JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Market Rupiah Anjlok, Pesimis Saham Bisa Berkembang

Rupiah Anjlok, Pesimis Saham Bisa Berkembang

240
BAGIKAN
ilustrasi
ilustrasi

Nilai tukar Rupiah yang semakin tergerus lantaran dipicu penguatan kurs dolar Amerika, ikut menekan indeks saham di pasar bebas.

Demikian diungkapkan, pengamat pasar modal, Branch Manager UOB KayHian Securities Solo, Edwin Jayandaru. Saat ini perilaku sejumlah investor asing di lantai bursa perdagangan saham mulai berubah dengan adanya lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar.

Indikasinya, mereka saat ini mulai melakukan aksi profit taking (aksi ambil untung) yang membuat indeks saham berpotensi tergerus dan tertekan. Dengan kondisi ini, Edwin pesimistis, pasar saham mampu berkembang dengan bagus. “Justru, dengan kondisi demikian malah menjadi sulit untuk target pasar pada indeks tahun ini di level 5.000,” ungkap Edwin, Jumat (23/8).

Diungkapkan, kini pergerakan indeks saham masih stagnan dan masih sama dengan kondisi sebelumnya. Pasalnya, jumlah indikator ekonomi yang menyampaikan sentimen negatifnya semakin meningkat dalam kurun waktu bersamaan.

Edwin lantas mengungkapkan lebih detail mengenai pemicu sentimen negatif tersebut. Saat ini, kata dia, perlemahan rupiah, ditambah derasnya aliran keluar dana-dana asing hingga utang-utang luar negeri yang segera jatuh tempo, serta cadangan devisa Indonesia kurang dari 100 juta dolar Amerika serta defisit neraca perdagangan yang semakin membengkak menjadi pemicu utamanya.

Perlemahan rupiah ini, menurut Edwin, membuat kondisi perekonomian nasional menjadi semakin gerah. Hal ini bisa dilihat dari perkembangan bisnis properti mulai jenuh. “Ini belum diperparah adanya kenaikan suku bunga BI rate dan inflasi,” terang Edwin.

Alhasil, dengan situasi ekonomi makro seperti itu, telah memicu subsidi pembiayaan dalam bentuk kurs mata uang asing seperti dolar meningkat pesat.

“Kita kira, nantinya akan ada peningkatan kewaspadaan terhadap kondisi ekonomi di tingkat domestik. Apalagi, kini mayoritas investor asing masih mendominasi kapitalisasi market akan menarik dananya. Ditambah lagi, para corporate yang masih menanggung piutang dalam bentuk dolar bakal berlomba menyetok dolar,” papar Edwin.

Perlu diketahui, dalam indeks perdagangan per Jumat (23/8) IHSG ditutup melemah 4.169,83, turun drastis dari perdagangan Jumat (16/8) 4.568,65.

Sementara itu, Pakar Ekonomi Makro dari Universitas Sebelas Maret (UNS), Lukman Hakim menyatakan, imbas menguatnya dolar terhadap rupiah kini semakin memberatkan sektor keuangan.

Sektor riil, juga semakin terpukul. Bisa jadi, otoritas terkait yaitu Bank Indonesia kaitannya dengan penaikan suku bunga BI rate semakin bereaksi. Apalagi, saat ini posisi BI rate telah mencapai 6,5 persen.  Fariz Fardianto