JOGLOSEMAR.CO Foto Pendapa Depan Masjid Agung Akan Dijadikan Kios

Pendapa Depan Masjid Agung Akan Dijadikan Kios

963
BAGIKAN

Benar, nanti akan kami sekat pendek sebagai pembatas untuk berjualan.”  KP Eddy Wirabhumi | Ketua Eksekutif Lembaga Hukum Keraton Surakarta

AKAN DIJADIKAN KIOS--Sejumlah pedagang beristirahat di pendopo yang terdapat di lahan parkir Masjid Agung Kota Solo, Senin (19/8). Pendopo tersebut akan disekat untuk dijadikan kios. Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo
AKAN DIJADIKAN KIOS–Sejumlah pedagang beristirahat di pendopo yang terdapat di lahan parkir Masjid Agung Kota Solo, Senin (19/8). Pendopo tersebut akan disekat untuk dijadikan kios. Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo

PASAR KLIWON- Keraton Surakarta berencana menjadikan pendapa di depan Masjid Agung sebagai lokasi berjualan. Hal ini dilakukan guna menata kawasan tersebut yang kian semrawut lantaran banyaknya pedagang yang berjualan.

“Saya dengar, pendapa ini akan disekat atau diberi batas menjadi empat. Ini dari keraton tapi tidak tahu kapan akan dimulai dilakukan,” ujar salah satu pedagang yang tidak mau disebut namanya, Senin (19/8).

Nantinya, lokasi itu untuk berjualan sehingga tidak ada lagi pembeli yang makan duduk seenaknya seperti saat ini. Tapi sampai saat ini belum ada pemberitahuan lebih lanjut dari pihak keraton kejelasannya seperti apa. “Konsepnya seperti apa kami belum tahu karena baru sebatas dengar, belum ada pemberitahuan dari  keraton. Kami tentu mau diberi tempat, apalagi akan disekat empat tentu cukup luas untuk berjualan,” ungkap dia.

Ia pun belum mengetahui sistem penggunaan tempat itu, apakah hanya membayar retribusi ataukah dengan sewa.

Dikonfirmasi mengenai hal itu, Ketua Eksekutif Lembaga Hukum Keraton Surakarta, KP Eddy Wirabhumi saat dikonfirmasi membenarkan jika pendapa di lahan parkir depan Masjid Agung akan disekat. “Benar, nanti akan kami sekat pendek sebagai pembatas untuk berjualan. Saat ini mereka (pedagang-red) sak karepe dewe saat berjualan sehingga terlihat semrawut,” ujar dia.

Ia menandaskan, disekatnya pendapa sebagai upaya penataan di kawasan depan masjid agar terlihat rapi, tertib dan tidak semrawut lagi. Ke depan, jelasnya, tak hanya depan masjid yang akan ditata. Melainkan juga di kawasan alun-alun utara, seperti Pasar Cinderamata sebelah timur yang pernah terbakar. “Itu semua yang melakukan keraton karena pemerintah kota (pemkot) melepas tangan. Contoh saja di Pasar Cinderamata timur pasca-kebakaran yang memperbaiki pedagang dan juga keraton,” imbuh dia.

Nantinya, pedagang yang berjualan di pendapa diharuskan membayar. Hal itu karena keraton sudah memberikan fasilitas dan pedagang harus memenuhi kewajibannya.

Eddy pun mengatakan pihaknya tidak perlu mengajukan izin kepada Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB). “Untuk apa izin, ini kan tanah milik keraton. Fasilitas jadi tentu pedagang harus memenuhi kewajibannya,” jelas dia.

Sementara itu, Sekretaris Pengurus Masjid Agung Surakarta, Abdul Basid menyatakan menolak jika di pendapa itu dijadikan untuk berjualan. Menurutnya, kawasan itu harus bebas pedagang karena masuk benda cagar budaya (BCB) yang tidak diperbolehkan dibangun apapun. “Kami jelas tidak sepakat, seharusnya itu bersih dari pedagang atau parkir. Kalau itu nanti jadi disekat tentu menyalahi aturan dan melanggar,” pungkas dia. Ari Welianto