JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Merugi, Damri Minta Peremajaan BST

Merugi, Damri Minta Peremajaan BST

457

Untuk itu, pada bulan ini kita kembali mengirimkan surat pengajuan peremajaan BST ke kantor pusat dengan harapan seluruh armada BST bisa diganti.” Sutaryadi | Kepala Perum Damri Surakarta

Batik Solo Trans
Batik Solo Trans

SOLO- Perum Damri selaku main operator Batik Solo Trans (BST), kembali mendesak Pemerintah Pusat mempercepat peremajaan armada bus tersebut sebagai upaya menekan kerugian karena biaya perawatan suku cadang yang mahal.

Kepala Perum Damri Surakarta, Sutaryadi mengatakan, selama mengoperasikan 25 BST di jalan utama Kota Solo pihaknya masih menelan kerugian cukup besar. “Akibatnya, kita hanya bisa menyerap total laba bersih sekitar 70 persen dari total pendapatan dari hasil mengoperasikan BST,” ujarnya, saat dihubungi Joglosemar, Minggu (18/8).

Hal itu disebabkan, perseroan masih menanggung kerugian dalam proses perawatan dan perbaikan spare part atau suku cadang BST senilai Rp 300.000 hingga Rp 800.000 setiap bulan.

Selain itu, ongkos pengadaan barang suku cadangan BST juga cukup besar karena sulit didapatkan di pasaran. Dia memperkirakan, tingginya anggaran perawatan armada BST lebih disebabkan jenis bus yang dipakai saat ini kurang proporsional. Pasalnya, seluruh pengadaan armada BST selama ini berasal dari pabrikan PT Hyundai.

Dia menduga, jenis suku cadang bus merek Hyundai sulit didapatkan karena hanya bisa diperoleh di kantor pusat di Jakarta. Bahkan, karena waktu pengadaan suku cadang memakan waktu cukup lama, perseroan terpaksa mencari suku cadang BST ke bengkel bus di Yogyakarta.

“Untuk itu, pada bulan ini kita kembali mengirimkan surat pengajuan peremajaan BST ke kantor pusat dengan harapan seluruh armada BST bisa diganti dengan model yang baru dengan mesin yang proporsional guna dijalankan di Koridor II,” ungkapnya.

Diganti

Jika sesuai rencana, kata dia, pihaknya menginginkan BST bisa diganti dengan bus dari pabrikan Hino yang dikenal memiliki kapasitas tempat duduk lebih banyak dibanding bus Hyundai hanya 25 kursi. Bus Hino, juga memiliki mesin pendorong berkecepatan maksimal 2.500 cc atau lebih cepat dibanding milik Hyundai.

“Kita sangat rugi jika terus menerus memakai bus Hyundai. Karena jalannya tidak bisa cepat ditambah lagi getaran mesinnya terasa sampai ke jok kursi penumpang. Itu belum lagi, sistem pengeremannya dan koplingnya yang bermasalah,” keluhnya. Padahal, jika dilihat secara keseluruhan potensi penumpang BST di wilayah Solo setiap tahun terlihat berkembang cukup baik.

Selama momentum Lebaran 2013 kemarin, menurut dia, Perum Damri mampu membukukan total pendapatan bersih (laba) senilai Rp 8 juta hingga Rp 8,5 juta. Jumlahnya naik 25 persen dari hari normal masih Rp 6,5 juta. Peningkatan pendapatan tersebut, mampu diraup Damri mulai H-4 hingga H+6 Lebaran. “Atau kalau rata-rata setiap hari penumpangnya penuh,” ucapnya.  Fariz Fardianto

BAGIKAN