Peringatan 64 Tahun Serangan Umum 4 Hari di Solo

Peringatan 64 Tahun Serangan Umum 4 Hari di Solo

563

Menguntai Fragmen Perjuangan yang Hilang

Solo sebenarnya memiliki  fragmen perjuangan yang cukup heroik untuk direnungkan, yakni gerakan Tentara Pelajar (TP). Gerakan yang dikenal dengan  Serangan Umum Empat Hari itu (7-10 Agustus 1949) berhasil mengusir penjajah Belanda dari Solo.

MALAM PERENUNGAN--Mantan pejuang tentara pelajar, Suhendro Sastro Suwarno (kanan) disaksikan oleh Ketua Panitia Malam Perenungan Serangan Empat Hari di Kota Solo, Haryoko Hadiyanto memotong tumpeng saat digelar Malam Perenungan Serangan Empat Hari di Kota Solo di Kawasan Monumen Pejuang Mayor Achmadi, Solo, Selasa (7/8) malam. Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo
MALAM PERENUNGAN–Mantan pejuang tentara pelajar, Suhendro Sastro Suwarno (kanan) disaksikan oleh Ketua Panitia Malam Perenungan Serangan Empat Hari di Kota Solo, Haryoko Hadiyanto memotong tumpeng saat digelar Malam Perenungan Serangan Empat Hari di Kota Solo di Kawasan Monumen Pejuang Mayor Achmadi, Solo, Selasa (7/8) malam. Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo

Keriput ketuaan tampaknya tak mampu menyembunyikan sisa-sisa kegarangan di wajah lelaki tua itu. Bekas luka sayatan di tangan kirinya seolah menjadi penanda betapa kerasnya perjuangan hidup yang dia jalani.

Dialah Soehendro Sosro Suwarno (88). Seorang eks tentara pelajar (TP), yang dalam Serangan Umum (SU) empat hari di Solo memegang jabatan Komandan Rayon I dan Kompi III.

Masih teringat, luka di tangannya itu adalah kenangan kekejaman dari penjajah Belanda ketika ia bersikukuh tak mau menunjukkan keberadaan Mayor Achmadi. Ia pun menerima siksaan bertubi-tubi dari Belanda. Jika ia sampai bocor mulut, sudah tentu Mayor Achmadi bakal ditangkap karena membahayakan  Belanda.

Mayor Achmadi dinilai sebagai penggerak TP yang berhasil mengusir penjajah Belanda dari Solo, bahkan dari Indonesia. Soehendro berkisah, TP terbentuk secara spontan, muncul dari panggilan negara untuk berjuang mengusir Belanda yang mencoba merebut kembali Indonesia pascakemerdekaan 17 Agustus 1945.

Baca Juga :  Keraton Solo Bentuk Bebadan Internal, Dijamin Tak Picu Konflik

“Tentara pelajar dengan usia 14 tahun rela meninggalkan bangku sekolah, menenteng senjata, berlatih militer, meninggalkan rumah dan bahkan kedua orang tua hanya untuk satu misi mempertahankan NKRI,” ujar Soehendro dalam peringatan SU 4 hari di monumen Mayor Achmadi Banjarsari, Selasa (6/8) malam.

Menurut kisah Soehendro, keberadaan TP merupakan fenomena pertama di dunia dan tak pernah dipatahkan oleh siapa pun sampai sekarang. Tentara pelajar satu-satunya di Indonesia yang mampu mengusir Belanda dari Indonesia dalam SU empat hari di Solo.

“Kemenangan TP akhirnya membuat Belanda sadar dan tak mampu mempertahankan pasukan di Surakarta hingga akhirnya menyerahkan tumpuk kekuasaan pada Letkol Slamet Slamet Riyadi.

“Kalau saya beri tahu, SU 4 hari di Solo lebih dahsyat karena berlangsung 96 jam,” katanya.

Sayang,  jelas Soehendro,  ada upaya pemutarbalikan fakta sejarah SU di Solo oleh Orde Baru (Orba). Bukti-bukti sejarah perjuangan dilenyapkan.

“Mayor Achmadi pada saat era Soekarno masuk kabinet pertama sebagai menteri. Loyalitas Mayor Achmadi pada presiden pertama, oleh punggawa Orda Baru dicap sebagai komunis,” paparnya.

Baca Juga :  Ada Proyek Sudetan Drainase Jalan Supomo, Ini Permintaan Khusus PT KAI

Orde Baru, kisah Soehendro, telah menjadikan  TP sebagai musuh mereka dan menangkap anggota TP yang dinilai berbahaya dan menjebloskannya ke penjara. “Fakta inilah yang harus diluruskan oleh generasi penerus akan hikmah SU empat hari di Solo,”ujarnya.

Kisah Soehendro hanyalah sepenggal kisah dalam renungan SU 4 hari di Solo yang digelar oleh anak eks TP. Acara renungan dihadiri para veteran sipil, militer dan keluarga eks TP di Solo dengan hikmat dan hujan air mata.

Dalam acara renungan juga dibacakan kisah pembentukan TP hingga perjuangan mereka melawan penjajah. Renungan ditutup dengan pemotongan tumpeng dari pelaku sejarah kepada TP generasi penerus.

Ditemui terpisah, Walikota Surakarta FX Hadi Rudyatmo mengatakan, peringatan SU 4 hari di Solo tahun ini memang kurang meriah karena bersamaan dengan Ramadan dan cuti bersama Lebaran.

“Tahun depan peringatan perlu dibuat lebih meriah dengan melibatkan semua siswa.  Yang terpenting kita bisa mengambil hikmah akan perjuangan para pejuang di Solo dalam mengusir penjajah,” ujar Rudy saat ditemui usai siaran pers SU Solo di sebuah stasiun radio, Selasa (6/8) malam. *  Muhammad Ismail

BAGIKAN