JOGLOSEMAR.CO Foto Perajin Miniatur Bus Banjir Order

Perajin Miniatur Bus Banjir Order

8492
BAGIKAN

Detail dan Telaten

REPLIKA BUS-Perajin bus replika Iwan Susanto tengah menyelesaikan pengecatan replika bus di Rumahnya, Nogosari, Boyolali, Rabu(31/7). Replika bus dijual dari 800 ribuan hingga jutaan rupiah sesuai kesulitan bentuk bus yang dipesan. Joglosemar|Budi Arista Romadhoni
REPLIKA BUS-Perajin bus replika Iwan Susanto tengah menyelesaikan pengecatan replika bus di Rumahnya, Nogosari, Boyolali, Rabu(31/7). Replika bus dijual dari 800 ribuan hingga jutaan rupiah sesuai kesulitan bentuk bus yang dipesan.
Joglosemar|Budi Arista Romadhoni

Bagi Iwan Susanto, pintu rezekinya berawal dari kegemarannya melihat bus yang melintas di depan rumahnya. Boleh dikatakan, itulah obsesi awal berusia 30 tahun ini membuat miniatur bus.

“Saat kecil, saya awalnya sering diajak sama bapak saya berpergian ke tempat karoseri bus karena kebetulan beliau seorang awak bus. Dari situlah, saya jadi suka mencermati secara detail lekuk-lekuk bodi bus sampai-sampai saya terobsesi ingin memilikinya,”  ujar Iwan, saat mengawali obrolan dengan Joglosemar, Kamis (1/8).

Karena itulah, pria yang tinggal di Dukuh Nogosari RT 07/RW I, Glonggong, Boyolali ini sejak beberapa tahun lalu mulai mencoba membuat miniatur bus dengan beragam model yang ditiru semirip mungkin dengan aslinya.

Ketika membuat satu miniatur bus, katanya, Iwan seorang diri mampu menyelesaikan proses pembuatan nan rumit selama dua minggu. “Itu tergantung mood (suasana hati-red) dan banyak sedikitnya pemesanan,” kata Iwan.

Jika mood-nya sedang bagus, dua minggu bisa kelar. Tetapi kalau orderannya sedang banyak bisa inden sampai tujuh bulan. Sebab, Iwan membuatnya lebih detail supaya mirip dengan aslinya.

Iwan lantas berujar, untuk membuat satu produk miniatur membutuhkan ongkos produksi Rp 350.000. Biaya sebesar itu, dibutuhkan untuk mencari bahan baku tripleks dan serpihan kayu, perkakas sterefoam dan puluhan cat mobil. “Bahkan, ongkos pembelian cat mobil bisa menghabiskan biaya Rp 100.000,” imbuhnya.

Iwan bilang, dengan memakai cat mobil dirinya bisa lebih pede memoles bodi-bodi miniatur bus. Sebab, hasil yang tercipta semakin bagus dan tampak mengkilat seperti aslinya. Pemakaian cat mobil juga cenderung awet.

Banyak yang bilang, katanya, keahliannya dalam memoles cat inilah yang membuat produknya banyak diminati beragam konsumen.

Orderannya, biasanya diperoleh dari kalangan pecinta bus kota atau Bismania dan berbagai Perusahaan Otobus (PO) seperti PO Rosalia Indah, PO Bimo, PO Tenteram, PO Teguh Muda hingga PO Mulya Indah. “Orderan saya juga ada yang dari Kabupaten Toraja, Makasar, Palembang dan Jakarta,” jelas Iwan.

“Saya kerap menerima orderan dari pemilik bus, untuk dibuatkan produk miniaturnya. Ukurannya, rata-rata 60 sentimeter dan dibanderol seharga Rp 850.000 hingga Rp 1,7 juta. Yang mahal yang pakai mesin remote control,” ucapnya.

Intinya dalam membuat sebuah barang miniatur, Iwan bilang, dibutuhkan ketelatenan dan ketelitian. Tak butuh keterampilan khusus, kata Iwan. Karena, asalkan kita senang apapun yang dikerjakan bisa menjadi mudah. Fariz Fardianto