JOGLOSEMAR.CO Daerah Boyolali Pedagang Tahu Tempe Terancam Gulung Tikar

Pedagang Tahu Tempe Terancam Gulung Tikar

337
HARGA TINGGI- Harga kedelai yang melambung tinggi sepekan terakhir, membuat pengrajin maupun pedagang tempe terancam gulung tikar, Minggu (25/8). Joglosemar|Ario Bhawono
HARGA TINGGI- Harga kedelai yang melambung tinggi sepekan terakhir, membuat pengrajin maupun pedagang tempe terancam gulung tikar, Minggu (25/8). Joglosemar|Ario Bhawono

BOYOLALI –Naiknya harga kedelai dalam sepekan terakhir membuat para pedagang tempe dan tahu di pasar merugi dan terancam gulung tikar. Pasalnya pedagang sulit menaikan harga jual, sementara ongkos produksi menjadi berlipat.

Siti Munawaroh (65), pedagang tempe bungkusan di Pasar Karanggede mengungkapkan, sepekan terakhir harga kedelai naik sekitar Rp 1.400 per kilogram dari harga semula Rp 7.100 per kilogram. Padahal setiap kilogram kedelai menurut dia hanya jadi sekitar 40 bungkus tempe yang dijualnya di pasar seharga Rp 250. “Kalau laku semua saya dapat Rp 10.000 per kilogram, itu belum termasuk biaya beli daun jati dan ragi,” tutur Siti yang mengaku sudah 30 tahun membuat dan menjual tempe, pekan kemarin.

Dengan kenaikan harga kedelai ini tentu membuat keuntungannya yang sudah tipis menjadi semakin sedikit, bahkan bisa balik modal saja menurut dia sudah bersyukur. Kenaikan bahan baku menurut Siti tidak otomatis dirinya bisa menaikkan harga tempe. Pasalnya, jika harga jual dinaikkan banyak pembeli yang enggan membeli. Sementara jika tetap dijual dengan harga lama, penjual dipastikan merugi. Sehingga Siti pun mengaku berencana berhenti berjualan tempe jika harga kedelai tetap tinggi seperti saat ini.

Senada, Mulyadi (55), pengrajin tempe warga Desa Jembungan Kecamatan Banyudono juga mengeluhkan kenaikan bahan baku kedelai. Menurut dia harga kedelai super saat ini bahkan sudah mencapai Rp 9.000 per kilogram dari harga sebelumnya di kisaran Rp 8.250 per kilogram.

Menurut Mulyadi sulit saat ini untuk menaikan harga jual tempe. Pasalnya setelah kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) kemarin, harga tempe sudah naik. Sehingga jika harga tempe saat ini dinaikkan, dirinya takut pelanggan lari.
Padahal tiap hari dirinya mampu mengolah bahan baku kedelai sekitar 15 kilogram yang kemudian dikemas menjadi tempe berukuran panjang 35 sentimeter dan dijual seharga Rp 1.250. Namun lantaran harga kedelai membumbung, dia terpaksa hanya mampu mengolah sebanyak 10 kilogram kedelai per hari. “Itu pun sekarang tidak langsung habis, otomatis omzet berkurang dan keuntungan semakin sedikit,” terang dia.

Roidi (37), pengrajin tempe lainnya menambahkan, umumnya pembeli tempe kebanyakan golongan ekonomi bawah. Sehingga sulit bagi pedagang untuk menaikkan harga jual tempe. Terkait kondisi ini, pihaknya berharap pemerintah segera turun tangan supaya harga tempe dapat kembali normal sehingga para pengrajin tempe tak harus gulung tikar. Ario Bhawono

BAGIKAN