Mata Kucing Mengancam Nyawa

Mata Kucing Mengancam Nyawa

1024
ilustrasi
ilustrasi

Setiap orang tua pasti akan merasakan sedih, manakala mendapati bayinya yang lucu ternyata memiliki sebuah kelainan pada matanya. Kelainan yang banyak disebut dengan mata kucing atau cat’s eye itu sebenarnya hanya berupa titik putih pada matanya, tetapi dokter mata menyarankan supaya mata anak untuk diangkat. Tidak akan ada orang tua yang rela. Penyakit seperti apakah itu sebenarnya?

Dokter Spesialis Mata Rumah Sakit Islam Surakarta Yarsis, Dr Halida Wibawaty, SpM menjelaskan sebenarnya istilah leukocoria atau cat’s eye adalah pancaran warna putih pada pupil mata yang berasal dari kelainan di retina. Keadaan ini merupakan keadaan abnormal. Penyebabnya sebenarnya bermacam-macam, tetapi yang terbanyak disebabkan oleh retinoblastoma, suatu tumor ganas pada anak yang berasal dari retina. “Sebab lain adalah katarak kongenital, penyakit coats, dan  kelainan pada retina yang lain,” jelasnya.

Dikatakannya, kanker mata pada anak  atau retinoblastoma merupakan kanker yang terjadi pada retina. Di mana retina merupakan bagian mata yang memiliki fungsi sebagai penerima cahaya. Bagian retina ini sangat peka terhadap cahaya. Kanker mata banyak menyerang anak-anak. Berdasarkan data stastistik setiap tahun 200 juta anak menderita penyakit kanker mata pada anak (retinoblastoma). “Ini kasusnya masih banyak dan berbahaya,” katanya.

Dia menjelaskan, kanker mata sangat berbahaya karena bisa mengakibatkan kebutaan dan bahkan mengakibatkan kematian. Beberapa anak, yang mengalami kanker pada kedua mata, besar kemungkinan akan mengalami tumor lain seperti sarkoma osteogenic (tumor kanker yang mempengaruhi tulang). Bahkan tindakan terapi radiasi untuk tumor (radioterapi sinar eksternal) untuk kanker ini bisa mengakibatkan komplikasi tumor lain. Itulah mengapa kanker mata pada anak (retinoblastoma) ini sangat berbahaya. “Di Indonesia, kasus ini kebanyakan berakhir pada kematian,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, kemungkinan  sembuh untuk bayi yang menderita retinoblastoma sangat kecil. Penyakit ini hanya bisa disembuhkan bila bisa diidentifikasi sejak dini. Langkah tersebut sebenarnya bukan penyembuhan, tapi pencegahan agar kanker tidak menyebar ke bagian tubuh lain, sehingga resiko kematian  dapat diminimalkan. Langkah pencegahan ini  dilakukan dengan cara mengangkat mata yang terkena kanker. “Kalau dideteksi sejak dini dan mata diangkat, maka kemungkinan nyawa masih bisa terselamatkan,” terang dia.

Retinoblastoma pada umumnya terjadi ada anak-anak usia di bawah 5 tahun dan jarang terjadi pada orang dewasa. Pada beberapa kasus, retinoblastoma hanya terjadi pada satu mata meskipun tak menutup kemungkinan kanker ini juga menyerang kedua mata. “Biasanya memang terjadi pada anak-anak, bahkan bisa jadi dibawa sejak ada dalam kandungan,” terang dia.

Diungkapkannya, tanda paling umum yang terjadi pada anak penderita retinoblastoma ini adalah mata mereka terlihat seperti ‘mata kucing’ atau leukocoria. Tanda dan gejala lain dari retinoblastoma termasuk mata juling atau mata yang tidak menunjuk ke arah yang sama (strabismus), nyeri persisten mata, kemerahan, atau iritasi, dan kebutaan atau penglihatan berkurang. “Mata anak mirip dengan mata kucing, jika dibiarkan lama kelamaan akan membengkak , ini tanda tumor di dalam sudah mendesak bola mata,” jelasnya.

Ia menjelaskan hingga saat ini penyebab kanker mata pada anak belum dapat diketahui secara pasti. Faktor keturunan diduga menjadi penyebab penyakit ini. Risiko kanker mata akan menjadi lebih besar apabila dalam suatu keluarga ada yang menderita retinoblastoma karena tingkat penurunan bisa mencapai 45 persen. Selain itu bisa juga disebabkan faktor lingkungan, terutama yang tidak kondusif dan rentan terhadap persebaran infeksi, virus, dan bakteri. Paparan sinar radiasi dan juga bahan-bahan kimia juga bisa meningkatkan risiko kanker mata pada anak. Penyebab retinoblastoma pada salah satu mata (unilateral) atau kedua mata (bilateral) anak hingga kini belum diketahui secara pasti sehingga pencegahannya pun menjadi sulit dilakukan. Tri Sulistiyani

 

BAGIKAN