Sejarawan Solo, Soedarmono SU, Tutup Usia

Sejarawan Solo, Soedarmono SU, Tutup Usia

519

Ceria Penuh Gaya Jadi Kenangan Terakhir

Minggu (11/8) pukul 14.35 WIB, sejarawan Soedarmono SU mengembuskan nafas terakhir. Lelaki yang juga juga dosen di Universitas Sebelas Maret (UNS) itu selama ini dikenal gigih memperjuangkan kelestarian benda cagar budaya di Solo.

SUASANA DUKA - Sejumlah keluarga serta kerabat melihat jenazah Allmarhum Sudamono di Rumah Duka Jalan Yosodipura, Solo, Minggu (11/8) malam. Joglosemar/Abdullah Azzam
SUASANA DUKA – Sejumlah keluarga serta kerabat melihat jenazah Allmarhum Sudamono di Rumah Duka Jalan Yosodipura, Solo, Minggu (11/8) malam. Joglosemar/Abdullah Azzam

Sudah sejak awal tahun 2013 ini, Soedarmono berjuang melawan penyakit gula yang semakin parah. Perjuangan itu pun berakhir kemarin. Tri Darmani, istri Soedarmono menceritakan suaminya meninggal dengan sangat halus saat dia menyanyikan lagu rohani Mampirlah Dengar Doaku. Tri bernyanyi di telinga Soedarmono sampai pada bait keempat dan pria yang akrab disapa Pak Dar itu pun pergi untuk selamanya. “Saya seperti diingatkan Tuhan untuk menyanyikan lagu ini. Lagu yang memang memiliki cerita antara saya dan Bapak,” kata Tri kepada Joglosemar, Minggu (11/8) sore.

Wanita yang berprofesi sebagai dokter gigi ini merasa senang karena sebelum Soedarmono meninggal, dia diberikan kenangan yang indah baginya. Pada hari Kamis (8/8), Soedarmono sebenarnya terlihat sehat dan banyak tersenyum. Dia berfoto ria dengan anak-anak penuh gaya. “Pokoknya bapak itu terlihat ceria sekali, pakai kaca mata,” katanya.

Baca Juga :  Rotary Club dan Rotaract Club Sukseskan Vaksinasi MR

Menurut pengakuan Tri, Soedarmono sempat berkata bahwa dia takut mati karena khawatir meninggalkan Tri sendiri. Tri pun menenangkan hati suaminya dan mengatakan bahwa semua harus diserahkan kepada Tuhan. “Nanti anak-anakmu aku yang jaga. Kita harus serahkan semuanya pada Tuhan, jangan takut. Itu yang selalu saya bilang pada Bapak,” kenangnya.

 

Menerima

Menurut anak sulung Soedarmono, Derina Nareswari (33), bapaknya masuk Unit Gawat Darurat (UGS) RS Dr Moewardi sejak Senin (5/8) karena gula darah tinggi, dia pun sempat di rawat di ICU karena pembengkakkan jantung. Hingga Rabu (7/8) sore dinyatakan boleh pulang.

Jumat (9/8) pukul 02.30 Soedarmono kembali di bawa ke RS Dr Moewardi di UGD karena mengeluarkan lendir darah. Saat itu gula darahnya pun drop dan tensi menurun. Akhirnya Jumat (9/8) pria yang dikenal kritis dalam memberikan komentar mengenai kebijakan berkaitan dengan budaya ini koma. Dan Minggu siang, Soedarmono tutup usia.

“Saat bapak koma kita tetap berkomunikasi dengan Bapak. Keluarga melihat Bapak sudah menerima keadaan dan kita pun siap tidak siap harus siap jika Bapak pergi,” ungkapnya. Soedarmono sebenarnya akan memperingati hari kelahirannya ke-64 pada 13 Agustus, besok.

Baca Juga :  Ratusan Siswa Sulap Sawah Kering di Seberang Kampus Unisri Jadi Lautan Merah Putih

Selama ini, Soedarmono di mata anak-anaknya adalah sosok ayah yang hebat dan selalu menamkan kemandirian pada anak. “Bapak adalah sosok yang sangat mencintai anaknya terutama istrinya. Sehingga kami selalu diberi pesan agar kami menjaga ibu,” paparnya.

Sementara itu Kepala Sub Bagian Hukum dan Humas RSUD dr Moewardi, Elysa mengatakan Soedarmono dirawat di RS selama sepekan. Sempat diperbolehkan pulang lantaran keadaan dirasa cukup pulih dan menunjukkan kemajuan. Namun, Jumat (9/8) Soedarmono kembali masuk rumah sakit karena kondisinya kembali memburuk. “Selama sepekan beliau masuk ke Moewardi lantaran kadar gula darah yang tidak stabil, beliau juga mempunyai komplikasi sejumlah penyakit,” katanya.

Jenazah Soedarmono rencananya akan dimakamkan di Astana Kristen Bonoloyo, Senin (12/8) dan diberangkatkan dari rumah duka pukul 12.00 WIB. Rahayu Astrini

BAGIKAN