Sapi Pun Diberi Makan Ketupat dan Minyak Wangi

Sapi Pun Diberi Makan Ketupat dan Minyak Wangi

295
GEMBALA TERNAK- Warga Dukuh Mlambong, Desa Sruni, Kecamatan Musuk menggelar tradisi menggembalakan ternak bersama-sama, Kamis (15/8). Sebelum diarak keliling desa, ternak diberi makan ketupat dan diberi minyak wangi. Joglosemar|Ario Bhawono
GEMBALA TERNAK- Warga Dukuh Mlambong, Desa Sruni, Kecamatan Musuk menggelar tradisi menggembalakan ternak bersama-sama, Kamis (15/8). Sebelum diarak keliling desa, ternak diberi makan ketupat dan diberi minyak wangi. Joglosemar|Ario Bhawono

BOYOLALI – Menyambut Lebaran kupat di awal bulan Syawal, warga lereng Merapi khususnya di Desa Sruni, Kecamatan Musuk masih terus melestarikan tradisi menggembalakan sapi bersama-sama hingga saat ini, Kamis (15/8).

Tradisi unik Bakdo Kupat tersebut dilakukan dengan ritual kenduri bersama-sama di setiap RT saat hari masih pagi. Menu utama kenduri yakni nasi kupat serta sayur lengkap dengan lauk-pauknya. Setelah didoakan, warga yang ikut kenduri langsung menyerbu makanan yang disediakan. Usai kenduri, warga pun kembali ke rumah untuk mengambil ternak mereka yang sudah disiapkan sebelumnya. Ternak-ternak tersebut, utamanya sapi dan kambing, akan diarak bersama-sama warga yang lain keliling kampung.

Sebelum mulai digembalakan dan diarak, setiap ternak oleh empunya, diberi makan hingga kenyang.  Uniknya, ternak tersebut juga diberi makan ketupat buatan warga sendiri. Tak hanya itu, setiap ternak juga diberi kalung untaian ketupat. Bahkan banyak warga yang memberi ternak mereka dengan minyak wangi.

Setelah ternak kenyang dan wangi, warga pun segera membawanya ke sepanjang jalan bergabung dengan warga yang lain. Bersama-sama, warga pun mulai jalak-jalake (menggembalakan) ternak mereka berkeliling desa. Tak pelak, ratusan ternak itu pun serentak mulai memenuhi jalan-jalan di pelosok desa. Sementara warga yang lain, mulai dari anak-anak hingga dewasa menyambut meriah arak-arakan ternak tersebut.

Menurut Zaini (62), salahsatu warga, tradisi ini sudah dilakoni masyarakat secara turun-temurun. Menurutnya tradisi ini melambangkan rasa syukur mereka kepada Allah atas limpahan rejeki melalui hewan-hewan ternak tersebut. “Tradisi ini sudah sejak nenek moyang kami, sebagai lambang rasa syukur,” tutur Zaini.

Sutarno (60), tokoh masyarakat setempat menambahkan, tradisi Bakdo Kupat ini menurut dia selalu dilestarikan dan digelar pada bulan Syawal atau pada H+7 Lebaran Idul Fitri. Selain bentuk  syukur, menurut Zaini tradisi ini juga dilakukan untuk melestarikan budaya nenek
moyang warga yang tinggal di kawasan lereng Merapi itu.

Tradisi ini menurut dia berawal dari kepercayaan setiap hari ke-7 Lebaran, Nabi Sulaiman selalu memeriksa sapi-sapi. Hal ini kemudian yang dicontoh warga dengan menggembalakan sapi ramai-ramai keliling kampung, kemudian menjemur sapi di luar kandang.

“Tradisi ini selain sebagai ungkap syukur, juga bermakna bahwa segala kesalahan itu dimohonkan maaf melalui perwujudan ketupat,” imbuh dia. Ario Bhawono

BAGIKAN