Soal Pendobrakan Pintu Keraton, Ini Bentuk Perusakan Cagar Budaya

Soal Pendobrakan Pintu Keraton, Ini Bentuk Perusakan Cagar Budaya

399

Ini tidak perlu dilaporkan ke pihak kepolisian, karena aparat pasti sudah bisa melihat bukti-buktinya.” KRMH Satriyo Hadinagoro | Kerabat Keraton Surakarta

MENJEBOL PINTU--Sebuah mobil jip digunakan untuk menjebol pintu Sasono Putro saat berlangsung keributan di Keraton Kasunanan Surakarta, Senin (26/8) malam. Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo
MENJEBOL PINTU–Sebuah mobil jip digunakan untuk menjebol pintu Sasono Putro saat berlangsung keributan di Keraton Kasunanan Surakarta, Senin (26/8) malam. Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo

PASAR KLIWON- Konflik Keraton Surakarta yang berujung pada pendobrakan pintu Sasonoputro, Senin (26/8) malam, telah menyebabkan pintu kayu setinggi lima meter itu rusak di salah satu sisinya. Salah satu kerabat Keraton yakni KRMH Satriyo Hadinagoro, menilai hal itu sebagai bentuk pelanggaran cagar budaya.

“Dan siapa pun yang salah harus ditindak. Karena mereka selalu bertindak dengan menghalalkan segala cara,” ujar Satriyo yang juga suami dari GKR Koes Murtiyah, pimpinan Dewan Adat Keraton ini.

Meski ada perusakan, pihaknya mengaku tak akan melaporkannya kepada pihak berwajib. “Ini tidak perlu dilaporkan ke pihak kepolisian karena aparat kepolisian pasti sudah bisa melihat bukti-buktinya,” tandasnya.

Terpisah, Walikota Surakarta, FX Hadi Rudyatmo menilai konflik berkepanjangan itu belum berakhir, sebab belum ada kesadaran semua pihak di internal keraton untuk bersatu kembali.

Ditemui wartawan seusai pembukaan padat karya penutupan saluran limbah di Kelurahan Pucangsawit, Rudy mengatakan sejauh ini berbagai kalangan sudah mengupayakan agar pihak-pihak di keraton kembali bersatu. Namun semua upaya itu selalu menemui jalan buntu karena belum ada kesadaran yang mendalam dari pihak yang berseteru untuk mengakhiri konflik.

“Seharusnya ada keinginan dari masing-masing pihak untuk menyelesaikan konflik, dilandasi keinginan untuk menyelesaikan dengan sebenar-benarnya. Jangan dikait-kaitkan dengan apapun, termasuk politik. Ini poin pentingnya kalau konflik mau selesai. Selain kalau mau merukunkan yang harus dikawal sampai selesai, bukannya ketika mau jalan malah ditinggal di tengah jalan,” ujar Walikota yang akrab disapa Rudy ini, Senin (26/8).

Ia pun berharap seluruh kerabat segera sadar untuk mengakhiri konflik. Karena selain akan merugikan internal keraton, juga akan berdampak pada peran keraton sebagai ikon budaya. Selain itu dia berharap konflik yang terjadi tidak merusak bangunan, aset, maupun artefak keraton.

“Fisik bangunan keraton sudah memprihatinkan. Kalau terjadi kerusakan nanti malah butuh perbaikan yang makan banyak dana,” kata dia.

Rudy menandaskan, konflik keraton akan berdampak buruk bagi perkembangan wisata di Solo. “Kalau bicara wisata ya tidak lepas dari aset nasional. Artinya kalau ada yang mau ke Solo tapi keratonnya seperti ini, ya  kita jangan bangga jadi wong Solo,” tandasnya.

Atas konflik yang terjadi, pihaknya pun mengaku bersedia menjadi mediator. “Kita belum tahu secara persis tapi ini akan kita mulai dari awal. Keduanya kita pertemukan. Setelah keluar dari ruangan itu, musyawarah mufakat optimis bisa,” imbuhnya. Fariz Fardianto | Arief Setiyanto | Farrah Ikha Riptayani | Detik

BAGIKAN

2 KOMENTAR

  1. Sudah jelas to Pak wal siapa yg salah, siapa yg tdk mau dirukunkan.. Hanya beberapa orang..Wong Raja nya sdh damai, rakyat nya jg sdh mendukung.. Tinggal tugas Bapak/Pemkot mengawal sampai selesai. Tegas menindak dan menghukum pihak yg salah pastinya ya dewan adat hrs dibubarkan.. ! Beres kan!

TINGGALKAN KOMENTAR