satu. Ia justru keluar dari ruangan dan memilih duduk santai di depan sambil klepas-klepus.

Beberapa waktu kemudian, ia kembali masuk. Betapa kagetnya Dul Kenthut karena ruang tunggu sudah dipenuhi delapan orang yang menunggu giliran. Dengan bingung ia menghampiri tukang pangkas rambut yang sedang sibuk bekerja. “Mas, kulo gilirane kapan nggih?

Lho? Lha sudah ambil nomor antrean belum?” tanya tukang pangkas itu heran.

“Oh, ada nomor antreannya ta? Tapi saya datangnya sudah dari tadi Mas. Bahkan tadi juga hanya ada tiga yang antre,” sahut Dul Kenthut.

“Wo, ya harus ambil nomor antrean dulu, Mas. Kalau ndak ambil nomor, sampai bulan depan juga ndak dapat giliran potong rambut,” sahut tukang pangkas itu sambil mesem geli. Dul Kenthut pun clingar-clingur sambil ambil nomor urutan. Ealah… malah dapat giliran paling akhir. Batinnya mumet.

BAGIKAN