JOGLOSEMAR.CO Daerah Wonogiri Mencicipi Jenang Jawa Khas Pracimantoro

Mencicipi Jenang Jawa Khas Pracimantoro

1131
BAGIKAN

Telah Ada Sejak 1900-an, Selalu Menjaga Kualitas

KENCENG- Perajin jenang di Desa Pracimantoro, Kecamatan Pracimantoro, Wonogiri sedang mengaduk adonan jenang gula Jawa dalam wajan kenceng, di atas bara api yang harus selalu terjaga panasnya. Foto diambil beberapa waktu lalu. Dok
KENCENG- Perajin jenang di Desa Pracimantoro, Kecamatan Pracimantoro, Wonogiri sedang mengaduk adonan jenang gula Jawa dalam wajan kenceng, di atas bara api yang harus selalu terjaga panasnya. Foto diambil beberapa waktu lalu. Dok

Setiap wilayah senantiasa memiliki makanan khas yang biasa dijadikan oleh-oleh. Begitu juga di Desa Pracimantoro, Kecamatan Pracimantoro, Wonogiri, yang memiliki makanan khas berupa jenang Jawa. Jenang yang terbuat dari campuran beras, ketan, santan kelapa dan gula Jawa atau gula merah ini bahkan telah ada sejak tahun 1900-an silam.

Di dua dusun di Desa Pracimantoro, setidaknya terdapat enam perajin jenang. Lima di antaranya ada di Dusun Godang. Uniknya, ternyata ke enam pembuat jenang tersebut masih ada hubungan keluarga.

Haji Samsu, salah satu perajin jenang merupakan generasi ketiga sejak caman neneknya dulu. “Saya baru meneruskan usaha ibu saya ini tahun 2000 lalu. Kalau nenek saya dulu sudah sejak tahun 1900-an membuat jenang,” kata Haji Samsu yang kini berusia 70 tahun itu.

Usaha itu bisa bertahan hingga sekarang. Selain dipesan oleh orang punya hajat, di hari-hari biasa selalu ada yang membeli untuk oleh-oleh. Saat Lebaran, produksi jenang ditambah karena memenuhi permintaan pembeli.

Sayangnya saat Joglosemar bertandang ke sana, Sabtu (3/8) lalu, pembuatan jenang masih diliburkan dan baru dimulai lagi pada Minggu (5/8). Haji Samsul menuturkan, di hari-hari biasa, dalam sehari ia membuat jenang sebanyak satu wajan kenceng yang khusus dipakai membuat jenang.

Jenang satu kenceng bisa menjadi 30 jenang ukuran kotak sekitar 16×27 sentimeter dengan tebal sekitar dua sentimeter. “Menjelang Lebaran biasanya bisa sampai tiga sampai empat kenceng,” terang dia.

Untuk membuat jenang satu kenceng, diperlukan bahan 20 kilogram beras dan beras ketan. Terdiri dari 70 persen beras ketan, 30 persen beras. Jumlah beras dan beras ketan itu dimasak dengan sembilan kilogram gula Jawa dan dua kilogram gula pasir. Untuk kelapa menghabiskan sekitar 20 butir kelapa. “Cara memasaknya mudah. Santan kelapa dimasak hingga menjadi minyak, baru gula pasir dan gula Jawa dimasukkan. Setelah rata giliran tepung masuk. Yang lama masaknya,” terang dia.

Ia menuturkan, lama memasak sejak santan masuk hingga menjadi adonan jenang siap cetak butuh sekitar enam jam. Itu mengapa selama puasa hampir sebulan libur tidak membuat jenang.

Soal harga per kotak tergantung harga gula Jawa dan pasir. Saat ini harga kedua jenis gula itu naik dan satu kotak dihargai Rp 17.000. Harga biasa Rp 16.000 per kotak. Karena tanpa bahan pengawet, jenang hanya bisa tahan tiga hari. Setelah tiga hari, jenang menjadi keras dan harus dikukus lagi supaya empuk. “Ya, alhamdulillah bisa bertahan sampai sekarang. Rasa khas dari jenang buatan nenek dulu dominan manisnya, tapi seiring waktu rasa yang terlalu manis kini tidak disukai. Untuk partai besar, manis tidaknya bisa dipesan,” lanjut kakek empat cucu pensiunan Brimob tahun 1991 itu.

Mencari lokasi jenang ini dijual tidak sulit. Jika dari Kota Kecamatan Pracimantoro, cukup lurus menuju selatan sekitar 100 meter. Wisatawan yang berkunjung ke Musem  Karst bisa dengan mudah menjangkau. Jika Museum dari Pracimantoro ke barat, maka lokasi jenang ini ke selatan. Eko Sudarsono