Menapaki Puncak Gunung Lawu

Menapaki Puncak Gunung Lawu

1580
PENDAKI TERKECIL-Pendaki gunung termuda Aisah (9th) bersama ayahnya berada di puncak lawu tertinggi. Joglosemar|Budi Arista Romadhoni
PENDAKI TERKECIL-Pendaki gunung termuda Aisah (9th) bersama ayahnya berada di puncak lawu tertinggi.
Joglosemar|Budi Arista Romadhoni

Mendaki gunung, ibarat zat adiktif yang bisa menyebabkan candu bagi siapa saja yang mencobanya. Bahkan orang yang belum pernah menjajal kegiatan outdoor yang membutuhkan nyali besar ini, bakal ketagihan. Rasa letih yang mendera selama menaklukkan medan terjal, terbayarkan seketika saat menginjakkan kaki di puncak. Menebarkan pandangan berkeliling menatap keindahan hasil ciptaan Tuhan.

Itulah sebabnya para pendaki kebanyakan tidak akan berhenti hanya di satu puncak gunung saja, pastilah terbersit keinginan untuk terus menjelajahi  gunung-gunung lainnya yang memiliki tantangan dan keindahan masing -masing.

Salah satu gunung yang wajib ditaklukkan oleh pendaki, bahkan pendaki pemula, adalah Gunung Lawu. Kebanyakan pendaki pasti sudah paham jika Gunung Lawu ini merupakan gunung yang sangat istimewa dan luar biasa, dalam artian Lawu memiliki beberapa hal yang tidak ada di gunung lain.

Selain dari sisi sejarah dan mitos yang turut menghiasi keindahan Lawu, penduduk sekitar pun juga turut serta memberi pengaruh bagi para pendaki. Masyarakat menganggap Lawu sebagai gunung yang memberi banyak berkah, sampai-sampai ada beberapa warung yang berdiri kokoh di Gunung Lawu termasuk Warung Mbok Yem.

Gunung Lawu memiliki ketinggian 3.265 mdpl. Gunung yang berada di perbatasan Jawa Tengah (Jateng) dan Jawa Timur (Jatim) ini memiliki dua jalur pendakian yang sering digunakan para pendaki. Kedua jalur tersebut yakni Jalur Cemoro Kandang yang masuk wilayah Kabupaten Karanganyar, Jateng dan Cemoro Sewu yang ada di wilayah Kabupaten Magetan, Jatim. Selain dua jalur yang paling kerap dilalui pendaki tersebut masih ada lagi jalur Cetho yang melewati komplek situs Candi Cetho yang merupakan peninggalan Prabu Brawijaya V. Ada juga Jalur Tambak yang masuk wilayah Jawa Tengah serta Jalur Jogorogo di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

Jalur Cemoro Kandang relatif lebih landai dengan kebanyakan jalan tanah setapak namun waktu tempuh hingga puncak lebih lama dibandingkan melewati jalur Cemoro Sewu yang didominasi dengan jalur bebatuan terjal dan sudah disusun menyerupai anak tangga. Dibuat sedemikian rupa karena jalur yang satu ini memang sering dilalui peziarah dan penduduk sekitar yang akan melakukan napak tilas perjalanan Prabu Brawijaya V di malam Satu Suro.

Sepanjang jalur dari Cemoro Kandang menuju puncak jalur tidak ngetrek, namun cenderung melingkar dan menyusuri lereng bukit (kalo cemoro sewu melalui punggung bukit) hingga pos II bau dari belerang sangat menyengat, tumbuhan dari pos I hingga pos IV adalah tanaman lamtoro gunung, pinus dan pakis, diselingi tanaman perdu gunung.

Hingga memasuki Jurang Pangariparip jalan selalu menyusuri lereng, namun jika tak ingin berjalan melingkar, bisa langsung melewati jalan sidatanngetrek dan saat turun hujan jalur ini akan di lewati air bah pegunungan. Sampai pada pos IV tumbuhan sudah mulai jarang, digantikan rerumputan gunung, Cokro srengenge lebih luas melalui jalur ini, hamparan rumput menghampar hingga nanti bertemu dengan jalur dari Cemoro Sewu, di daerah HargoDalem.

Kemudian memasuki daerah pasar Dieng, yaitu hamparan padang edelweis yang diselingi bebatuan yang tertata rapi, menurut mitos pasar Dieng adalah pasarnya Setan. Jika melihat ke arah utara yaitu Sisi Pasar Dieng mata kita akan tertuju pada sebuah bukit yang memiliki menara BTS, yaitu bukit Hargo Kahyangan. Melalui sisi sebelah timur bukit Hargo Kahyangan inilah kita bisa melewati jalur pendakian dari sisi Utara (Ngawi).

Baca Juga :  Kepedulian Sido Muncul untuk Pariwisata, Jadikan Rawa Pening Destinasi Wisata Dunia

Summit attact

Sampai di Pos III, Penggik, rombongan Wartawan Solo beristirahat cukup lama. Pendakian dari Cemoro kandang menuju Pos III memakan waktu tujuh jam. Dapat dimaklumi, mayoritas rombongan wartawan yang turut mendaki masih pemula dan tanpa persiapan fisik sebelumnya.

Pukul 03.30 WIB perjalanan kembali dilanjutkan, sebagian besar menghentikan langkah di Pos III dan tersisa 14 orang yang summil ke Hargo dumilah. Trek menuju puncak seperti mengikuti jalur air namun saat hampir sampai di puncaknya barulah trek tersusun dari bebatuan yang tertata rapi.

Pukul 06.15 WIB rombongan menerobos trek batu menanjak menuju puncak HargoDumilah. Perjalanan dari pos IV menuju puncak HargoDumilah memakan waktu sekitar satu jam. Kibaran Sang Saka Merah Putih menyambut gagah berkibar di atas tugu monument puncak HargoDumilah.

Waktu menunjukkan pukul 09.00 WIB, ratusan pendaki yang berasal dari berbagai wilayah di pulau Jawa berbaris rapi membentuk letter u menghadap tiang kayu sederhana yang dijadikan tiang bendera. Dikeempat sisinya dikait tali yang dipenuhi bendera merah putih kecil berjumlah ratusan.

Suasana khidmat dan haru menelusup dada saat dikumandangkan lagu Indonesia raya. Tak terasa peluh hangat menetes dari kedua bola mata. Ternhyata tak sedikit pendaki yang turut terharu. Rasa nasionalisme, cinta tanah air dan patriotic seolah bergejolak dan bergemuruh dalam dada.

Pendaki Cilik

Mendaki gunung bagi orang dewasa mungkin sudah hal biasa, mengingat besarnya resiko kegiatan ini. Tetapi tidak selamanya kegiatan adventure harus dilakukan orang dewasa, pendaki cilik pun bisa melakukannya. Salah satunya yang dilakukan oleh Annisa Khoirul Muslimah.

Sudah seperti biasanya, jika berketepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) republic Indonesia (RI) puncak gunung menjadi salah satu tempat favorit untuk menggelar upacara. Salah satunya yakni berada di hargo dumilah atau puncak gunung lawu.

Diantara ribuan pendaki yang memadati puncak lawu, Nampak seorang pendaki cilik dengan jaket tebalnya. Pemandangan yang cukup unik. Ya, bocah itu adalah Annisa Khoirul Muslimah. Pendaki cilik asal Gondang Rejo, kabupaten Karanganyar itu mempunyai tekad yang pantas diacungi jempol.

Dengan ditemani ayahnya Nuryanto, bocah berusia sembilan tahun ini menuturkan jika dirinya mempunyai keinginan untuk mengikuti upacara HUT RI di puncak gunung. “Kan biaanya kalau upacara pengibaran bendera Cuma di sekolah saja. Saya pengin ikut pengibaran bendera di puncak gunung rasanya gimana,” ucapnya polos seusai upacara, Sabtu (17/8) lalu.

Bocah yang baru duduk di kelas empat di Sekolah Dasar (SD) Negeri Skip 2, Kecamatan Banjarsari, Solo ini mengaku baru pertama kali mendaki gunung. Tetapi dengan semangatnya ia berhasil menaklukan gunung dengan ketinggian 3.265 mdpl dengan lancar. “Naik gunung itu ternyata menyenangkan, Insya Allah saya pengin naik gunung yang lain setelah ini,” akunya.

Sementara itu, Ayahnya Nuryanto mengatakan jika anak sulungnya ini sudah berulangkali mengajaknya untuk mendaki gunung. Namun pria dengan dua anak ini sempat ragu lantaran kebiasaanya mendaki gunung sudah tidak dilakukannya sejak 10 tahun terakhir.

Baca Juga :  Kepedulian Sido Muncul untuk Pariwisata, Jadikan Rawa Pening Destinasi Wisata Dunia

“Selain kondisi medan yang susah, juga kekuatan anak yang membuat saya ragu di awal. Tetapi syukurnya bisa berjalan dengan lancar baik dari kesahatan fisik atau hal lain seperti saat perjalanan juga tidak bandel,” tuturnya.

Selain itu, ia mengatakan tujuannya mendaki gunung bersama putri selain untuk mengisi waktu liburan sekolah serta memeriahkan hari kemerdekaan RI juga untuk memperkenalkan alam secara langsung. “Kalau ditanya bahaya tidaknya membawa anak kecil, yang terpenting kesiapan fisik serta peralatan, seprti obat-obatan dan logistic lengkap, alhamdulliah tida ada apa-apa,” kata dia.

 

Flora Fauna Lawu Memprihatinkan

Kondisi lingkungan di Gunung Lawu di kabupaten karanganyar kini semakin memprihatinkan. Terbukti dengan semakin berkurangnya populasi faona dan flora yang berada di gunung dengan ketinggian 3.265 tersebut.

Hal ini disampaikan ketua organisasi peduli lingkungan Anak Gunung Lawu (AGL) Rusdianto. Ia mengungkapkan jika jumlah salah satu tumbuhan yang berada di gunung yakni bunga adelweis terus berkurang terutama yang tumbuh di jalur pendakian. Bahkan menurutnya saat ini hanya tertinggal dua jenis bunga edelwes.

“Ya saat ini memang untuk bunga adelweis jumlahnya semakin sedikit. Dulu itu di gunung lawu ada lima jenis bunga itu. ada yang warna merah muda, coklat, kuning, putih serta ungu. Namun saat ini yang sering kami jumpai hanya yang warna putih,” ungkapnya sabtu (17/8) lalu.

Menurutnya hal tersebut lantaran masih banyaknya pendaki yang kurang sadar akan pentingnya pemeliharaan dan perlindungan alam, sehingga populasi tanaman yang terkenal sebagai bunga abadi terus berkurang.

“Pendakian gunung lawu yang melewati jalur cemoro kandang yang ramai pendaki itu biasanya saat tanggal 17 Agustus yakni sekitar 500 pendaki dan saat malam satu suro (malam satu muharam) mecapai 4 ribu pendaki Sedangkan untuk malam minggu itu sekitar 50 pemdaki,” terang dia.

Selain itu, ia menyampaikan jika saat ini lebih dari 50 persen habitat fauna di gunung lawu berkurang. Terutama jenis burung jalak gading sebagai endemis dari gunung tersebut. “Meski sekarang masih kita jumpai, tetapi jumlahnya sangat sedikit. Jika dulu barung itu selalu bergerombol, sekarang terlihat 1 atau dua saja.,” katanya.

Meski demikian, pihaknya mengaku tidak bisa berbuat banyak. Sebab status gunung lawu yang belum di tetapkan sebagai taman nasional sehingga pihaknya tidak mempunyai payung hukum untuk menjaga habitat flora dan fauna tersebut.

“Harapan kami bisa di tetapkan sebagai taman nasional tang harus dilindungi. Kalau saat ini kami hanya bisa melakukan pengawasan dan melakukan hal kecil, seperti melepaskan 100 burung pada saat perayaan hari kemerdekaan ini,” imbuhnya.

Sementara salah satu pendaki gunung Ratna mengaku sepakat. Dikatakannya, saat ini ia sudah jarang melihat bunga edelweiss tumbuh di tepi jalur pendakian. Ia berharap agar pemerintah bisa mengambil sikap tegas agar keberadaannya tidak punah.

“Sekarang memang sudah tidak seperti dulu. Memang banyak pendaki yang kurang tanggap akan lingkungan. Seperti membuang sampah plastik seenaknya,” katanya singkat.

BAGIKAN
  • annisa khoirul

    makacih tas liputannya..ini suatu anugrah dan rahmatNYA yg tlah d brkan pd klrg kami….salam terbaek slalu wat JOGLOSEMAR & crew…makin axiz mkn jaya sll