JOGLOSEMAR.CO Daerah Klaten Mbah Pademo, Penjahit Seabad Pasar Cokro Kembang

Mbah Pademo, Penjahit Seabad Pasar Cokro Kembang

582

TETAP BERKARYA DIUSAI SENJA

SEMANGAT HIDUP - Pademo Diyoto (100) tengah menjahit pakaian pelanggannya di Pasar Cokro Kembang, Kamis (22/8). Di usia senja, ia tetap bekerja untuk hidup mandiri. Joglosemar/Angga Purnama
SEMANGAT HIDUP – Pademo Diyoto (100) tengah menjahit pakaian pelanggannya di Pasar Cokro Kembang, Kamis (22/8). Di usia senja, ia tetap bekerja untuk hidup mandiri. Joglosemar/Angga Purnama

Sekilas, fisik pria tua dengan mesin jahit di depannya terlihat renta saat Joglosemar menjajaki Pasar Cokro Kembang, Kecamatan Tulung. Namun tangan kanannya begitu cekatan saat memutar handle mesin jahit yang digunakannya untuk menjahit pakaian pelanggannya.

Ya, pria yang bernama lengkap Pademo Diyoto, warga Dukuh, Wunud, Tulung itu sehari-hari bekerja sebagai penjahit di pasar tradisional yang menjadi salah satu pasar percontohan di Jawa Tengah itu. Di usianya sudah memasuki satu abad itu, Pademo tetap bekerja mencari nafkah dan tidak menggantungkan diri kepada lima orang anaknya. “Kalau tidak kerja, badan malah terasa sakit,” jawabnya sembari tertawa.

Pademo menceritakan, ia melakoni profesi ini sejak tahun 1932 silam. Menurutnya, berbagai macam jenis mesin jahit manual telah ia coba. Namun, mesin jahit tangan yang mirip dengan mesin jahit yang digunakan untuk menjahit bendera Merah Putih pertama itu dinilainya paling cocok dengan fisiknya saat ini. Menurutnya, mesin jahit yang menjadi patnernya itu tidak memerlukan banyak tenaga untuk mengoperasikannya. “Dulu pernah pakai mesin jahit dengan penggerak kaki. Tapi saat fisik mulai tua, tenaga untuk menggunakannya sudah tidak kuat lagi dan sering pegal,” ungkap Pademo.

Bukan hanya semangatnya yang tinggi dalam bekerja, pria yang memiliki lima orang anak dengan 12 cucu dan 10 cicit itu masih mahir saat memasukan benang ke dalam lubang jarum. Sebuah pekerjaan sepele namun bukan hal mudah bagi orang seumurannya, terlebih dengan penglihatan yang menurun. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Pademo. Hanya sekali memasukkan benang sudah terkait dengan lubang jarum.

Tidak itu saja, kemampuan penjahit yang telah menempati Pasar Cokro Kembang sejak dibuka pada tahun 1955 itu tak kalah dengan penjahit yang berusia jauh lebih muda darinya. Bahkan, terkadang pengunjung pasar lebih memilih mereparasi pakaiannya ke lapaknya lantaran hasil yang lebih rapi. Meski demikian, Pademo tidak pernah mematok tarif untuk jasanya itu. Biasanya, ia mendapatkan ongkos Rp 2.000 hingga Rp5.000 untuk sekali reparasi pakaian. “Terserah yang mau ngasih. Dikasih banyak syukur, sedikit juga tidak masalah,” tururnya.

Saat ditanya rahasia kesehatannya, ia tersenyum dan mengatakan pikiran yang positif menjadi kunci utama. Selain itu, pola hidup sehat juga menjadi pendukung. Ia menambahkan, semangat hidup dengan berdiri di kaki sendiri tanpa menggantungkan hidup kepada orang lain harus tetap dijaga. “Berpikir positif dan menjalani hidup apa adanya. Serta menyukuri apa yang kita miliki membuat hidup kita lebih tenang,” papar kakek yang mengaku sering berjalan kaki pulang ke rumahnya. Ia mengaku lebih senang jalan kaki, karena bisa sekaligus untuk olahraga itu. Angga Purnama

BAGIKAN