JOGLOSEMAR.CO Foto Ribuan Jamaah Iringi Pemakaman KH Salman Dahlawi

Ribuan Jamaah Iringi Pemakaman KH Salman Dahlawi

1127
BAGIKAN
TUTUP USIA - Ribuan jamaah dan pelayat mengantar kepergian KH Salma Dahlawi di kompleks Ponpes Al Manshur, Popongan, Tegalgondo, Wonosari, Rabu (28/8). Joglosemar/Angga Purnama
TUTUP USIA – Ribuan jamaah dan pelayat mengantar kepergian KH Salma Dahlawi di kompleks Ponpes Al Manshur, Popongan, Tegalgondo, Wonosari, Rabu (28/8). Joglosemar/Angga Purnama

KLATEN – Ribuan jamaah dan pelayat mengiringi upacara pemakaman KH Salman Dahlawi di kompleks Pondok Pesantren Al Manshur, Dukuh Popongan, Desa Tegalgondo, Kecamatan Wonosari, Rabu (28/8) siang.

Sebelum prosesi pemakaman, ribuan pelayat secara bergantian juga melakukan salat jenazah sebagai penghormatan terakhir kepada salah satu tokoh Nahdlatul Ulama itu. Bahkan saat prosesi pemakaman dimulai, para pelayat juga terus mendekat untuk melihat secara langsung prosesi pemakaman almarhum.

Kiai karismatik itu wafat tepat pukul 17.45 WIB, Selasa (27/8) pada usia 78 tahun. Ia sempat menjalani perawatan intensif di RSI (Rumah Sakit Islam) Yarsis Surakarta. Almarhum meninggalkan seorang istri dan delapan anak. Menurut KH Muhammad Dian Nafi, Pengasuh Pondok Pesantren Al Muayyad, Windan, Pabelan, Kartosuro, Sukoharjo, Almarhum sempat mengalami gangguan pencernaan sejak 17 Agustus lalu. Sehingga sempat dirawat di RS PKU Muhammadiyah, Delanggu, Klaten. Sehari kemudian, pindah perawatan ke RSI Yarsis Surakarta untuk dirawat intensif. “Pada Selasa (27/8) pukul 12.00 WIB kondisi almarhum semakin menurun,” katanya.

Kedatangan jenazah Mbah Salman, begitu sapaan akrab almarhum di lingkungan Pondok Al Mansyur, disambut kerabat dan sanak keluarga, santri, dan ratusan jamaah. Isak tangis dan duka mendalam tampak terasa, begitu jenazah almarhum tiba di rumah duka.

Mbah Salman dikenal sebagai ulama kharismatik dan merupakan putra tertua dari KH Muhammad Muqri Kafrawi-Masyu’ah. Almarhum mengajar sejak usia 18 tahun. Menurut KH M Dian Nafi, almarhum pernah belajar di Pesantren Al Muayyad, Mangkuyudan, Solo di bawah asuhan KH Ahmad Umar Abdul Manan. Kemudian, melanjutkan mengaji ke Pondok Pesantren Watucongol, Magelang asuhan KH M Dalhar, dan Pesantren Kediri asuhan KH Zainuddin. Ia juga tamatan Madrasah Sunniyah, Keprabon, Solo. “Semasa hidupnya, Mbah Salman merupakan seorang mursyid yang memiliki ratusan ribu jamaah tersebar di berbagai daerah di seluruh Indonesia.

Beliau juga dikenal sebagai kiai yang rendah hati,” ungkapnya. Turut hadir dalam pemakaman Almarhum, Bupati Klaten, Sunarna, beserta Muspida Kabupaten Klaten. Selain itu, hadir pula perwakilan pengurus NU wilayah Jawa Tengah. Angga Purnama