Pawai Tukang Becak Akhiri Lebaran

Pawai Tukang Becak Akhiri Lebaran

319

Semoga Amalan Baik Tetap Berlangsung…

Sampai Jumpa Ramadan 1435 H”

BERKAH AMALAN  –  Tukang becak yang tergabung dalam paguyuban tukang becak Solo Grand Mall (SGM) memegangi poster usai melakukan pawai sebagai tanda usai Lebaran, Senin (12/8). Joglosemar | Farrah Ikha Riptayani
BERKAH AMALAN – Tukang becak yang tergabung dalam paguyuban tukang becak Solo Grand Mall (SGM) memegangi poster usai melakukan pawai sebagai tanda usai Lebaran, Senin (12/8). Joglosemar | Farrah Ikha Riptayani

Kata-kata tersebut yang ingin disampaikan oleh sejumlah tukang becak melalui poster-poster yang di bawanya. Mereka  tergabung dalam paguyuban tukang becak Solo Grand Mall (SGM). Mahkota dengan motif batik dikenakan sebagai simbol Kota Solo yang terkenal akan batiknya.

Para tukang becak itu mengayuh becak mereka menuju pertigaan di sekitar area Loji Gandrung  menuju Kottabarat, lalu  kembali lagi ke SGM. Terik matahari tak mereka hiraukan. Mereka menyapa dan berbagi senyum kepada warga Solo yang mereka lewati.

Baca Juga :  Pajero Indonesia One Touring Merah Putih, Tempuh Jarak 6.300 KM Demi Misi Persatuan

Ngadiono (45), tukang becak asal Cawas, Klaten mengungkapkan ada 10 tukang becak yang turut melakukan pawai tersebut.  “Tujuan kegiatan ini agar masyarakat tahu bahwa Lebaran telah selesai. Dan sekarang  mulai beraktivitas seperti biasa,” katanya saat ditemui Joglosemar di sela-sela kegiatan, Senin (12/8).

Dia dan rekan-rekannya berharap, supaya kekhusyukan ibadah di bulan Ramadan dapat tetap dipertahankan. “Jadi amalan tetap baik. Tidak hanya saat Ramadan saja,” harap Ngadiono.

Sementara itu Maimo (45) warga Makam Haji yang juga anggota paguyuban tukang becak SGM mengatakan, Ramadan memang telah usai.

Baca Juga :  Museum Keris Terlengkap se-Indonesia, Magnet Baru Wisata Kota Solo

“Suci semua. Hanya saya belum dapat berpuasa penuh karena pekerjaan ini menguras banyak tenaga. Saya berharap tahun depan dapat lebih bagus lagi puasanya,” harap Maimo, bapak dari dua anak itu.

Ia mengaku sudah 10 tahun menjadi tukang becak untuk memberi nafkah anak dan istrinya. “Saya harap dengan menarik becak ini anak-anak dapat sekolah tinggi. Tapi cukup untuk makan saja, syukur. Karena itu saya menarik becak dari pagi hingga malam,” tambahnya. * Farrah Ikha Riptayani

BAGIKAN