Petani Tembakau Harapkan Harga Tinggi

Petani Tembakau Harapkan Harga Tinggi

430
PANEN MENURUN - Dua petani tengah menjemur hasil rajangan tembakau di Desa Solodiran, Manisrenggo, Kamis (29/8). Akibat anomali cuaca, kuantitas panen tembakau di Manisrenggo menurun. Joglosemar/Angga Purnama
PANEN MENURUN – Dua petani tengah menjemur hasil rajangan tembakau di Desa Solodiran, Manisrenggo, Kamis (29/8). Akibat anomali cuaca, kuantitas panen tembakau di Manisrenggo menurun. Joglosemar/Angga Purnama

KLATEN – Akibat anomali cuaca, sejumlah petani tembakau di Klaten sempat alami gagal panen. Meski demikian, petani berharap harga yang tinggi walaupun kuantitas hasil panen mengalami penurunan.

Petani tembakau asal Desa Borangan Kecamatan Manisrenggo, Salip, mengatakan hasil panen tembakau untuk musim tanam tahun ini cenderung menurun. Hal ini merupakan dampak anomali cuaca yang melanda sejumlah daerah beberapa waktu lalu. “Hasilnya tidak melimpah seperti tahun sebelumnya. Cenderung berkurang,” ungkapnya, Rabu (29/8).

Menurutnya, dampak anomali cuaca tersebut sangat terasa di kalangan petani. Bahkan, beberapa petani sempat mengalami gagal panen akibat fenomena alam itu. “Saya tanam tembakau hingga dua kali. Yang pertama sempat gagal, sehingga harus mengulang lagi mulai dari awal,” paparnya. Meski demikian, ia berharap harga panen tembakau tahun ini  cukup tinggi. Dengan demikian, kerugian akibat gagal panen dapat tertutupi.

Baca Juga :  Tjokro Hotel Klaten, Upacara Sembari Mengenalkan Ikon Lurik Klaten

Terpisah, Ketua Koalisi Nasional Penyelamatan Kretek (KNPK) Klaten, Aryanta Sigit Suwanta, memperkirakan harga hasil panen tembakau cenderung tinggi. Hal ini dipengaruhi hasil panen tembakau milik petani cenderung berkualitas baik. “Kualitas panen saat ini cenderung bagus, namun kuantitas hasil menurun karena banyak petani yang gagal panen,” kata pria yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Solodiran, Manisrenggo itu.

Kendati demikian, laba hasil penjualan panen tembakau yang diperoleh petani cenderung menurun. Hal tersebut diakibatkan biaya yang dikeluarkan petani cenderung lebih besar lantaran gagal panen. Adanya anomali cuaca berupa membuat bibit tembakau yang ditanam petani membusuk hingga mati. Akibat kondisi tersebut, petani harus mengulang penanaman tembakau hingga beberapa kali. “Kondisi inilah yang membuat petani harus mengeluarkan biaya yang lebih. Sehingga laba yang didapat cenderung berkurang jika dibandingkan biaya yang sudah dikeluarkan petani untuk modal,” ungkapnya.

Baca Juga :  Tjokro Hotel Klaten, Upacara Sembari Mengenalkan Ikon Lurik Klaten

Sigit menambahkan, saat ini baru sekitar 40 persen petani di Manisrenggo yang panen. Sisanya diperkirakan akan panen pada bulan depan. Sementara, jumlah luasan lahan tanam tembakau di Kabupaten Klaten ada sekitar 329 hektare. “Jumlah ini lebih sedikit jika dibanding luas lahan tanam tembakau pada tahun lalu yang mencapai sekitar 500 hektare. Hal ini disebabkan sebagian petani yang mengalami gagal panen memilih untuk mengistirahatkan lahannya, sehingga capaian panen tidak sebanyak tahun sebelumnya,” paparnya. Angga Purnama

BAGIKAN